Heart For My Sister

Heart For My Sister
Ketegangan Terjadi


__ADS_3

“Kamu sadarkan siapa yang membuat kamu kehilangan Tiara?” Nada terperanjat kaget saat mendengar suara sang ama di dekatnya. Buru-buru ia merubah raut wajah sedihnya menjadi datar. Nada berdiri melihat sang ama sudah berjalan semakin dekat dengannya. Entah dari mana wanita tua itu tahu keberadaannya. Mungkin dari supir, pikir Nada kembali menjawab pertanyaannya sendiri.


Yara berjalan dan berdiri menunduk mengusap nisa sang cucu. Tiap kali mengingat Tiara rasanya wanita tua itu semakin membenci Viona. Dan kali ini ia kembali datang menemui Nada tentu karena adanya tujuan.


“Jika ibumu tidak bisa menjauh darinya, maka Ama yang akan melakukan itu pada ibumu. Hati ama hancur Tiara, kau pergi tanpa pamit pada ama.” Yara nampak berkaca-kaca saat mengatakan itu pada kuburan di depannya.


Ia begitu sedih melihat cucu kesayangannya bisa pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun. Bahkan di detik hari terakhir Tiara masih bernapas pun ia tidak ada di sisinya. Nada bersalah dalam hal ini sebab merahasiakan penyakit sang anak dari ibunya.


“Ama, tolong jangan seperti ini. Viona sedang sakit. Dia tidak bersalah sama sekali, Ama.” Nada memohon kala melihat sang ibu yang begitu keras.

__ADS_1


Lama keduanya berdebat di makam Tiara, hingga akhirnya Nada memilih meninggalkan sang ibu. Ia tidak ingin mendengarkan pertengkaran mulut itu dengan sang anak yang seharusnya sudah tenang di sana.


“Nada!” Ama berteriak memanggil sang anak yang kian menjauh.


Nada meninggalkan wanita itu dengan menaiki mobil setelah melihat ada sang ayah yang berdiri di samping mobil menunggu ibunya. Nada tahu pria tua itu tidak akan banyak mau ikut campur dengan masalah mereka. Sayang justru sang ibulah yang terlalu mencampuri semuanya.


Tak berhenti sampai di situ saja ternyata. Yara justru mendesak sang suami untuk menyusul Nada pulang ke rumahnya. Ia tak perduli jika sepanjang jalan itu sang suami terus menasehatinya. Sungguh, Eko benar tak bisa berlaku kasar pada sang istri. Ia hanya terus menasehati terkadang berbicara dengan nada sedikit keras.


“Pak, tolong lajukan lagi mobilnya.” pintah wanita paruh baya itu kala menoleh ke belakang dimana sang ibu sudah ikut menyusulnya.

__ADS_1


Kepanikan semakin melanda kala Nada membaca kembali isi pesan di ponsel itu.


“Tuhan…Vio, kenapa harus ke rumah sih, Nak? Bagaimana ibu menghalangi ini semua?” Nada bergumam dengan mata sedihnya.


Bayangan akan Viona yang kembali depresi membuatnya takut sekali. Kemarahan sang ibu sampai saat ini belum bisa ia redamkan sama sekali.


“Ama, sudah cukup. Kita terlalu jauh ikut campur dalam rumah tangga mereka. Jika orangtuaku ikut campur, bagaimana perasaan Ama? Bahkan mereka komentar soal warna rumah, Ama sudah semarah apa dengan ku?” Pertanyaan itu di lontarkan oleh Eko kala mengingat masa dimana mereka baru menikah.


Yara marah sekali setiap sang mertua datang ke rumah dan ikut campur masalah penataan rumah. Hingga membuat mereka akhirnya memilih keluar kota hidup sendiri.

__ADS_1


“Itu beda cerita. Pokoknya tidak ada pengampunan untuk Viona. Ama selama ini diam saja tidak pernah ikut campur. Tapi, diamnya ama justru membuat semuanya hancur dan Tiara pergi untuk selamanya.”


__ADS_2