
Di tengah kesibukan Axel, Viona hanya diam dan pasrah. Matanya menjatuhkan air mata menyerah dengan semua takdir Tuhan padanya. Kalau boleh ia ingin sekali berteriak kencang saat ini. Janin di perutnya bahkan masih sedang berjuang untuk tumbuh, bagaimana mungkin Tuhan memberinya kesempatan bernapas lega hanya dalam waktu tiga bulan. Baru saja rasanya Viona sangat senang kini ia harus kembali memikirkan perjuangan hidupnya.
Axel yang membersihkan darah di hidung sang istri melihat air mata Viona jatuh berderai di pipi pucatnya.
"Viona, semua baik-baik saja. Oke?" ujar Axel yang meraih tubuh Viona dan memeluknya erat. Jujur saat ini Axel merasa sangat takut. Takut jika Viona kembali sakit dan menderita penyakit seperti sebelumnya. Segala pikiran buruk saat ini membuat Axel tak bisa berpikir tenang.
"Aku mohon jaga adikku, Viona untukku, Axel." kembali ucapan pesan Tiara terbayang di kepala pria tampan itu.
Viona saat ini bisa merasakan degup jantung sang suami yang tak beraturan saat memeluk kepalanya. Axel berbaring memeluknya cukup lama. Ia berusaha menenangkan Viona dan juga dirinya.
__ADS_1
"Kau boleh membenciku, Kak. Tanpa aku tahu sebabnya..."
"Sssst tidak, Vi. Tidak ada yang membencimu. Ku mohon jangan mengatakan apa pun. Aku salah. Aku benar-benar salah." Axel nampak sangat panik.
Sementara Viona sudah jauh lebih pasrah, sebab apa pun yang ia inginkan saat ini mungkin akan terasa mustahil baginya. Usianya bisa di ambil Tuhan kapan pun.
"Usahakan anak kita akan selamat, Kak. Aku mohon rawat dia dengan baik. Aku tidak apa jika harus pergi. Anak kita tidak salah sama sekali." Viona menangis dan Axel mengeratkan pelukannya. Ini salahnya selama ini, Axel benar-benar tidak bisa membayangkan jika ia hidup bersama sang anak kelak tanpa seorang istri.
"idak ada yang akan pergi, Vi. Kamu akan baik-baik saja. Maafkan aku, kita akan menjaga anak kita bersama sampai tua. Oke? Tenanglah jangan berpikir hal buruk. Semua baik-baik saja." Mata Axel bahkan memerah saat ini.
__ADS_1
Ketegangan di kamar itu sirna kala suara ketukan di luar kamar terdengar nyaring. Axel lantas bangkit dan membuka pintunya. Nampak seorang pelayan datang dengan dokter yang ia antar.
"Dok, tolong istri saya di periksa atau di berikan obat apa pun untuk menahan tubuhnya. Kita langsung ke rumah sakit setelah ini." ujar Axel yang takut jika langsung membawa Viona ke rumah sakit akan salah penanganan selama di jalan. Ia memutuskan untuk meminta dokter memberikan penanganan pertama dan saat itu dokter hanya memeriksa tubuh Viona lalu membersihkan sisa darah. Mengandung janin membuat dokter tidak bisa asal memberikan obat. Dan Viona harus di lakukan pemeriksaan keseluruhan karena mengingat riwayat penyakit yang ia pernah derita sebelumnya.
Selama di perjalanan Axel tak henti-hentinya mengecup punggung tangan Viona. Meski sang istri hanya menatap ke arah jalan yang nampak luas dan bersih. Ia enggan berbicara apa pun saat ini, Viona hanya ingin menenangkan diri demi sang anak. Kalau pun harus kembali menderita penyakit itu, Viona sudah mantap untuk tetap mempertahankan sang calon bayi. Tak ada jika dirinya yang akan berkorban saat ini.
Setidaknya ada sang kakak yang bisa ia harapkan untuk menjadi ibu pengganti anaknya kelak. Viona yakin pilihannya tidaklah salah, dan takdir tidak akan menukar jodoh dimana seharusnya Tiara dan Axel yang bersatu bukan dirinya dengan Axel.
Meski perih terasa, Viona hanya menjerit dalam hati tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
__ADS_1
Merasa tangan Axel bergerak meraih ponsel, buru-buru Viona menoleh pada sang suami yang duduk di sampingnya dan mengatakan, "Jangan dulu beri tahu siapa pun. Biarkan kita pulang lebih dulu." Axel pun urung melakukannya.
Meski sejujurnya ia takut bukan main saat ini. Axel berusaha berpikir positif sepanjang jalan semoga semua baik-baik saja.