
Mata sembab dan tatapan sendu terlihat dari pandangan Viona saat ini setelah ia pulang dari makam. Tentu dengan keluarga yang menemaninya. Namun, tidak dengan Silvi. Yang hanya duduk bersantai di ruangan itu tanpa terlihat simpati sama sekali. Gadis yang di utus oleh Yara menggantikan Nada menjaga Viona sepertinya datang dengan perasaan terpaksa. Kalau tidak memandang sang nenek, mungkin ia enggan menuruti permintaan Yara untuk menjaga Viona yang jelas bukanlah siapa-siapanya.
"Nenek, aku ingin pulang." ujar Viona dengan suara lemasnya.
Melihat keberadaan Silvi yang terasa sangat acuh padanya Viona merasa dirinya seperti membebankan banyak orang termasuk Axel dan juga Lillia yang meski dengan suka hati menjaganya. Tetap saja Viona sadar jika menetap di rumah sakit dalam waktu yang lama tentu tak akan enak.
"Kamu akan pulang setelah waktunya. Sekarang istirahatlah, Vio. Jangan berpikir apa pun yang menyebabkan tubuhmu semakin lemas nantinya." tutur Lillia penuh perhatian.
"Iya, Viona. Ibu benar, kamu harus pulihkan tenaga dulu yah? Kasihan anakmu kalau kamu seperti ini terus." ujar Anna yang ikut mendekati ranjang rawat Viona.
__ADS_1
Hari ini mereka merasa sangat senang setelah menjenguk makam Tiara. Viona jauh lebih ada kemajuan dengan mau di ajak berbicara dan merespon cukup baik. Tentu itu semua juga berkat campur tangan Lillia yang terus menasehati Viona selama berada di makam tadi.
Namun, kali ini sepertinya ucapan mereka sia-sia. Viona tetap bersikeras ingin pulang. Ia tidak mau membuat Silvi merasa terbebani yang jelas terlihat dari wajah wanita itu ia tampak kesal ketika di suruh menjaga Viona di rumah sakit.
Jujur Viona sedih melihat semua sikap keluarganya, entah apa salahnya pada mereka semua sejak dulu begitu dingin padanya. Viona masih tidak tahu sampai saat ini siapa dirinya sebenarnya.
Lama membuju-bujuk Viona agar kembali beristirahat tanpa ada hasil, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka saat itu dan memperlihatkan sosok Axel yang pulang saat waktu sudah menunjuk jam tiga sore. Yah sejak keadaan Viona seperti ini ia tidak bisa seperti biasanya di kantor satu hari penuh. Perasaannya yang gelisah membuat pria itu selalu ingin segera pulang.
"Kak, aku ingin pulang..." tuturnya membuat Axel kembali terkejut.
__ADS_1
Pria itu menatap lekat wajah pucat sang istri.
"Viona dari tadi minta pulang, Xel. Dia nggak mau lagi di rawat di rumah sakit." adu Anna pada Axel.
Pria itu pun menghela napas lalu bergegas keluar kembali. "Tunggu sebentar." ujarnya mengusap pucuk kepala sang istri.
Tak lama kemudian pria itu sudah kembali datang dengan dokter yang ikut masuk ke ruangan rawat Viona. Tampaknya ia sudah mengutarakan permintaan sang istri pada dokter.
"Berhubung keadaan Ibu Viona sudah membaik, saya rasa tidak masalah jika harus pulang. Yang terpenting harus masih dalam pengawasan keluarga. Sebab tubuh Ibu Viona belum benar-benar vit apa lagi dalam mengurus bayinya." semua pun mengangguk paham.
__ADS_1
Hari itu juga mereka bersiap pulang, mendengar ucapan dokter tanpa berkata apa pun Silvi langsung beranjak dari duduknya keluar ruangan. Ternyata wanita itu menelpon Yara untuk memberi tahu jika Viona akan pulang maka tugasnya pun selesa.
"Sudah aku duga dia itu pasti baik-baik saja." gumam Yara di seberang telepon terdengar oleh Silvi.