Heart For My Sister

Heart For My Sister
Mengetahui Yang Terjadi


__ADS_3

Viona berlari ke luar restauran dengan di kejar oleh Axel. Melihat pemandangan itu Raisa pun tertawa puas, tak hanya itu, ia juga turut berlari mengejar keduanya dan ingin menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya. Hingga di dalam mobil, Viona menangis tak mau membuka pintu untuk Axel. Mobil yang di pakai Viona dengan bantuan pelayan pun melaju menuju vila kembali. Sementara Axel berlari menuju mobil dan melajukan mengejar sang istri. Raisa berdiri memperhatikan pemandangan itu dari arah luar restauran lalu ia tak berniat mengejar. Rasanya sudah bisa di pastikan apa yang terjadi.


Wanita itu pun bergegas kembali ke dalam untuk melanjutkan makan malam yang tertunda.


"Sebentar lagi hasilnya akan aku nikmati. Jika Axel tidak aku dapatkan maka Viona dan Tiara pun juga tidak bisa mendapatkannya." tutur Raisa sembari memotong kuat steak di piringnya.


Dan benar, di villa seperti apa yang di cemaskan oleh kedua orang tua Viona. Wanita itu mengunci pintu kamar tak memberi izin pada Axel untuk masuk.Viona menangis memukul semua yang ada di kamar, semua barang ia lempar hingga suara pecahan-pecahan terus terdengar.


"Viona! Buka pintunya." teriak Axel yang menggedor-gedor pintu namun tak di hiraukan olehh Viona.


Malam yang semakin larut tak membuat Viona lelah, ia menangis berterik. Sakit sungguh sangat sakit menerima kenyataan kehadiran orang yang sangat ia harapkan justru tak akan pernah terjadi. Tiara sudah pergi dengan menyisahkan rasa cintanya pada sang adik melalui jantung yang ia berikan.


"Kak Tiara jahat! Kakak jahat sama aku, Kak!"


"Kenapa kakak lakuin ini, Kak?" teriakan Viona begitu terdengar pilu sampai keluar kamar.

__ADS_1


Axel pun tak kunjung menyerah, pria itu berusaha untuk mengambil alat yang bisa di gunakan untuk mendobrak pintu dan akhirnya pintu terbuka juga. Di lihatnya kamar yang tidak berbentuk lagi saat ini. Viona yang meringkuk di kaki ranjang segera membuat Axel berjongkok dan memeluknya begitu erat.


"Pergi dari sini! Pergi!" teriak Viona susah payah memberontak dari pelukan sang suami. Axel tak memperdulikan ia terus memeluk dan meminta Viona agar tenang.


"Viona, tolong tenanglah. Jangan seperti ini, Viona. Tolong berhenti mengamuk seperti itu. Kakak akan jelaskan semuanya."


"Apa lagi yang mau di jelaskan? Kalian begitu jahat denganku. Semua kalian jahat denganku. Selama ini aku tidak tahu apa-apa tapi kalian memusuhi aku. Itu yang mau Kakak jelaskan ke aku? Iya? Kalian semua jahat. Besok aku mau pulang." Axel menggelengkan kepala mendengar ucapan Viona. Tidak. Mereka tidak boleh pulang. Axel ingin Viona menikmati semua momen indah di sini selama beberapa minggu ke depan.


"Vio, kita bicarakan semuanya dulu dan kau boleh memutuskan untuk pulang setelah nya." Axel pun melepas pelukan saat merasa Vioan tak memiliki tenaga lagi untuk memberontak. Sayang wanita itu hanya berdiri dengan tatapan kosong dan menuju kasur untuk berbaring.


Isakan tangis Viona terdengar begitu pilu di telinga Axel. Pelan pria itu memilih untuk membereskan kamar, takut barang yang pecah bisa melukai kaki sang istri. Membiarkan Viona tenang sendiri mungkin lebih baik. Sebab wanita itu akan terus semakin marah jika dirinya berusaha di dekat dan menjelaskan.


Satu kecupan Axel berikan di kening sang istri yang berkeringat. Di usapnya lembut kepala Viona meski pada akhirnya wanita itu menepis kasar tangan Axel.


"Tenangkan diri dulu, Vio. Kakak akan jelaskan semuanya agar kau tidak salah paham."

__ADS_1


Viona hanya diam. Pikirannya benar-benar penuh dengan semua masalah yang terjadi. Sangat syok tentu saja Viona syok mengetahui sang kakak pergi karena dirinya. Terlebih Raisa sama sekali tidak mengatakan jika Tiara memiliki penyakit. Yang artinya memang karena dirinya lah wanita itu meninggal.


Bayangan perlakuan sang ibu yang begitu dingin padanya, dan juga Axel yang sangat kejam padanya di awal menikah sungguh menyayat hati Viona sekali rasanya.


Satu malaman menangis, Axel tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia hanya terus di kamar mendampingi sang istri tanpa berniat mengatakan apa pun. Besok pagi, rencana Axel memang harus membawa Viona pulang kembali. Mungkin dengan bantuan kedua orang tua Viona, semua akan lebih cepat selesai.


"Iya, Bu. Kami akan pulang pagi ini juga. Ini saya sedang bersiap sembari menunggu Viona bangun." tutur Axel bertelponan dengan ibu mertuanya.


Nada yang mendapat kabar dari Axel pagi-pagi sangat kaget. Benar apa yang di takutkan sejak malam bersama sang suami terjadi juga.


"Yasudah Axel, Ibu dan bapak tunggu di bandara kalian nanti saat sampai. Titip Viona dan calon cucu ibu yah? Jaga mereka baik-baik." panggilan pun berakhir dan Axel melihat Viona yang bangun dari tidurnya.


"Vio, di kamar ada air hangat sudah kakak sediakan mandi..." ucapan Axel menggantung saat wanita itu menuju kamar mandi dan menutup pintu begitu saja. Sama sekali Viona tak menghiraukan ucapan darinya.


Axel hanya diam, wajar saat ini Viona begitu sulit pastinya menerima keadaan. Dimana ketika semua terbongkar justru ia tidak bisa melihat apa-apa lagi, sang kakak sudah di makamkan bahkan dengan jarak yang cukup lama dari sekarang. Itu artinya melihat wajah Tiara untuk terakhir kali pun tidak bisa ia lakukan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2