Heart For My Sister

Heart For My Sister
Hilang Kepercayaan


__ADS_3

Setelah hari kepulangan, Viona pun mengurung diri di kamar tanpa mau bicara pada siapa pun. Bahkan kedua orangtuanya sampai harus ikut tinggal di rumah sang menantu. Axel sama sekali tak keberatan. Justru ia senang sebab sang ibu mertua akan membantunya membujuk Viona makan. Axel yakin, jika dengan dirinya sang istri akan mudah emosi.


Satu minggu sejak kepulangan mereka, Viona nampak semakin kurus. Semangat hidupnya benar-benar kecil. Setiap malam bahkan Axel mendengar Viona mengigau menyebut nama Tiara.


Jelas sakit yang Viona rasakan jauh lebih sakit dari pada mereka semua. Tak hentinya Viona menangis menyalahkan diri sendiri. Seperti yang di takutkan oleh Tiara. Sebab ia tahu benar bagaimana Viona begitu sayang pada sang kakak.


“Vio, ayo makan sedikit saja. Ibu cemas melihat kamu seperti ini…” Nada mengusap rambut sang anak yang berantakan.


Viona berbaring terus menatap kosong ke dinding. Bayangan ia yang di jauhi sang ibu, di maki sang suami semakin membuatnya sakit.


“Kak Tiara, kenapa harus Viona yang rasakan ini?” jeritnya dalam hati.


“Viona, makan yuk. Kamu sudah sangat kurus. Lihat kandungan kamu sangat butuh nutrisi saat ini.” Mendengar sang ibu tak henti membujuk, Viona justru menatap marah.

__ADS_1


“Ibu mau aku makan bukan karena aku dan anakku. Iya kan? Ini karena jantung Kak Tiara ada sama aku. Ibu mau jantung ini kan? Ambil, Bu. Ambil. Viona tidak mau ini.” Keributan tiba-tiba saja terjadi.


“Viona, apa yang kamu katakan? Ibu tidak seperti itu.” Nada kalang kabut saat tangannya di pukul-pukulkan Viona ke dada. Meminta sang ibu untuk mengambil jantungnya.


Nada menangis melihat sikap anaknya yang tak mau melepaskan tangannya.


“Bu? Viona?” Axel lari masuk ke kamar bersama dengan Danish.


Viona menangis dan di peluk oleh sang ayah.


“Viona, Xel. Viona kenapa jadi begitu?” Ia takut jika sampai sang anak kenapa-napa.


“Bu, tenanglah. Viona hanya butuh waktu. Viona baik-baik saja, Bu.” ujar Axel.

__ADS_1


Di kamar Danish pun juga menenangkan sang anak. Satu-satunya orang yang Viona percaya hanya sang ayah.


“Mereka jahat, Ayah. Viona benci mereka. Mereka jahat!” Viona menangis dan Danish mengangguk untuk memberi dukungan sejenak pada anaknya.


“Iya, iya ayah paham. Sudah yah tenang dulu. Viona…” panggil Danish lembut menangkup wajah sang anak dengan kedua tangan.


Viona yang masih sesenggukan kini meminta sang ayah untuk kembali menemaninya ke makam sang kakak. Viona ingin mengunjungi Tiara yang begitu ia rindukan.


Danish yang semula takut jika sang anak kembali pingsan berusaha memberanikan diri. Ia berdua saja pergi ke makam. Meski awalnya Axel ingin ikut, tetapi pria itu melarang.


Saat ini Viona hanya ingin sang ayah yang menurutnya satu-satunya orang berpihak padanya. Tentu saja Viona merasa jika sang ibu dan Axel baik padanya hanya karena ada jantung Tiara di tubuhnya saat ini.


“Jangan buat kakakmu sedih, Viona.” sahut Danish yang membuat Viona diam saja.

__ADS_1


Wanita itu memejamkan mata seolah tengah memeluk sang kakak saat ini. Senyuman cantik di wajah Tiara serta aroma parfum yang masih melekat dalam ingatan Viona begitu membuatnya ingin memeluk tubuh Tiara yang sesungguhnya.


__ADS_2