
Sore menjelang malam, Danish baru pulang dari kantor. Pria itu di sambut seperti biasa oleh sang istri, Nada memeluknya menumpahkan rasa rindunya pada mendiang anak yang tak lagi bisa ia lihat saat ini. Sedih yang berlarut-larut membuat Nada kurus dan pucat. Tubuhnya tak lagi segar seperti dulu. Wajah cantiknya tampak jauh lebih tua saat ini. Danish membalas pelukan sang istri dan mengusap lengannya lembut. Ia membawa sang istri masuk ke dalam rumah dan menuju kamar.
Ingin menceritakan semua yang ia dapat hari ini, tetapi Danish justru memilih mandi agar lebih tenang pikirannya.
Dan di sinilah ia saat ini, ruang televisi bersama sang istri.
“Bu,” panggilnya hati-hati.
Nada hanya menoleh menatapnya. “Ada kabar baik, Viona sudah hamil saat ini. Tadi siang dia ke perusahaan bawakan ayah makan siang. Dan sekaligus melihatkan hasil tesnya.” Danish tersenyum mengatakan pada sang istri.
Perlahan pria itu mulai bisa berdamai dengan keadaan. Namun, ketika melihat ekspresi dari Nada sang istri, Danish pun menghilangkan senyumannya lagi.
Entah ia harus bahagia juga atau bagaimana? Yang jelas Nada tak bisa mengekspresikan apa pun saat ini.
“Bu, Tiara sudah tenang di sana. Sekarang anak kita tersisa Viona saja. Tadi ayah melihat Viona sangat miris, Bu. Tubuhnya begitu kurus wajahnya sudah seperti mayat hidup. Ayah takut jika Viona tertekan karena sikap kita, bisa-bisa penyakit lain yang datang hinggap di tubuhnya.” ujarnya berusaha menyampaikan kekhawatiran pada sang anak.
Bukannya mendengarkan ucapan sang suami, Nada justru meninggalkan Danish dan menangis di kamar. Bukan maunya seperti ini, tapi mengapa sulit sekali untuk Nada bisa menerima semua nasib ini. Ia benar-benar merasakan jiwanya telah mati bersama perginya sang anak.
Di sini Danish menghela napas kasar. Bagaimana mungkin dirinya bisa merubah pikiran sang istri. Viona sangat butuh dukungan di masa hamil seperti ini jangan sampai ia stress dan berakibat pada janinnya mengalami gangguan. Cukup sudah Viona yang lahir dengan penyakit menakutkan dan Tiara yang pergi dengan penyakit lebih menakutkan lagi. Jangan sampai sang cucu juga menghabiskan usia dengan beban yang sang ibu rasakan saat kehamilannya.
Melihat waktu jam makan malam belum dekat, Danish memilih meminta izin pada sang istri untuk pergi keluar sebentar. Nada sama sekali tak menjawab ucapan sang suami. Ia memilih merebahkan tubuh di atas kasur. Sementara Danish justru melajukan mobil dengan supir yang mengantarnya. Malam ini ia akan mengunjungi kediaman Axel.
Tak butuh waktu lama mobil pun tiba, namun Danish tampak terkejut saat melihat mobil Axel yang juga baru tiba. Beruntung malam ini pria itu pulang ke rumah di jam yang masih awal. Tidak seperti biasa Axel akan pulang ketika waktu hampir pagi.
“Ayah,” sapaan Axel di sambut dengan pelukan hangat dari Danish.
Hubungan mereka memang sudah sedekat itu sejak Axel bersama dengan Tiara sebelumnya. Danish mengerutkan kening saat melihat Axel gugup. Pria itu baru turun dari mobil dan menoleh ke dalam rumah. Tak ada sosok yang ia cari saat ini.
__ADS_1
“Viona ada, Xel?” tanya Danish dan membuat Axel mengangguk sembari tersenyum.
“Iya ada di dalam, Ayah. Ayo masuk.” Ia melangkah bersama dengan Danish.
Salah satu pelayan nampak mengerti akan perintah Axel sebelum sang tuan mudanya duduk bersama pria paruh baya yang mereka tahu itu adalah orangtua Viona dan Tiara.
“Nyonya, di luar ada ayah anda datang.” Suara pelayan membuat Viona sukses terkejut. Ia bangkit dari pembaringan dan menatap pelayan di depannya dengan intens.
“Bibi tidak salah melihat?” Viona berwajah sumringah mendengar jika sang ayah datang malam ini. Segera ia pun memastikan dirinya tampil baik dan keluar dari kamar di bantu oleh pelayan yang menata rambutnya dengan sisir.
Benar, di depan sana dua pria tampak duduk berdampingan bercerita dengan wajah tersenyum. Kini Viona baru pertama kalinya melihat pria yang sudah menjadi suaminya kembali tersenyum setelah kepergian sang kakak yang entah kemana.
“Ayah?” sapa Viona mendekati Danish.
