Heart For My Sister

Heart For My Sister
Keputusan Viona


__ADS_3

“Apa yang terjadi sebenarnya? Apa benar semua yang di katakan nenek?” Pertanyaan itu Viona ucapkan pada sang suami. Dimana Axel hanya mengangguk tanpa berucap. Pria itu masih berusaha menata kata yang tepat untuk ia ucapkan pada sang istri. Mereka kini berada di kamar sepulang dari kediaman Danish dan Nada.


Viona meletakkan sang anak yang tidur berbaring di box bayinya. Viona melangkah mendekati sang suami. Di tatapnya wajah tampan itu. Dimana Axel terlihat menimbang-nimbang sesuatu.


“Apa yang nenek katakan memang benar, Vio. Tapi jangan terbawa amarah nenek. Dia hanya belum bisa menerima semuanya. Kamu bukan penyebab Tiara meninggal. Kita semua tahu kamu dan kita sama-sama tidak ada yang tahu akan keputusan Tiara.” Viona nampak diam tak merespon ucapan sang suami.


Axel duduk di samping Viona untuk mengusap punggung sang istri dan membawanya ke dalam pelukan. Pelukan yang Viona rasa sangat nyaman saat ini.


Keduanya sama-sama diam hingga Axel membawa tubuh itu berbaring bersamanya di atas ranjang. Kedua mata yang masih tetap saja terbuka.

__ADS_1


“Aku tahu nenek bukan hanya menolak aku karena kepergian melainkan karena masa laluku berasal dari mana.” Viona berkata dengan rasa perih di hatinya.


“Maafkan Nenek. Dia hanya wanita tua yang pikirannya sudah kembali ke anak-anak lagi. Kita semua tahu tentang pertumbuhan yang semakin lama akan kembali seperti anak kecil lagi. Sekarang yang terpenting tunjukkan pada nenek kita tetap baik padanya dan tidak akan menyusahkan nenek dan ibu.” Viona menganggukkan kepala. Ia setuju dengan ucapan sang suami.


“Iya, Kak. Terimakasih sudah mendampingi aku.” ujar Viona mengeratkan pelukan di tubuh pria itu hingga keduanya tidur berpelukan dan Vino juga tidur lelap di dalam box bayi itu.


Sejak hari itu Viona tak lagi mau mendatangi sang ibu. Ia berinisiatif ingin meminta maaf pada sang nenek dahulu. Setidaknya Nada tidak akan bertengkar dengan Yara karena dirinya.


Keduanya nampak sangat harmonis kala Viona terlihat semakin sehat. Wanita itu sedang sibuk berkutat di dapur di temani pelayan. Sebab Lillia sudah kembali ke rumah Anna dan Danny sejak Viona di nyatakan benar-benar sehat oleh dokter.

__ADS_1


“Kak, ayo sarapan. Ini juga ada bekal kue buat kakak bawa ke kantor yah?” Viona menyodorkan bekal yang ia siapkan untuk sang suami.


“Makan siangnya kue yah, Vi?” tanya Axel membuat Viona terkekeh.


“Nanti siang aku akan ke kantor sama Vino bawain kakak makan siang. Ini cuman buat cemilan saja sekalian mau buatin juga untuk Nenek.” ujar Viona dan Axel mengangguk paham.


Mereka sarapan bertiga dengan tenang. Sementara di rumah yang berbeda justru Nada tak berselera makan saat ini. Wanita paruh baya itu selalu memikirkan Viona satu-satu anaknya yang ia miliki saat ini.


“Bu, Viona baik-baik saja. Kita ikuti apa katanya. Biarkan dia menyelesaikan semua dengan Ama setelahnya baru pergi kembali pada kita. Ibu seperti ini bisa membuat Viona semakin sedih.”

__ADS_1


Danish menggenggam tangan sang istri yang duduk hanya mengaduk makanan di depannya.


“Ibu tidak bisa tenang, Ayah. Bagaimana kalau Ama justru berkata kasar pada Viona dan membuat Viona kembali depresi. Kasihan Vino dan Axel.”


__ADS_2