
Firhan berjalan menuju kamar di mana Lillia mengatakan jika ada Axel yang tengah merawat Viona. Firhan dan sang istri pun mengetuk pintu kamar itu. Sontak keadaan hening di dalam kamar menjadi gelabakan ketika tahu ada yang akan segera masuk.
"Untuk apa kau di situ?" ketus Viona bertanya tak seperti biasa yang selalu memanggil kakak pada sang suami.
"Sudah, aku minta maaf. Oke? Jangan sampai mereka tahu keadaan kita." Sedikit tak percaya dengan kata maaf dari bibir Axel.
Maaf untuk apa memangnya? Apa untuk selama tiga bulan ini? Atau maaf hanya untuk kejadian subuh tadi? Atau maaf untuk sesaat mereka harus berbaikan pura-pura di hadapan sang nenek. Viona tak perduli melihat Axel yang duduk di sebelahnya dengan mengusap kepala wanita itu yang tengah berbaring. Ia justru memilih kembali membelakangi tubuh Axel.
"Vi, ayolah bekerja sama denganku." bujuk Axel lagi.
Pria yang bicara dengan Viona kali ini terasa berbeda dari Axel yang biasanya. Viona tak ingin berbesar kepala dulu saat ini. Bisa saja Axel melakukan ini hanya memang karena akting saja. Enggan menuruti kata sang suami, justru Viona memejamkan mata.
Tak lama setelahnya kamar pun terbuka dari luar. Nampak yang pertama kali terlihat adalah wajah Zaniah yang tersenyum pada Axel. Kaget melihat kedatangan opa dan omanya.
"Opa, Oma?" sapanya berdiri memeluk keduanya bergantian.
Sementara Viona sedikit kaget mendengar nama itu. Yang artinya bukan sang nenek yang kembali masuk ke kamar mereka. Rasanya tak sopan jika dirinya harus melanjutkan pura-pura tidur seperti ini. Segera Viona pun berpura-pura mengusap kedua matanya dan menoleh.
"Hei, Viona..." sapaan Zaniah yang langsung mendekati sang cucu menantu itu.
__ADS_1
"Oma," Viona pun juga tersenyum meski ia tak begitu dekat dengan mereka. Jarangnya bertemu membuat Viona sedikit kikuk di hadapan Firhan dan Zaniah.
"Axel, istrimu benar-benar seperti orang penyakit cacing. Kamu apakann Viona? Orang hamil itu harus di bahagiakan. Iya kan, Mas?" tanya Zaniah yang menoleh pada Firhan meminta pembenaran atas ucapannya.
"Di mata Viona benar-benar tidak ada kebahagiaan, Axel jangan sampaii kau menyesal di kemudian hari karena menyia-nyiakan anakmu. Ingat janin itu sedang proses tumbuh kembang, jika semua kebutuhannya tidak terpenuhi itu bisa menyebabkan segala kemungkinan buruk menghambat pertumbuhannya. Segala proses yang tidak di cukupkan kebutuhannya maka hasilnya pun tidak akan sempurna." Firhan nampak berbicara panjang lebar setelah keduanya mendengarkan ucapan Lillia yang melihat kejadian subuh tadi.
Kini mereka semua yakin jika kehidupan Viona dan Axel selama tinggal berdua begitu membuat mereka mudah mengambil langkah yang salah. Tidak seharusnya mereka benar-benar melepaskan pengantin baru ini. Seharusnya mereka sedikit menjadi penasehat agar pernikahan Axel dan Viona lebih tepat untuk melangkah ke depan.
Bukan berarti tidak mandiri. Namun, pernikahan juga tentu akan butuh masukan dari orang-orang yang lebih berpengalaman. Apa lagi mengenai kehamilan yang bisa saja menjadi masalah serius ke depannya. Dan bagi Firhan dan Zaniah perihal anak adalah hal yang sangat berharga. Sebab sampai saat ini pun mereka berdua tidak di karuniai seorang anak. Berbeda dengan Lillia yang justru menghabiskan usianya dengan menikmati hidup bersama anak dan menantunya, Danny dan Anna. Baginya Lillia sudah cukup dengan kisah pahit di kehidupannya yang memiliki anak tanpa seorang suami.
Ia tidak ingin lagi menambah masalah dengan bertemu pria lain memulai kehidupan baru lalu merasakan sakit hati.
"Opa akan atur waktu liburan kalian ke luar negeri selama satu bulan." ucapan Firhan sontak membuat Viona membulatkan matanya sedangkan Axel menatap kaget pada sang opa.
"Opa, pekerjaanku..."
"Tidak ada pekerjaan, Axel. Opa bisa menghandlenya. Besok kalian berangkat." Percuma bagi Axel membantah sebab Firhan tak akan menerimanya.
Beginilah ketegasan Firhan pada Axel jika menyangkut anak dan pernikahan. Baginya cukup sudah ia yang menjalani pernikahan penuh masalah dan kesalahan. Jangan untuk anak atau cucunya.
__ADS_1
Belum saja usai permasalahan dengan Firhan dan Zaniah, rumah kembali di datangi oleh Nada dan Danish. Keduanya memang datang sebab Anna yang memanggil mereka. Rumah nampak semakin ramai dan kini keduanya di antar oleh pelayan menuju kamar di mana semua ada di sana.
Nada dan Danish saling menyapa dengan pelukan hangat pada Lillia, Zaniah, dan Firhan yang lebih tua dari mereka. Melihat kehadiran semuanya, Axel menunduk pusing tiba-tiba. Sedangkan Viona acuh sebab ia tak memiliki salah apa pun dalam hal ini. Dirinya yang menjadi korban di sini.
"Viona..." Danish mendekati sang anak yang nampak begitu pucat saat ini.
Di belakangnya ada sang istri yang memperhatikan keadaan Viona. Lama tak bertemu membuat Nada miris melihat keadaan sang anak yang begitu menyedihkan. Sama halnya dengan tubuhnya sendiri yang juga begitu kurus saat ini.
"Ibu..." Viona mencium punggung tangan sang ibu dan kepalanya yang menunduk mendapat usapan lembut dari Nada.
Mungkin waktu tiga bulan sudah cukup bagi Nada melampiaskan kesedihannya, kini ia sudah merasa sedikit lebih bisa menerima, semua yang hidup pasti akan kembali pada sang kuasa. Seperti Tiara yang sudah lebih dulu menghadap sang pencipta.
"Bagaimana keadaanmu, Vi?" tanya Nada yang terasa seperti menyegarkan di dada Viona yang sesak selama ini.
Akhirnya setelah sekian lama Viona bisa mendengar sang ibu kembali bicara baik lagi padanya. Rasanya begitu menyenangkan bagi Viona. Tak kuasa menjawab, Viona justru memeluk tubuh sang ibu dan meneteskan air mata yang selama ini berusaha ia tahan di hadapan kedua orangtuanya.
Pelukan itu terasa sangat erat bagi Nada. Ia sadar sang anak selama ini sangat menderita dengan sikap mereka yang menjauhi Viona. Nada pun membalas pelukan sang anak dengan mengusap terus rambut Viona yang berantakan. Semua tersenyum melihat Nada yang kembali bersikap hangat pada anaknya, entah apa yang terjadi yang jelas mereka hanya melihat sikap wanita itu begitu dingin pada Viona selama ini.
"Ayo ibu suapi makan lagi. Kamu belum habiskan makannya kan?" Viona nampak mengangguk antusias.
__ADS_1
Axel mengerutkan kening sebab tadi wanita itu meminta berhenti makan karena kenyang. Lalu sekarang justru meminta di suapkan makan lagi.