“Vio…” Danish berdiri menerima ciuman di punggung tangannya. Viona memeluk pria itu dengan erat. Hanya di kunjungi sederhana memang namun terasa begitu membahagiakan untuk Viona sendiri.
Pria itu duduk bersama Viona, putri kecilnya yang sering kali membuatnya tak bisa tidur semalaman setiap kali penyakitnya kambuh.
“Bagaimana tubuh kamu, Vio? Apa sakitnya benar-benar hilang?” tanya Danish yang mulai memperhatikan sang anak lagi.
Rasa bersalah pada Viona kini mulai ia rasakan sebab telah membohongi Viona tentang kepergian Tiara.
“Iya, Ayah. Semuanya baik dan tidak pernah sakit lagi. Apa sekarang sudah boleh Viona bertemu keluarga yang mendonorkan itu, Ayah? Viona ingin mengucapkan terimakasih banyak. Berkat orang baik itu Viona masih bisa hidup sampai sekarang bahkan Viona hamil saat ini.” Ketika mengatakan kata hamil, Viona dengan sengaja mengecilkan suaranya agar tak ada yang mendengar. Danish sama sekali tak curiga akan hal itu.
Belum saja Danish sempat menjawab, Viona kembali bertanya. “Ibu tidak ikut, Yah?” Viona menatap ke arah pintu utama rumah dimana tak ada siapa pun di sana. Benar, sang ibu tidak ikut berkunjung.
Danish yang tak tega melihat raut kecewa sang anak hanya bisa berbohong kembali.
__ADS_1
“Ibumu sudah tidur sejak sore. Katanya badannya lelah rasanya. Makanya ayah kemari mau makan malam dengan kalian saja. Tidak merepotkan kan?” Meski pilu rasanya namun Viona berusaha tetap tersenyum. Ia jelas tahu sang ayah berbohong.
“Setiap malam pun ayah makan malam di sini sama sekali tidak merepotkan kok. Tapi kasihan jika ibu tidak tidur di peluk ayah atau makan bersama ayah.” Danish mengusap rambut sang anak terkekeh mendengar jawaban Viona.
“Yah, bagaimana pertanyaan Vio yang pertama? Apa belum bisa bertemu dengan keluarga orang baik itu?” Viona kembali bertanya hingga membuat Danish terdiam sejenak.
Hingga tak terasa keterdiaman itu terbuyarkan dengan suara dari Axel yang datang dengan wajah segarnya. Sepertinya pria itu mandi dengan terburu-buru sebab tak ingin membuat sang mertua menunggu terlalu lama.
“Ayah, ayo makan malam.” Ajaknya dan mereka semua makan bersama meski sebenarnya Viona ragu. Apakah ia boleh makan bersama juga kali ini? Sekian lama tak bertemu pria kejam itu, membuat Viona sedikit trauma.
Namun, usaha kuat Viona agar terlihat baik-baik saja di depan sang ayah. Tidak mungkin Axel marah di depan sang ayah. Viona duduk dan memperhatikan pergerakan sang ayah dan juga Axel.
“Vio, kenapa diam saja? Suami mu akan makan. Ayo ambilkan nasi untuknya. Ayah bisa ambil sendiri kok.” Viona menatap Axel dengan kikuk.
Tak berani bergerak sebelum pria itu memberi tanda jika mengijinkan dirinya melayani sebagai seorang istri.
“Ah tidak perlu Ayah. Saya bisa ambil sendiri kok.” sahut Axel yang merasa dirinya enggan mendapat layanan dari Viona. Danish hanya mengangguk dan sibuk dengan piringnya sendiri.
Wajah pria paruh baya itu nampak tersenyum-senyum kecil. “Anak ayah sepertinya sangat bahagia yah? Baru hamil muda seperti ini sudah di perlakukan dengan manja oleh suaminya.” Tak sengaja ucapan Danish membuat Axel tersedak salivahnya sendiri. Wajahnya memerah merasakan sakit di tenggorokan.
“Ini minumlah, Xel. Pelan-pelan makannya.” tutur Danish yang tidak tahu apa-apa.
Viona ketakutan mendengar sang ayah justru mengatakan tentang kehamilannya pada sang suami. Padahal ia sama sekali tak ingin jika Axel tahu hal itu. Niat hati ingin membuat sang ayah tak membahas apa pun pada Axel tentang kehamilannya, maka dari itu Viona memutuskan untuk memberi tahu sang ayah jika Axel telah mengetahui kehamilannya. Justru saat ini menjadi boomerang untuknya sendiri.
Sudah jelas terlihat tatapan kemarah di kedua mata Axel pada Viona kali ini.
“Ya Tuhan cobaan apa lagi malam ini aku dapatkan?” Viona menjerit dalam hatinya ingin kabur dan mengunci pintu kamar rapat-rapat. Rasanya tak sanggup jika harus kembali menghadapi kemarahan pria menakutkan itu.
__ADS_1
“Kau berhutang penjelasan denganku, Viona. Awas saja.” gumam kesal Axel yang menikmati makannya dengan rasa hambar di lidahnya.