Heart For My Sister

Heart For My Sister
Satu Kamar Lagi


__ADS_3

Sejak pertemuan mereka semalam hingga hari ini Raisa nampak gelisah memikirkan Axel. Wanita itu menjadi berpikir akan mendekati pria yang menjadi mantan dari sang teman, Tiara. Entah keberadaan istri dari Axel rasanya tidak berpengaruh apa pun pada pria itu di pikir Raisa. Jika memang pernikahan Axel dan Viona baik-baik saja tidak mungkin saat makan malam seperti semalam, Axel justru memaksa Raisa untuk menemani dirinya. Dimana mereka berdua selama ini bukanlah orang yang berteman dekat. Hanya sekedar kenal, dan Axel sendiri memilih Raisa bukan tanpa alasan. Wanita yang menjadi teman dekat Tiara rasanya tidak akan baper padanya dan menimbulkan masalah di kemudian hari dengan pernikahannya. Tanpa Axel sadari jika pesona yang ia miliki begitu kuat memikat hati wanita mana pun termasuk Raisa.


Di sini pria yang sudah mengobrak abrik pikiran Raisa tengah merasakan pusing tujuh keliling. Ia memijat kening saat mendengar ceramah yang panjang dari sang ibu di sambungan telepon sana.


“Axel, kamu dengar ibu bicara kan? Kenapa istri kamu hamil begitu tidak kamu perhatikan? Kamu mau anak kamu lahir kelainan nantinya? Itu sangat berdampak dari asupan gizi Viona, Axel. Bagaimana bisa kamu membiarkan Viona hidup seperti wanita yang tidak sedang hamil? Susu hamil tidak kamu belikan. Makanan yang bervitamin tidak kamu siapkan. Astaga Axel, ibu benar-benar pusing memikirkan kamu.” Masih banyak lagi omelan dari Anna pada sang anak kali ini dan Axel hanya diam mendengarkan. Tangannya tak henti memijat kening yang terasa pusing tujuh keliling.


Setelah usai siang itu Anna menceramahi sang anak, barulah ia bergerak menghubungi sang ibu yang saat ini sudah tinggal di rumah Axel dan Viona.


Anna meminta Lillia menemani Viona ke rumah sakit sesuai dengan yang ia hubungi dokter kandungan agar segera di periksakan hari ini juga. Lillia tentu saja menyanggupinya.


Di sinilah Viona dan Lillia berada. Wanita tua itu mendengarkan penjelasan dokter yang detail mengenai kandungan Viona dan juga kesehatan tubuhnya.


“Yah ibu Viona, itu kata saya tadi. Banyak istirahat bukan berarti hanya berbaring tanpa melakukan kegiatan apa pun. Tetapi harus istirahat di pikirannya. Tekanan darahnya cukup tinggi untuk ukuran ibu hamil. Ini sangat bahaya jika tidak terkontrol dengan baik.” Lillia melihat Viona jelas seperti memiliki pikiran yang berat. Entah apa penyebabnya, bisa saja semua itu berasal dari sang cucu.


Siang ini pun ia tidak bisa memaksa Axel datang ke rumah sakit sebab sedang ada meeting penting. Sebagai suami sudah seharusnya ia menemani sang istri perika kandungan pertama kalinya ke dokter.


Sepulang dari rumah sakit, Lillia membawa Viona berbelanja semua kebutuhan ibu hamil. Segala makanan bergizi dan juga susu hamil serta vitamin yang mereka dapatkan dari dokter semua sudah mereka bawa pulang ke rumah saat ini.

__ADS_1


Ada perasaan senang di hati Viona karena kehadiran sang nenek mertua. Dimana Lillia bersikap begitu perhatian padanya. Berbeda dengan sang suami yang benar-benar cuek padanya.


Keduanya berbaring di kamar masing-masing usai makan siang untuk sekedar beristirahat. Hingga tak terasa senja telah menyapa. Lillia yang sudah tampil cantik nan segar datang mengetuk kamar Viona. Kini Viona benar-benar merasa tak kesepian lagi. Keberadaan Lillia terasa penyejuk di kala hatinya terasa hampa.


