Heart For My Sister

Heart For My Sister
Viona Kecolongan


__ADS_3

Viona jauh lebih tenang saat ini bersama pelukan sang ayah yang menemani dirinya. Hari itu cuaca cukup sejuk ketika keduanya meninggalkan makam Tiara dengan Viona meletakkan sebuket bunga mawar berwarna putih. Ia tersenyum seraya meneteskan air mata untuk sang kakak. Ribuan ucapan terimakasih Viona ucapkan dalam hatinya untuk sang kakak. Ia benar-benar berterimakasih pada sang kuasa telah memberinya kesempatan merasakan kasih sayang dari Tiara.


"Terimakasih Tuhan, terimakasih kau memberikan aku seorang kakak yang begitu sayang padaku sampai rela memberikan jantungnya untukku. Entah dengan cara apa aku bisa membalas kebaikan Kak Tiara? Andai waktu bisa sedikit lebih lama lagi kak, aku ingin bersama kakak terus menghabiskan waktu akhir kita. Kakak bahkan pergi tanpa mengatakan pesan apa pun padaku, Kak. Maafkan aku yang membuat Kakak harus rela mengorbankan hidup kakak dan juga cinta kakak. Aku benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa saat ini, Kak." Viona meneteskan lagi air mata saat mobil sudah berjalan meninggalkan makam Tiara. Viona menatap terus ke arah makam yang tak menampakkan kuburan sang kakak.


Perjalanan hari itu usai meninggalkan makam, membuat Viona mengernyit heran. Sebab mobil bukan melaju ke arah rumah, dan sang ayah hanya diam saat di tanya olehnya.


"Ayah, kita mau kemana?" tanya Viona lagi.


"Sudah putri ayah diam saja. Kita akan menyenangan si baby di perutmu." Malas bertanya lagi sebab Viona sudah lemas tak memiliki tenaga. Beberapa menit akhirnya mereka pun tiba dari tempat yang tidak jauh dari makam tadi, meski berlawan arah dengan rumah Axel.


Viona mengernyitkan kening heran melihat sebuah tempat olahraga dimana menampilkan khusus untuk ibu hamil. Danish menggandeng tangan Viona agar turun dari mobil ketika mereka sudah tiba di parkiran.


"Yah, Viona nggak mau." ujarnya ingin berbalik badan meninggalkan tempat itu. Namun, Danish justru menahan kembali tangan sang putri.


"Ayah temani, ayo." Viona tak sampai hati menolak permintaan sang ayah.


Jujur ia merasa malu sebab di sekeliling terlihat memperhatikan mereka. Dimana wajah sang ayah yang tampan meski sudah berusia, membuat Viona yakin jika banyak yang menyangka mereka adalah sepasang suami istri berbeda usia banyak.


"Lihat, kita pasti di sangka suami istri?" tutur Viona memajukan bibir dan Danish terkekeh mendengarnya.


"Jadi malu kalau sama ayah? Maunya sama Axel aja yah?" goda pria itu membuat wajah Viona semakin cemberut saja.


"Ayah, apasih?" wanita itu pun berjalan cepat di depan sana meninggalkan sang ayah yang terkekeh.


Benar, jika saat ini Viona masih enggan untuk berdekatan dengan Axel mau pun sang ibu. Sebab ia mengingat betul bagaimana kedua orang itu sangat menolak kesembuhannya usai kepergian Tiara. Hanya sang ayah yang menurut Viona oran paling tulus padanya.


Viona pun di sambut hangat oleh pelatih yang sudah di daftarkan oleh Danish. Pria paruh baya itu ingin sang anak melakukan yoga demi kehamilan dan juga pikirannya agar tenang. Mengantar tanpa bicara mungkin satu-satunya jalan agar Viona tak bisa menolak lagi. Tidak mungkin wanita itu akan ribut di depan banyak orang.


Hingga beberapa jam ia pun di bantu oleh pelatih khusus VIP, sementara Danish hanya duduk menunggu selesai.


