Heart For My Sister

Heart For My Sister
Kepanikan Axel


__ADS_3

Tak sempat menunggu kepulangan kedua orangtuanya, akhirnya Axel kini sudah bersama Viona di bandara untuk berangkat liburan. Negara tujuannya adalah swiss kali ini. Firhan sengaja memilih negara itu karena keadaan Viona yang hamil muda tentu akan sangat tenang selama ada di sana. Segala keperluan dan fasilitas pun sudah ia siapkan untuk sang cucu. Axel yang tak bisa apa-apa hanya bisa menurut saja.


"Hati-hati yah? Vio, sering-sering kabari Oma. Kita di sini sangat menunggu tubuh kamu yang segar dan perut kamu yang buncit. Jangan sampai nanti hanya perutmu saja yang buncit tubuhmu kurus. Oma akan marah sekali dengan Axel." ujar Zaniah hanya mendapatkan anggukan kepala dari Viona saja.


Berharap semua ini adalah awal yang baik untuk ke duanya, namun tanpa mereka ketahui jika saat ini bukan hanya Axel yang tidak menginginkan pernikahan.Viona justru lebih merasa enggan untuk bersatu dengan pria kejam seperti Axel. Hatinya sudah terlanjur terluka mendengar kata-kata Axel tentang anak yang ia kandung.


Perpisahan pun terjadi saat itu di waktu pagi hari setelah satu malam mereka semua menginap di rumah Axel yang megah. Semalam Zaniah menghabiskan waktunya tidur bersama Lillia. Sementara Firhan justru tidur di sofa sembari menikmati film di televisi.


Hari pertama berada di swiss, Viona memilih berjalan-jalan lalu duduk di tepi danau yang sangat indah di depan villa mereka tinggal saat ini. Vila yang mewah sudah Firhan persiapkan juga dalam waktu satu malam. Axel hanya tinggal membawa tubuh pergi bersama sang istri.


"Kenapa jadi dia yang marah padaku?" gumam Axel menatap Viona dari jendela kaca di villa tempat mereka tinggal saat ini. Pagi-pagi sekali Viona sudah meninggalkan kamar dengan segala keperluan alat melukis di tangannya.

__ADS_1


Sebelum memulai Viona memperhatikan perutnya dulu. "Kita kuat yah, Sayang. Ada waktunya kita akan pergi berdua dan bahagia bersama." penuturan yang terucap begitu saja dari bibir Viona.


Keinginannya benar-benar bulat untuk pergi saat semua orang lengah. Bagaimana pun keluarga bertekad menyatukan dirinya dengan Axel, Viona rasa luka di hatinya tak bisa sembuh. Perlakuan Axel yang merenggut paksa dan kasar kesuciannya masih bisa ia terima selama ini. Sebab itulah memang kewajibannya sebagai seorang istri. Namun, janin yang jelas hasil perbuatan Axel sendiri, justru sempat ia tidak akui bahkan dengan lantangnya pria itu menginginkan kepergian sang calon buah hati.


Ingin menangis rasanya Viona mengingat ucapan pria itu. Entah apa salahnya Viona sebenarnya pada mereka semua? Mengapa sikap kedua orangtuanya dan juga Axel bisa berubah sangat jauh padanya di saat yang bersamaan. Viona benar-benar hidup seolah dengan kemampuan yang tidak bisa melihat dan mendengar. Ia hanya hidup mengikuti arus takdir kemana membawanya.


Lukisan yang menggerakkan tangannya gemulai itu perlahan kembali membentuk wajah seorang wanita yang tanpa Viona pikirkan sudah menampakkan senyum di bibir dan pancaran indah di kedua matanya. Dia adalah Tiara, sang kakak yang sangat Viona rindukan. Sembari terus melanjutkan kuas itu, air mata Viona berjatuhan. Entah mengapa ia merasa benar-benar kehilangan sosok kakak yang begitu perduli dan memanjakannya.


"Tapi kak, apa artinya lukisan ini kalau aku saja tidak sekolah tinggi." Mendengar ucapan sang adik yang begitu menyedihkan membuat Tiara tak patah semangat untuk membuat sang adik gigih belajar terus.


Di usapnya kepala Viona sembari Tiara tersenyum tulus. "Sekolah tinggi itu memang penting untuk menunjang karir kita. Tapi kan kemampuan kamu sudah sangat baik, sekolah bisa di susul kapan pun kamu mau kok. Yang terpenting kepuasan setiap orang melihat hasil karya kita. Banyak kok orang sukses tanpa sekolah tinggi. Tapi, ada tapinya...memang semua itu akan lebih imbang jika kita sekolah tinggi. Agar lingkungan kita juga semakin luas dan wawasan kita juga banyak. Semua itu penting, tergantung dari keadaan kita saja. Semangat terus yah?"

__ADS_1


Itulah kata-kata dukungan dari sang kakak yang Viona ingat sekali. Tanpa sadar tangannya telah berhenti bergerak saat ini kala Viona merasa lukisannya telah usai.


"Viona!" Suara lantang itu membuat Viona terlonjak kaget mendengarnya. Ia membuang pandangan ke arah lain lagi saat melihat siapa yang datang.


"Hei apa yang kau lakukan?" Viona memekik kaget kala tubuhnya di gendong cepat oleh Axel.


Pria itu nampak begitu kaget, hingga mereka tiba di kamar, Viona di baringkan di kasur. Axel ketakutan saat ini sedangkan Viona baru sadar ketika tangannya mengusap bawah hidup yang terasa dingin ternyata ada darah yang keluar dari sana. Sama, Viona pun juga merasa takut luar biasa saat ini namun berusaha ia sembunyikan.


Wajah wanita itu mendadak sedih melihat darah yang mengalir di hidungnya. Kedua mata Viona nampak berkaca-kaca merasa ada kekecawaan yang teramat sangat ia rasakan saat ini. Tiga bulan sudah ia tenang terbebas dari penyakit mematikan itu, namun kini ia kembali merasakan ketegangan kembali.


"Tenanglah. Oke? Dokter segera tiba." ujar Axel yang langsung menghubungi dokter.

__ADS_1


Pria itu panik luar biasa, ia bergerak cepat mengambilkan kain untuk membersihkan darah di hidung Viona.


__ADS_2