“Sudah mandi juga ternyata, ayo temani nenek duduk di taman.” Viona tersenyum melihat Lillia menggandeng tangannya.


Keduanya menikmati suasana sore yang sejuk kala itu sembari menunggu waktu makan malam tiba. Mobil Axel yang di tunggu Lillia tak juga kunjung datang. Entah apa sesibuk itu pekerjaan Axel hingga pulang segelap ini.


Melihat tak ada tanda-tanda kedatangan Axel, Lillia tak ingin membuat Viona kelaparan. Ia pun mengajak wanita itu makan bersamanya. Untuk kedua kalinya Viona akhirnya makan setelah yang pertama makan dengan sang ayah ketika bertamu ke rumah ini.


“Ini susunya juga di minum. Nenek sudah buatkan. Buah harus di makan juga yah?” Viona senang melihat segala bentuk perhatian sang nenek padanya.


“Katakan apa yang kamu pikirkan, Vi? Nenek sudah bilang sebelumnya kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran. Ingat janin di sini.” Lillia mengusap perut sang cucu menantu dengan perduli yang besar.


Keduanya tampak asik menikmati makan malam hingga akhirnya Axel pun pulang dari kantor. Pria itu ingin pamit untuk mandi, namun Lillia menahan agar tidak pergi. Lalu meminta Axel ikut makan bergabung dengannya.


“Kamu harus lebih memperhatikan Viona. Nenek tidak mau sampai terjadi sesuatu pada anak kalian. Axel, kamu dengar kata nenek? Istrimu sedang dalam tekanan darah yang tinggi dan itu bisa naik kapan pun saja. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Viona kamu yang harus bertanggung jawab. Lihat ini, susu, makanan dan semua buah harus kamu perhatikan agar janin Viona tumbuh dengan sehat.” Axel diam saja mendengar semua ucapan sang nenek yang terasa tidak ada ujungnya.

__ADS_1


Sama sekali rasanya hari ini Axel benar-benar pusing mendengar sang nenek mau pun ibunya yang menelpon semua mengatakan tentang Viona, Viona, dan Viona lagi.


Usai makan kini Lillia membiarkan Viona menyusul sang suami masuk ke dalam kamar.


“Ada apa sih dengan mereka sebenarnya?” gumam Lillia bingung sendiri.


Sebab selama ia di rumah ini sejak pagi tadi, Axel dan Viona tak pernah satu kata pun bersuara. Keduanya seperti sama-sama bisa jika bertemu. Dan hanya dirinya yang menjadi penengah.


“Tetap pada tempatmu jangan berpikir dengan adanya nenek di rumah kau bisa seenaknya bergerak di mana pun kau mau!” Viona hanya tunduk tanpa menjawab ucapan sang suami.


Axel tidak tahu saja jika saat ini Viona sedang menikmati aroma kamar yang berubah dengan hadirnya sosok sang suami. Terasa begitu menenangkan seperti aromatherapi baginya.


Malam itu pun keduanya tidur dengan kamar yang sama namun tempat yang berbeda seperti dua bulan sebelumnya. Viona masih tidur di sofabed yang di sediakan oleh Axel. Miris memang, wanita yang harusnya di perlakukan dengan baik justru terbalik.


“Kenapa bau di bajunya tidak terasa lagi?” gumam Viona bertanya di dalam selimut tebalnya. Pasalnya saat ini wanita itu tengah memeluk baju kotor Axel di dalam selimut yang sudah ia ambil pagi tadi.


Benar, setelah menciumnya lagi Viona sama sekali tak bisa mencium apa pun. Bagaimana ia bisa memejamkan mata dengan tenang malam ini. Satu kamar dengan Axel ia pikir akan lebih mudah untuk terlelap dengan nyenyak. Nyatanya tidak sama sekali.

__ADS_1


Melihat di sebelah sana Axel masih sibuk memainkan ponsel hingga Viona sangat tidak sabar. Ia harus memastikan sang suami lelap dulu barulah Viona berpindah tidur di samping Axel. Viona sangat sulit mengontrol dirinya untuk tidak mendekati Axel. Aroma tubuh pria itu begitu candu baginya.


__ADS_2