Heart For My Sister

Heart For My Sister
Tak Ada Belas Kasih Untuk Viona


__ADS_3

“Tidak, Ama. Itu tidak mungkin.” Nada menolak permintaan sang ibu untuk tidak menjaga Viona lagi di rumah sakit.


Menjadi penyebab Viona lahir lebih cepat nyatanya tak membuat wanita tua itu memiliki empati sedikit pun pada Viona. Kemarahannya pada Viona ternyata begitu sulit terhapuskan. Jika selama ini wanita tua itu berusaha menerima kehadiran Viona di keluarga sang anak selama Viona tak menjadi masalah. Bahkan ia sedikit iba ketika Viona terus menerus sakit.


Sayang, kepergian Tiara kembali memunculkan amarah di hati wanita tua itu dan menganggap Viona adalah duri yang akan semakin sakit menusuk keluarga di sekitarnya.


“Ama tidak akan marah jika kamu tidak di perbudak anak itu, Nada. Sudahlah di sana pun ada keluarga suaminya kok. Axel bukan orang susah yang tidak bisa membayar jasa suster menjaga Viona kalau dia pun sibuk.” Nada menggeleng mendengar ucapan sang ama.


Sedang Danish hanya diam. Ia tahu satu kata pun keluar dari bibirnya tentu akan menjadi sebuah kesalahan besar dimana membuat sang ibu mertua akan sangat murka lalu mengungkit semua kesalahan yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan.


“Viona butuh aku, Ama. Aku ibunya. Bagaimana mungkin aku membiarkan keluarga suaminya saja yang mengurus. Sejak kecil Viona aku yang mengurusnya.”


Wanita tua itu bergerak mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Nada bingung siapa yang ingin di hubungi sang ibu. Sementara pembicaraan mereka pun belum selesai.

__ADS_1


Berniat ingin pulang untuk istirahat sejenak sebelum kembali ke rumah sakit lagi, justru Nada harus di hadapkan dengan perintah sang ibu yang tidak bisa di bantah.


“Kesini segera. Ama mau bicara, Silvi.” sahut wanita tua itu membuat semuanya bingung.


Silvi adalah anak dari saudara apa. Wanita itu memang cukup dekat dengan ama. Namun, apa tujuan ama memanggil wanita itu kemari.


Belum sempat Nada bertanya, Ama lebih dulu berucap setelah menutup teleponnya.


“Dia yang akan menggantikanmu menjaga Viona. Dan kamu tinggal di rumah ini karena Ama akan menetap di sini sampai Viona keluar dari rumah sakit.” Nada terperangah.


“Ibu, kita akan pulang. Jangan membantah. Sudah cukup ayah membiarkan ibu bertindak di luar batas. Sore ini kita pulang. Biarkan Nada mengurus rumah tangganya sendiri.” sentak sang suami yang tak lagi bisa di bantah.


Ama pun bungkam mendengar suara suaminya begitu tegas. Keadaan di rumah Nada pun akhirnya hening. Wanita tua itu menghentakkan kedua kakinya meninggalkan semua yang duduk di ruangan itu. Hingga setelah hampir satu jam lamanya ia kembali keluar usai mendapat telepon dari seseorang.

__ADS_1


“Ama…” panggilan dari luar rumah membuat Nada dan lainnya menoleh serentak. Seorang gadis modis berjalan memeluk tubuh tua Yara. Keduanya begitu sangat akrab memang.


“Ayuk ke kamar. Ama mau bicara banyak sama kamu, Sil.” Panggilnya yang menarik tangan Silvi sesegera mungkin.


Bahkan Silvi hanya sempat menganggukkan kepala melihat pada Nada dan Danish.


Merasa sungkan sebab tak di beri kesempatan untuk sekedar bersalaman saja.


Hal yang berbeda di rumah sakit terjadi. Viona yang duduk memandangi sang anak sembari memberikan asi tak mengeluarkan suara sama sekali. Wanita itu terlihat tampak masih memiliki trauma yang mendalam. Axel pun sangat mewanti-wanit sang anak takut jika mendapat perlakuan buruk dari sang istri. Meski keadaan Viona memang sudah tidak seburuk sebelumnya. Bahkan dokter mengatakan dalam minggu ini jika semua semakin membaik ia akan di perbolehkan untuk segera pulang.


Ingin sekali rasanya sebagai seorang suami dan ayah, Axel menikmati momen ini. Sayang, ia tak berani melakukan itu semua. Keadaan Viona masih belum stabil psikisnya.


Setiap malam bahkan ia masih sering berteriak tiba-tiba memanggil nama sang kakak.

__ADS_1


Meski sang pelaku sudah mendapatkan hukumannya tetapi tak berarti apa-apa pada Viona. Ia sama sekali tak bisa sembuh hanya dengan Raisa yang mendapatkan hukuman.


__ADS_2