
Viona duduk tenang di ruang kerja sang suami siang ini. Dimana Axel tengah mengobrol bersama klien di ruang kerjanya. Viona anteng duduk di sofa memainkan ponsel. Ia dengan sabar menunggu Axel bekerja. Sementara Vino terpaksa ia titipkan pada Lillia di rumah yang kebetulan Anna juga datang berkunjung. Jika saja ia mendapatkan izin dari Axel mungkin Viona memilih untuk pergi ke tempat nenek seorang diri. Namun, pria itu menekankan akan menemani Viona setelah istirahat siang usai.
Kini Viona pun turut berdiri mengulurkan tangan menjabat tangan klien sang suami dengan ramah.
“Ayo makan siang dulu.” tutur Viona mengajak Axel. Dimana rantangan makan siang sudah ia sediakan untuk Axel.
Axel tersenyum mengangguk. Senang rasanya melihat perubahan sang istri yang semakin membaik. Axel duduk di samping Viona dengan jarak yang sangat minim. Dimana Viona justru merasa gugup berdekatan dengan Axel. Ia menggeser tubuhnya sedikit lalu Axel menarik pinggul Viona agar mendekat padanya.
Pria itu nampak tersenyum mendekati wajah Viona yang tampak merona. Jujur getaran cinta di hati Axel sudah tumbuh sempurna setelah melewati berbagai banyak prahara di pernikahannya ini.
__ADS_1
Rasa cinta yang ia sendiri pun tak sadari kehadirannya kapan.
“Ayo makan siang aku lapar.” Kecil suara Viona terdengar hingga Axel gemas melihatnya.
“Jika aku ingin memakanmu dulu, apa boleh?” Pertanyaan yang bukannya mencairkan suasana justru menambah kecanggungan di diri Viona.
“Oke, ayo makan. Setelah ini jadi kan tempat nenek?” Hanya anggukan kepala yang Viona berikan dan Axel terkekeh dalam hati. Tak heran sebab dirinya menikah dengan gadis yang usianya masih cukup muda di bawahnya.
Entah sadar atau tidak Viona kehilangan kendali dan kini tubuhnya menegang merasakan bibirnya yang tidak ia sadari sudah berada dalam kendali bibir Axel. Kegugupan membuat otak Viona tiba-tiba terhenti begitu saja.
__ADS_1
Tubuh mungil wanita itu kini sudah tertindih oleh tubuh kekar Axel. Sofa panjang kini menjadi saksi bisu perbuatan panas keduanya. Axel sendiri tidak tahu bagaimana semuanya bisa terjadi dan berjalan begitu saja. Hasrat yang menggebu membuat pria itu nampak sulit mengendalikan dirinya.
Napas yang tersengal-sengal pun mengiringi pergulatan keduanya. Dimana satu persatu pakaian milik Viona lepas dari tubuhnya hingga pelepasan pun mereka dapatkan bersamaan. Sungguh wajah merah milik Viona tak bisa lagi ia tahan saat ini. Ia malu membayangkan apa yang baru saja ia lakukan saat ini.
Lemas tentu saja, Viona kesulitan mengimbangi langkahnya saat ingin menuju ke toilet. Dimana Axel segera sigap memapah sang istri. Ia membantu Viona dengan senang hati menuju kamar mandi dengan membawakan pakaian milik Viona.
Keduanya hanya saling diam karena malu sampai meninggalkan kantor dan menuju rumah sang nenek.
Sekedar menatap pun, Viona tak memiliki keberanian. Wajahnya ia buang ke arah samping jendela memperhatikan gedung-gedung tinggi perusahaan ternama. Sementara Axel yang bingung justru menggenggam tangan sang istri dan di kecupnya pelan.
__ADS_1
“Terimakasih, Vio. Terimakasih sudah menjadi istri dan ibu dari anakku.” tuturnya dengan tulus.
Viona hanya menoleh dan menunjukkan senyum kikuknya. Ia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Bahkan perjalanan terasa begitu sangat lama untuk sampai di rumah sang nenek. Meski jarak yang mereka tempuh sebenarnya tidak begitu jauh bahkan perjalanan lancar tanpa hambatan. Namun, sepertinya detak jantung Viona yang terasa terhambat.