Heart For My Sister

Heart For My Sister
Ingin Pergi


__ADS_3

Begitu terasa sangatlah damai Viona rasakan saat ini, tangannya memeluk tubuhnya sendiri lantaran takut jika tanpa sadar saat tertidur nanti ia justru menyentuh tubuh sang suami. Dimana Axel masih saja terlelap dengan nyaman berbalut selimut tebal yang sama di pakai Viona saat ini. Malam itu Axel tidak tahu jika di sisinya ada wanita yang paling ia benci telah menghirup dalam aroma tubuhnya sembari memejamkan mata. Hingga tak terasa ketika waktu sudah beranjak subuh, suara petir pertanda hujan deras mulai mengguyur bumi kala itu membuat sepasang mata Axel terbuka lebar. Seperti biasa ia akan bangun dan menambah selimut karena udara pasti akan sangat dingin. Namun, ada yang menarik perhatiannya kini. Kedua bola mata Axel membulat sempurna ketika tubuhnya baru saja hendak beranjak dari tempat tidur.


"Viona! Beraninya kau!" begitulah teriakan keras dari bibir Axel ketika melihat wanita yang sangat ia larang berdekatan dengannya justru terlelap di sisinya saat ini. Tubuh kekar itu bergerak bangkit bukan untuk meninggalkan kasur, melainkan ia mencekik leher Viona sampai membuat Viona begiitu kesulitan bernapas.


Bagai terasa mimpi buruk ketika bangun justru Viona harus di hadapkan dengan kemarahan sang suami. Ini bukanlah maunya, tetapi ini mau dari sang anak yang ada di rahimnya saat ini dan Viona sama sekali tidak bisa menahannya lagi.


"Perempuan tidak tahu diri!" kembali Axel berteriak lantang di tengah derasnya hujan di luar sana. Viona meneteskan air mata bukan karena sakit cekikan di lehernya sampai wajahnya terbenam cukup dalam di kasur empuk itu. Melainkan Viona begitu sakit mendapat hinaan dari suaminya sendiri.


Di tengah-tengah pertengkaran yang di dominasi oleh Axel, Viona hanya merasakan sakit di bagan perut yang kini menyusulnya. Nyeri terasa sekali di bawah sana, namun wanita itu tak bisa melakukan apa pun saat merasa cekikan Axel justru semakin kuat dan membuatnya benar-benar mau mati.


"Pe-perutku...Kak, a-aku kesakitan." itulah kata yang Viona ucapkan susah payah.


Hal yang lebih membuatnya kecewa dan sakit ketika mengatakan itu bukannya Axel perduli. Pria itu justru mengatakan, "Biarkan dia mati! Aku tidak akan perduli, dan dia bukan anakku!"


Hati ibu mana yang tak marah mendengar anak yang jelas-jelas dari perbuatan suaminya justru tidak di inginkan kehidupannya bahkan Axel menyumpahinya pergi saat ini juga. Hilang kesabaran Viona, ia marah sekali mendengar anaknya di katakan seperti itu. Hingga entah kekuatan dari mana Viona dapatkan, sekuat tenaga kakinya terlepas dari tindihan tubuh sang suami dan Viona menendang keras dada bidang sang suami.


"Viona!" Axel marah melihat keberanian sang istri.


"Kau bilang ini anak bukan anakmu? Apa kau tidak sadar siapa yang memaksaku melakukan hubungan itu? Kau adalah pria yang pengecut! Kau bahkan memperk*sa istrimu sendiri dan tidak mengakui semuanya? Aku tidak habis pikir kakak ku begitu mencintai pria yang tidak memiliki tanggung jawab sepertimu! Ini anakmu! Apa kau lupa kau yang menghilangkan kesucianku? Hah! Apa kepalamu terlalu kotor sampai tidak bisa mengingat semuanya?" Viona bergetar setiap kali meneriakkan semua amarahnya pada Axel yang selama ini ia terus pendam. Bahkan saat ini Viona sudah mengarahkan pisau buah yang ia ambil begitu cepatnya pada Axel. Pria itu terdiam berjaga-jaga jika saja Viona nekat menyerangnya.


Sayang, Viona masih memiliki pikiran panjang untuk melahirkan sang anak dan bertemu dengan kakak tersayangnya.

__ADS_1


"Jangan lupa, Axel. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kalau kau menginginkan sebuah kematian, bukan anakku. Tapi kau yang seharusnya mati!"


Viona melempar sembarang arah pisau itu dan bergegas lari meninggalkan Axel keluar kamar. Ia menangis keluar dari rumah megah sang suami. Keributan subuh itu membuat semua penghuni rumah terbangun. Viona yang berkali-kali menabrak beberapa pajangan mahal di rumah sang suami jelas menimbulkan keributan.


Wanita berbadan dua itu nekat menerobos derasnya hujan yang turun. Ia tak akan lagi mau tinggal di rumah pembunuh itu. Di kamarnya Axel baru sadar jika Viona sudah pergi meninggalkannya.


