Heart For My Sister

Heart For My Sister
Kemarahan Sang Ibu


__ADS_3

"Mau sampai kapan berdiri di situ?" pertanyaan dari Axel sontak membuat wajah Raisa memerah menahan malu. Wanita itu benar-benar pangling dengan ketampanan dari seorang Axel. Sepertinya kata pepatah kali ini salah jika rumput tetangg jauh lebih hijau. Sebab Axel yang telah di tinggalkan Tiara entah pergi kemana justru begitu menawan di mata Raisa. Jika sebelumnya ia tak pernah menatap intens wajah si tampan di sampingnya saat ini, berbeda dengan malam ini. Ia terang-terangan menatap lekat wajah Axel.


Sumpah demi apa pun Raisa terpana dengan ketampanan yang di miliki mantan kekasih temannya itu. Sementara Axel hanya duduk kembali fokus pada tab di tangannya. Memang seperti itulah sikap Axel yang tak suka berbicara pada sembarang orang. Setidaknya kedudukannya malam ini sudah aman untuk makan malam dengan klien tanpa mendapat tawaran dari wanita mana pun. Axel hanya ingin membahas masalah pekerjaan dengan tenang.


Kurang lebih dua puluh menit selama mobil berjalan dari kediaman milik Raisa, pembicaraan mereka sama sekali tak ada. Tentu saja sebagai wanita Raisa merasa aneh dan canggung.


"Xel," panggilnya terdengar begitu dekat.


"Hem?" sahut Axel acuh masih fokus pada kegiatan di depannya.


"Em, Tiara pergi kemana sih? apa kalian benar-benar tidak jadi menikah?" pertanyaan yang ia ingin tanyakan membuat Axel diam saja tak berniat untuk menjawab.


Mendengar Axel yang menikah dengan wanita lain dan bukan Tiara tentu saja Raisa penasaran tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang teman. Setahunya Tiara begitu mencintai Axel dan juga sebaliknya. Lalu mengapa kabar di luar sana justru mengatakan jika Axel bukanlah menikah dengan sang teman.

__ADS_1


Hingga mobil berhenti di salah satu restauran pun Axel masih bungkam tak menjawab pertanyaan dari Raisa. Melihat itu Raisa sedikit kesal namun ia berusaha tenang. Jangan sampai Axel memintanya pulang sebelum waktu makan malam selesai.


"Axel begitu tampan. Kalau Tiara tidak mau rasanya aku pun bisa. Toh aku tidak mengambil kekasihnya. Dia yang meninggalkan Axel. Dan wanita itu pasti hanya di gunakan Axel untuk menutupi malunya batal menikah dengan Tiara, iya benar. Pasti apa yang aku pikirkan benar." gumam Raisa mulai merasa tertarik dengan sosok Axel.


Keduanya pun turun saat sang supir mempersilahkan mereka keluar dari mobil. Axel berjalan berdampingan dengan Raisa tanpa berniat menggenggam tangannya. Melihat keadaan yang ramai, Raisa tak ingin membuang kesempatan begitu saja. Tangannya dengan lincah justru melingkar di lengan Axel.


"Kita harus seperti ini agar tidak terlihat seperti orang sedang bertengkar." bisik wanita itu pada Axel sembari mencuri kesempatan.


Axel pun paham jika ia melepaskan tangan raisa rasanya akan sangat memalukan di depan banyak orag. Akhirnya kedatangan mereka di sambut hangat oleh rekan bisnis Axel. Mereka di persilahkan duduk dan berbincang-bincang sembari menunggu makan malam di sajikan. Sepanjang berbicara, Raisa terus tersenyum memperhatikan Axel yang begitu sangat memukau di matanya kala sedang serius seperti ini.


Sedangkan Viona sendiri yang sudah tiga bulan menjadi istri pria itu sama sekali tak bisa merasakan hatinya jatuh pada pesona yang di miliki oleh Axel.


Di sini Viona tengah berbaring menatap bintang dari dalam kamarnya. Kesunyian begitu terasa di hidupnya semenjak kepergian sang kakak. Viona berpikir harus melakukan apa agar ia bisa sedikit mengusir rasa stress ini. Viona tidak ingin membuat pertumbuhan sang janin terganggu karena pikirannya yang benar-benar membuatnya ingin gila. Sejak kecil hidup dalam pengawasan keluarga dengan begitu ketat membuatnya tak tahu banyak hal tentang lingkungan di luar sana.

__ADS_1


"Kita harus melakukan apa yah, Sayang?" ujar Viona bertanya pada sang anak yang di rahimnya saat ini.


Hingga malam terus beranjak semakin larut, Viona tak sadar jika dirinya telah terlelap dengan nyaman. Sementara di luar sana Axel baru saja pulang setelah mengantar Raisa ke rumahnya. Tak ada hal aneh yang Raisa tunjukkan pada Axel hingga pria itu berpikir jika semuanya aman saja. Axel pun menuju kamar dimana semua kenangan Tiara menyambut kepulangannya. Seperti mendapat pelukan hangat dari sang mantan saat ini, Axel memejamkan mata membayangkan ketika Tiara memeluknya saat bertemu di depan pintu rumah. Gadis cantik itu memang sering menyambut kepulangan Axel di rumah kedua orang tua Axel yang sebelumnya ia tinggali.


Tiba-tiba lamunan pria itu buyar saat dering ponsel terdengar begitu saja. Axel membuka mata dan melihat siapa yang menelponnya di malam seperti ini.


"Ibu," ujar Axel kaget melihat sang ibu yang menelponnya malam begini.


Tak biasanya Anna menghubunginya semalam ini. Belum saja suara Axel terdengar, tiba-tiba Anna di seberang sana sudah mengomeli dirinya.


"Axel, bagaimana mungkin Viona hamil kamu tidak memberi tahu pada ibu? Ibu justru tahu semua ini dari mertuamu. Ya Tuhan Axel, ini adalah cucu pertama di keluarga kita. Kenapa kamu seperti ini, Nak?" Anna di seberang telpon sangat geram pasalnya ia begitu menunggu moment menjadi seorang nenek. Namun, sang anak justru menutupi semua darinya.


"Kan Ibu sedang di luar negeri. Fokuslah dengan kesembuhan ayah." sahut Axel begitu santai terdengar.

__ADS_1


Anna menggeleng tak percaya ia pikir pernikahan ini akan menjadi hal yang paling Axel nantikan dan juga kelahiran buah hatinya. Sebab pernikahan ini pun bukan karena perjodohan. Meski mereka sendiri tidak tahu mengapa Axel justru menikah dengan wanita yang berbeda dari yang ia pacari selama ini.


__ADS_2