Tak tahu saja mereka jika di kediaman Axel saat ini, Nada sudah bolak balik menghubungi sang suami namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia nampak bertanya-tanya kemana kedua orang itu hingga sampai saat ini tak sampai juga di rumah. Sementara Axel sudah sibuk di kantor untuk mengurus semua pertemuan yang sempat tertunda. Ketika di luar negeri ia hanya bisa melakukan meeting vi online dengan beberapa klien saja, sedangkan ada beberapa juga ingin bertemu langsung.


Berbeda halnya dengan rumah yang lainnya. Lillia yang tengah memasak di dapur bersama Anna nampak heboh ketika kedatangan sepasang suami istri yang tak lain adalah mertua dari Anna.


"Ibu," Anna memeluk ibu mertuanya dan Lillia pun juga sama. Mereka berniat akan pergi bersama-sama hari ini mengunjungi kediaman Axel.


"Bagaimana bisa sih, An? Kok Viona sampai tahu semuanya? Kan Tiara sudah minta jika adiknya tidak boleh tahu sampai waktunya." tutur Ria Anjani bertanya pada sang menantu.


Anna pun menceritakan jika semua karena pertemuan Axel dan Raisa yang membicarakan hal itu sampai akhirnya Viona yang sempat melihat pesan di ponsel sang suami ketika mandi dari Raisa membuatnya berinisiatif untuk mengikuti Axel, dan Viona akhirnya mendengar perbincangan keduanya.


Dan sekarang bahkan sang besan mengatakan jika Viona sama sekali tak mau bicara dengan ibunya dan juga sang suami, hanya pada sang ayah dia bisa percaya saat ini.


"Kasihan Viona. Sekarang bahkan ia sedang hamil. Ibu takut anaknya jadi kurang gizi." sahut Ria prihatin pada sang cucu menantu.

__ADS_1


"Iya, Bu. Bahkan badannya Viona semenjak mengetahui semuanya semakin kurus sekali." Anna kembali menambahi.


"Hai mah, Pah." Danny atau yang bernama asli Danu pun datang dari kantor tengah hari. Pria tersebut berinisiatif menyelesaikan kerjaan lebih dulu sebelum bergegas menjenguk sang menantu.


Mereka pun berbincang-bincang sejenak sembari menunggu Lillia yang di bantu Anna dan Ria mengemasi kue buatan mereka untuk di bawakan Viona.


"Bu, ini enak sekali loh? Bahkan wanginya saja sudah begitu menggoda." tutur Anna tersenyum melihat hasil tangan sang ibu yang sangat cekatan membuat brownis lapis lumer cokelat. Benar-benar menggoda iman melihatnya.


"Bukan cuman memuji, An. Harusnya bisa juga dong buatin aku kue begitu. Masa ibu terus yang buatkan." celetuk Danny yang menyindir sang istri tak pernah membuatkan kue untuknya.


"Sayang, kan sudah ada mamah. Aku biar bagian masaknya. Lagian buat kue itu harus bisa dengan perasaan. Aku kan orangnya nggak sabaran." sahut Anna berusaha membela diri.


Lillia dan yang lain hanya tersenyum mendengar sepasang suami istri itu tampak beradu mulut. Tak terasa dengan berputarnya kehidupannya dan masalah yang terus datang bergantian, membuat wajah mereka termakan dengan usia.


Kali ini Zaniah dan Firhan tak muncul sebab mereka tengah di sibukkan dengan urusan kantor juga. Selepas menangani kantor Axel, Firhan mulai sibuk sendiri dengan usahanya yang semakin meningkat.


Kurang lebih tiga puluh menit mereka tiba juga di kediaman Axel. Tentu di sambut hangat oleh Nada yang kala itu juga tengah menunggu kedatangan sang suami dan anaknya. Mereka pun di bawa masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa.


