
“Vio, jangan berlarian.” Axel mengejar sang istri berusaha menjaga agar Viona tidak terjatuh. Ia takut jika wanita itu sampai kelelahan. Namun, Viona yang sangat senang bisa bermain di salju saat itu nampak lupa dengan usianya. Ia berlari kesana kemari mengambil foto dirinya dengan salju berbentuk istana yang indah. Kecantikan Viona tanpa sadar membuat Axel menyunggingkan senyum kecil, hingga kini hubungan keduanya masih saja belum berbaikan.
Tak masalah, sebab liburan mereka masih cukup panjang. Axel diam-diam memotret sang istri dari kejauhan. Viona yang terus tertawa sama sekali menganggap dirinya sedang sendiri.
Axel tahu sang istri sedang tak ingin di ganggu. Ia pun bernisiatif menjaga dari jauh saja. Lama mereka menghabiskan waktu di sana hingga akhirnya Viona kembali ke tempat Axel berdiri.
“Ayo pulang aku lapar.” Salju yang berbentuk istana pun sudah nampak mulai runtuh saat itu.
Mereka beranjak meninggalkan lokasi tersebut menuju kota dimana Axel akan membawa Viona menikmati suasana luar negeri. Beruntung Viona pun merasa senang sebab ia tak ingin segera kembali ke villa dimana ada Raisa yang membuat Viona kesal.
“Sampai kapan dia di sana?” Pertanyaan Viona membuat Axel menoleh ke samping.
“Raisa?” tanya Axel dan Viona hanya diam pertanda benar.
“Secepatnya kita harus memintanya pergi.” sahut Axel dengan tenang.
Mobil yang berjalan perlahan mulai memasuki kota dimana banyak sekali menyuguhkan kuliner khas luar negeri. Beberapa kali Viona nampak meneguk kasar salivahnya. Namun, ia enggan berkata pada Axel. Lebih ke rasa gengsi saat ini, sekali pun lidahnya ingin sekali mencicipi semua makan yang ia lihat di pinggir jalan. Restauran banyak sekali berjajar di kiri dan kanan.
“Aduh aku ingin sekali makan itu. Tapi, bagaimana caranya agar mobil berhenti?” gumam Viona berpikir keras.
__ADS_1
Meminta mobil berhenti lalu ia pergi sendiri rasanya juga tidak mungkin, Viona tidak bisa bahasa inggris dan uang? Ia pun tak memiliki uang sama sekali.
Sesekali ia menoleh menatap wajah Axel, dan ketika pria itu menoleh padanya Viona langsung membuang muka.
Di pangkuannya, kedua tangan saling menghitung demi memastikan akan mengatakan atau tidak pada Axel.
“Bilang? Enggak? Bilang? Enggak. Bilang? Enggak. Aduh yang mana dong? Gimana kalau Axel malah marah lagi?” gumam Viona menerka-nerka dalam hatinya.
“Ada apa, Vio? Mau buang air kecil?” sahut Axel ketika melihat wanita di sampingnya begitu gelisah bukan main. Namun, Viona hanya menggelengkan kepala saja.
Hingga keheningan terus saja berlangsung sampai pada akhirnya Viona benar-benar tak tahan lagi.
“Beli apa, Viona?” tanya Axel yang justru mengusap kepala wanita itu. Jauh dari perkiraan Viona dimana sang suami akan marah padanya.
Viona yang menunduk memberanikan diri mengangkat kepala setelah mendengar suara lembut Axel.
“Yang tadi sudah kita lewati banyak orang itu. Restauran makanan yang mie semuanya.” jawab Viona takut-takut.
“Putar balik, Pak.” pintah Axel pada sang supir.
__ADS_1
Viona menghela napas lega sembari meneguk salivahnya tak sabar menikmati makanan yang sering ia lihat di televisi luar negeri.
Setibanya mereka di restauran, Viona kembali di buat bingung melihat menu di depannya.
“Mau yang mana?” tanya Axel lagi.
“Ini, tapi jangan di kasih cabe sama jangan di campur sayur yang ini.” Pria tampan itu berbicara dengan pelayan menyebutkan apa saja yang tidak ingin Viona dapatkan dari makanan tersebut.
“Sudah, sabar yah?” ujar Axel yang membuat Viona heran.
“Kenapa tidak pesan juga?” tanya Viona melihat Axel tak menyebutkan apa yang ingin ia pesan.
“Aku tidak memakan makanan seperti ini, Vio. Tapi karena kamu ngidam it’s oke. Tidak masalah. Selanjutnya jangan makan seperti ini lagi.” Sederhana namun terdengar begitu perhatian di telinga Viona.
Ia hanya diam mendengar ucapan sang suami yang entah apa maksudnya. Apa Axel benar-benar akan merubah hubungan mereka menjadi suami istri yang sesungguhnya? Atau karena ada sebabnya saja seperti ini.
Di Villa, Raisa nampak gelisah menunggu kepulangan Axel. Bahkan sudah empat kali ia menghubungi Axel namun tak juga mendapatkan jawaban. Kesal, tentu saja sangat kesal. Kemana perginya mereka meninggalkan Raisa seorang diri.
“Argh! Kemana sih?” amuknya mengacak rambut. Padahal sejak tadi Raisa sudah mandi dan berpenampilan begitu menarik. Sebuah lingerie merah maroon telah melekat di tubuh sintalnya saat ini.
__ADS_1
Empat jam berikutnya akhirnya yang di tunggu pun tiba. Sebuah mobil terparkir di depan villa dengan Axel yang membawa banyak belanjaan yang di beli oleh Viona. Setelah makan tadi ia membawa sang istri untuk membeli apa pun yang Viona inginkan. Demi menyenangkan hati sang istri dan juga mengakrabkan diri, Axel sama sekali tak menghitung biaya yang ia keluarkan untuk Viona.