
Sudah dua minggu waktu berlalu, Viona sudah nampak aktif di dapur meski ia masih saja diam. Hanya berbicara seperlunya saja. Bahkan Axel pun masih tak berani mendekati sang istri ketika sadar. Rindunya hanya bisa ia lepas setiap kali Viona terlelap dengan memeluk dan mencium, yah memang hanya sebatas itu saja. Setidaknya terapi untuk sang istri setiap dua minggu sekali masih terus berjalan saat ini. Hingga pagi ini kedatangan Nada yang baru menampakkan wajah membuat Viona menatap dengan tatapan dingin. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Ibu, ayo masuk." pintah Axel ketika ia hendak berangkat kerja di antar oleh Viona yang menggendong sang anak.
Nada ragu untuk mendekati Viona, sudah jelas dari tatapan itu Viona terlihat begitu marah. Tak bisa menyalahkan, sebab dirinya memang tidak datang mengunjung semenjak dari rumah sakit terakhir kali. Mungkin wajar jika Viona yang keadaannya belum pulih semakin berpikir buruk pada kedua orangtuanya.
"Viona..." lirih Nada berusaha mendekat ingin meminta maaf namun ia begitu terkejut saat tangannya justru di tarik mendekat ke tubuh itu. Viona memeluknya sangat erat.
__ADS_1
Ia begitu merindukan sang ibu selama ini tanpa ada yang tahu. Axel terdiam aku melihat aksi sang istri yang sangat di luar dugaan. Sedangkan Lillia dari dalam nampak tersenyum. Ternyata nasihatnya selama ini bisa masuk ke dalam pikiran Viona juga. Nada dengan ragu-ragu membalas pelukan sang anak. Jujur perasaannya terasa campur aduk saat ini. Senang dan takut ia rasakan di saat yang bersamaan. Pasalnya kepulangan Ama ke rumahnya bersama sang suami dengan sebuah ancaman yang di lontarkan pada Nada.
"Ingat, Nada. Ama akan sangat murka jika sampai tahu kalian datang menjenguk anak pembawa sial itu! Dia sudah membuat cucu Ama memilih pergi selama-lamanya. Ama tidak akan beri toleransi pada Viona."
Itulah yang di takutkan Nada. Namun, kerinduannya pada Viona tak bisa terbendung lagi dan Nada meminta sang suami untuk mengantarnya sebentar menjenguk Nada.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Nada dengan berusaha tenang meski sejujurnya ia ragu. Melihat Viona menatapnya kembali tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu. Aku sama sekali tidak ingin ini semua terjadi. Kak Tiara begitu aku sayangi lebih dari diriku sendiri. Aku tidak ada niat untuk membuat Kak Tiara pergi. Andai waktu bisa di putar kembali aku memilih akulah yang pergi dari pada harus Kak Tiara yang meninggalkan aku. Aku tanpa Kak Tiara sungguh tak bisa melakukan apa pun. Aku hanya adik yang begitu manja." Sepanjang Viona berucap hal itu, Nada terus menggelengkan kepala menolak semua isi pikiran Viona.
Tangan wanita paruh baya itu tampak mengurai rambut panjang Viona dan menatapnya penuh luka. Air matanya bahkan jatuh saat itu juga.
"Ini semua bukan pilihan, Vio. Ini semua adalah garis takdir yang Tuhan berikan pada kalian dan kita semua. Tidak ada yang salah, jika ada yang di salahkan itu adalah Ibu. Ibu yang tega menghakimi kamu atas semua yang terjadi. Maafkan ibu yah..." Viona memeluk sang ibu kembali.
Sungguh Danish rasanya senang melihat sang anak kembali bisa di ajak berbicara. Begitu pula dengan Axel yang menatap sendu sang istri. Berharap semuanya segera membaik dengan keadaan Viona yang jauh lebih tenang setelah sekian bulan menderita.
__ADS_1