"Ayo duduk dulu. Ini soalnya Viona dan papahnya belum juga pulang dari tadi pagi." tutur Nada menyampaikan kegelisahannya.


"Loh Viona ngggak di rumah?" tanya Lillia dengan wajah kagetnya.


"Iya, tadi dia habis marah dengan saya, Bu. Jadi langsung meminta ayahnya mengantar ke kuburan tapi sampai sekarang belum juga balik." ujar Nada menjelaskan.


"Dari awal memang saya keterlaluan. Viona itu tidak bersalah, tapi saya begitu menyalahkannya dalam kepergian Tiara. Seperti ini jadinya sekarang. Viona pasti merasa sakit sekali. Bahkan setiap saya memberikan perhatian pikiran Viona selalu menyangka itu untuk jantung kakaknya." Nada yang tak kuasa menahan diri lagi akhirnya menangis menyesali sikapnya yang membuat Viona sulit percaya padanya.


"Assalamualaikum..." hingga suara dari arah pintu utama pun akhirnya terdengar juga. Buru-buru Nada mengusap air mata dan semua tersenyum menyambut kedatangan orang yang sudah Nada tungguh sejak tadi.


"Ayah, kok baru pulang?" tanya Nada dengan wajah cemasnya. Lalu matanya beralih pada tubuh Viona yang segar dan berganti pakaian.


"Nemani Viona Yoga untuk ibu hamil, Bu. Biar segar dan cucu ayah sehat." sahut Danish yang meminta sang anak masuk ke kamar istirahat. Viona di suruh istirahat sebab kurang mengisi tenaga.


Kini tinggallah para keluarga tanpa ada Viona dan Axel yang bergabung di sana. Sedangkan Lillia yang membawa kue pun menuju dapur di temani Nada. Wanita tua itu memotong-motong kue agar bisa di nikmati bersama. Tak sadar jika aroma kue itu menyeruak ke seluruh ruangan di rumah tersebut termasuk kamar Axel yang tidak tertutup pintunya.


Reflek tangan Viona mengusap perutnya perih. Jika makanan nasi mungkin bisa saja ia tolak dengan alasan tidak napsu. Tapi berbeda dengan aroma kue kali ini yang bahkan membuat wanita hamil itu meneguk salivahnya beberapa kali.


"Aduh kuenya enak sekali kayaknya? Iya ini pasti aroma kue. Siapa yang bawa yah?" Viona berpikir keras sendiri di dalam kamar ingin segera mencicipi makanan yang begitu wangi tercium.


Samar-samar terdengar suara para keluarga memuji makanan yang sepertinya sama dengan yang Viona cium saat ini. Lama wanita itu menahan diri dengan meringkuk di atas kasur memegang perutnya hingga akhirnya Viona tak bisa lagi menahan diri.


"Aku pasti bisa makan kue itu. Ayo Vio, pelan-pelan." ujarnya melangkah dengan sembunyi-sembunyi ke dapur yang memang memiliki sekat dari ruang keluarga.


Buru-buru Viona memakan kue yang sudah di potong-potong di atas pantry. Satu potong, dua potong, hingga lima potong semua masuk ke mulutnya dengan gerakan cepat.

__ADS_1


"Sebentar saya mau ambilkan Viona dan antar ke kamarnya dulu." ucapan yang sepertinya Viona tahu jika itu suara dari Lillia, membuat Viona membulatkan mata dan menyisakan kue di tanganya itu lalu di letakkan ke piring lagi. Viona berlari secepat kilat menuju kamar dan berbaring. Mulut yang celemotan tak lagi ia hiraukan. Viona hanya masuk ke dalam selimut.


Tanpa di sadari sebuah jejak membuat wajah tua Lillia tersenyum. Jelas ia tahu semua tidak seperti semula ketika ia tingggal. Ada potongan yang lumayan banyak terambil, serta sisa gigitan kue yang tertinggal. Tak lupa matanya pun melihat segelas air yang tersisa dan juga hamburan kue di lantai yang sepertinya habis di makan tikus bekepala hitam.


