
Pesawat yang menemani perjalanan Viona dan Axel akhirnya mendarat sempurna di salah satu bandara International Indonesia. Tak menghiraukan barang lagi, wanita itu berjalan cepat menuju keluar bandara. Sementara Axel menyusul dan meminta anak buah yang menjemputnya mengurus barang mereka.
“Viona! Tunggu, Viona!” Panggil pria itu meraih tangan sang istri.
“Lepaskan tanganku!” sentak Viona yang tidak nyaring namun terdengar jelas oleh Axel.
“Vio, tenang. Ingat anak kita.” Axel berusaha bicara lembut seraya melepaskan tangannya dari tangan sang istri.
Viona tak bisa lagi bersabar atau pun tenang. Saat ini juga ia harus melihat makam sang kakak untuk meyakinkan semua ini adalah benar.
“Viona!”
“Ibu!” Viona menangis pecah di pelukan sang ibu. Ia tak lagi menghiraukan tatapan orang sekeliling padanya saat ini.
__ADS_1
Melihat sang istri yang semakin tak bisa di kendalikan, Axel segera menggiring mereka ke arah mobil. Sesuai dengan keinginan Viona untuk melihat makam sang kakak. Axel pun sepanjang jalan hanya bisa diam membiarkan sang ibu mertua yang akan menenangkan sang istri.
Dan benar saja saat tiba di pemakaman, Viona menelungkupkan tubuhnya di atas pusara sang kakak. Ia menangis seolah tengah memeluk tubuh Tiara.
“Kak Tiara nggak boleh pergi, Kak. Kakak jahat sama aku. Kakak kembali, Kak. Viona mohon. Kembali Kak Tiara.” Semua pun ikut menangis mendengar suara menyayat hati dari Viona.
Sungguh kesedihan mendalam kala tak bisa melihat orang yang sangat di cintai untuk terakhir kalinya.
Nada pun memeluk bahu sang anak lalu mengusap air mata Viona.
Matanya berair menatap nisan di depannya. Rasanya begitu sulit percaya ini semua kenyataan. Hingga akhirnya kurang dari lima belas menit ia menangis, Viona menghilangkan suara dan bersamaan dengan kedua mata yang tertutup saat itu juga.
“Viona!”
__ADS_1
“Viona!” Teriakan bersahutan melihat Viona jatuh menelungkupkan tubuhnya di tanah hingga tak lagi sadar.
Danish meraih tubuh sang istri untuk bangun, sementara Axel sudah menggendong sang istri yang bajunya nampak kotor oleh tanah dan bunga.
Hal yang mereka takutkan benar-benar terjadi, Viona sangat terpukul dengan kebenaran yang ada.
“Maafkan aku, Ra. Aku gagal menjaga amanahmu.” sesal Axel dalam hatinya saat menggendong sang istri menuju ke mobil.
Hari itu mereka memutuskan untuk membawa Viona pulang ke rumah. Tentu pingsan bukanlah hal yang serius. Dan mereka tahu penyebabnya. Hingga tak membutuhkan rumah sakit untuk saat ini.
Sementara hal yang menjengkelkan terjadi di villa. Raisa marah-marah saat baru mengetahui jika Axel telah pulang sejak lama. Keasikan berlibur menyenangkan diri membuatnya lupa jika harus mengetahui apa yang terjadi dengan Viona dan Axel.
“Sialan! Axel dan Viona sialan. Lihat kalian akan ku hancurkan ketika aku tiba di Indonesia. Kalian benar-benar tidak memiliki hati padaku!” Ia berteriak marah menendang pintu vila yang kosong itu. Pelayan yang baru bertemu dengannya sudah pergi untuk pulang.
__ADS_1
Saat itu juga Raisa pun mengurus keberangkatan yang ternyata esok hari baru bisa di lakukan.
Banyak rencana yang sudah ia susun setibanya di Indonesia. Intinya hubungan Axel dengan Viona tak boleh bersatu dan harus pisah. Sebab dirinya lah yang lebih berhak atas Axel. Tiara sudah kalah darinya.