Memang benar, kue buatan Lillia selalu membuat orang gagal fokus. Namun, wanita tua itu memilih untuk diam tak memberi tahu siapa pun kali ini. Ia meneruskan niatnya untuk mengantarkan kue ke kamar Viona.


"Viona, nenek masuk yah?" panggil Lillia sembari mengetuk pintu dan terbukalah pintu dari arah luar. Di lihatnya Viona yang masih baring membelakangi dirinya.


"Ayo makan kuenya, nenek sudah buatkan yang enak loh." ujar Lillia yang sukses membuat kening Viona mengernyit heran mencium aroma yang justru lebih lezat dari sebelumnya.


"Ayo duduk dulu." Lillia dengan lembut membantu Viona bangun dari tidur seperti memperlakukan wanita itu sama dengan bayi.


Mata Viona melirik ke arah piring yang Lillia bawa. Kali ini kuenya lebih berwarna bahkan ada potongan buahnya juga.


"Kok tadi aku nggak liat yah?" batin Viona bertanya-tanya heran.


Lillia yang ingin sekali tertawa melihat tingkah cucu menantunya berusaha menahan diri. Viona tidak boleh melihatnya menertawakan Viona.


"Ayo nenek suap." berusaha membujuk Viona yang bahkan saat ini di pipinya masih menempel sisa-sisa kue cokelat di dapur tadi, Lillia terus membujuk agar Viona banyak makan.


"Nanti biar nenek buatkan makan spesial yah?" Lagi Viona hanya diam sembari terus menerima suapan Lillia.


Ia tak ingin terlalu dekat dengan siapa pun saat ini. Jujur Viona jadi merasa lebih curiga pada setiap orang yang dekat dengannya. Bayangan sang kakak terus membuat pikiran Viona kacau saat ini.


Hari itu Nada dan Danish merasa tenang melihat Viona yang sudah mau makan tanpa susah payah mereka bujuk.


"Bu, tinggallah di sini lagi beberapa waktu." Nada yang melihat Lillia orang paling mudah mengambil perhatian sang anak pun memohon. Sebab dirinya sendiri tak memiliki kemampuan seperti wanita tua itu.


Sikap Lillia yang benar-benar lembut dan sangat peka pada Viona membuat wanita itu mudah sekali menuruti perkataannya.


"Iya, nek. Tetaplah di sini dulu. Bantu kami." Axel yang baru datang pun juga bersuara mendengar ucapan sang mertua yang angkat tangan menangani Viona.


"Baiklah. An, apa tidak masalah Ibu tinggal di sini?" tanya Lillia meminta persetujuan sang anak. Sebab bukan Anna masalahnya, tetapi Danny yang kerap kali meminta membuatkan kue buatan Lillia yang Anna sama sekali tidak bisa.


Anna tak langsung menjawab, justru wanita itu menoleh pada sang suami seolah bertanya, "Apa kamu tidak akan meminta kue macam-macam selama ibu tidak di rumah?" begitulah pertanyaan dari sorot mata Anna untuk sang suami.


Lillia yang tahu arti tatapan sang anak, hanya menggeleng terkekeh. "Nanti ibu buatkan kue di sini sekalian buat Viona juga. Sudah tidak apa-apa yah?" Anna dan Danny pun setuju.


Kebersamaan keluarga di kediaman Axel membuat mereka tak tahu apa yang tengah di rencakan seseorang yang baru saja tiba dar Swiss saat ini. Yah, Raisa sedang bertemu dengan beberapa orang pria yang entah akan ia libatkan dalam hal apa kali ini.


"Ini fotonya, dan kalian harus segera mengerjakan perintah saya dalam waktu dekat." pintah Raisa terlihat semakin berambisi.


Bisa di katakan Axel adalah pria yang sudah membuka pintu untuk orang asing ini masuk dalam kehidupannya.

__ADS_1


__ADS_2