"Tidak, Viona tidak boleh pergi membawa milik Tiara. Tidak akan ku biarkan!" ingatannya kembali pada jantung sang kekasih yang masih tertanam di tubuh sang istri.


Axel berlari mengejar Viona dengan cepat, keduanya pun berkejaran subuh itu di sekitar perumahan elit tersebut. Viona yang semula sangat kencang berlari mulai memelankan langkah kaki saat perutnya terasa semakin nyeri dan semakin ke bawah sakitnya.


"Viona, berhenti!"


"Aku bilang berhenti, Viona!" Teriakan Axel sama sekali tak di indahkan oleh Viona. Wanita itu terus melangkah meski pandangannya saat ini mulai terasa berkunang-kunang bahkan tubuhnya terasa mulai dingin dari dalam dan kram.


"Viona!" Axel kaget melihat sang istri tidak sadarkan diri dari kejauhan. Segera ia pun berlari dan menghampiri Viona.


Tak menunggu lama Axel membawa Viona menuju rumah yang jaraknya sudah cukup jauh ternyata. Tak terasa perdebatan mereka membuat keduanya begitu cepat melangkah meninggalkan rumah.


"Viona, bangun! Bangunlah, Hei aku tidak akan membiarkan mu pergi membawa perjuangan Tiara. Bangun, Viona!" sepanjang jalan Axel berteriak sampai akhirnya ia tiba di rumah. Cukup kaget saat kembali ketika Axel justru mendapati sang nenek sudah berdiri di depan pintu menatapnya tajam.


"Bawa masuk ke kamar gantikan bajunya, nenek akan hubungi dokter." pintah Lillia yang tak bisa di bantah oleh Axel.

__ADS_1


Dengan perasaan gugup susah payah Axel melepas pakaian Viona yang basah, pikirannya benar-benar kacau. Sebagai pria normal ada desiran aneh yang ia rasakan saat tak sengaja memalingkan wajah dan kembali melihat tubuh polos Viona yang ingin ia pakaikan baju.


Melihat tak ada pergerakan dari sang istri, kini tatapan mata Axel justru terfokus pada perut sang istri yang begitu indah meski belum memperlihatkan tanda tonjolan di sana. Axel lama menatap entah apa arti tatapan itu yang jelas secara tidak sadar tangannya kini sudah bertengger di atas perut mulus Viona. Axel merasakan antusias yang ada di dalam hatinya ketika membayangkan perut rata di depannya ketika akan membesar dan melahirkan seorang bayi.


Untuk pertama kali ia merasakan sesuatu yang menyentuh hatinya seperti ini. Yah, Axel mengakui anak ini adalah anaknya setelah mendengar semua luapan amarah dari Viona. Tapi, jika untuk menerima Viona menjadi istrinya entah rasanya Axel begitu sulit. Rasa cintanya pada Tiara sedikit pun belum bisa berkurang di mana artinya perasaan itu masih utuh dan tidak bisa berpaling pada Viona. Berbeda dengan masalah janin yang menurutnya ini adalah haknya juga.


Hingga tangan itu bergerak terangkat ketika mata Axel menatap tulang di bagian leher Viona yang begitu menonjol.


"Sayang, aku mohon jaga adikku..." sepenggal kata dari surat panjang titipan Tiara untuk Axel membuat pria itu tersentuh hatinya.


Bukankah Tiara memohon padanya untuk menjaga adiknya, Viona. Lalu mengapa dengan tega Axel bahkan membuat adik wanita itu sampai tumbuh dengan kurus seperti ini. Mata Axel berkaca-kaca menatap tulang leher Viona yang begitu kurus terlihat.


"Aku sulit menerima ini semua, Ra. Aku membencinya. Dialah sebabnya kau memilih pergi meninggalkan aku." gumam Axel yang tiba-tiba kaget ketika mendengar suara pintu terbuka dan ternyata dokter telah datang dengan wajah kantuknya di ikuti oleh Lillia di belakang.


"Menyesal?" pertanyaan sang nenek yang sarkas membuat Axel hanya diam tak ingin berucap apa pun di depan orang asing, yaitu dokter.


Lillia hanya diam selama di rumah tanpa mereka ketahui jika wanita tua itu sudah begitu tinggi jam terbangnya dalam menghadapi masalah. Tentu ia bisa membaca jika ada yang tidak beres dengan perlakukan Viona serta sang cucu.


Setelah dokter selesai memeriksa pun akhirnya ia memberi tahu hasilnya.


"Tuan, Nyonya Viona saat ini usia kehamilannya masih begitu muda. Itu merupakan hal yang patut di waspadai sebab pikiran terlalu strees bisa membuat darah tingginya kambuh atau bahkan bisa turun dengan rendahnya. Dan saat ini asupan gizi yang di konsumsi Nyonya Viona pun masih kurang ini bisa menyebabkan tubuhnya akan sangat lemah. Di masa pertumbuhan seperti ini janin begitu rawan, Tuan. Bisa keguguran bahkan bisa lahir dengan adanya kekurangan di tubuhnya yang di sebabkan pertumbuhan tidak sempurna karena kebutuhannya yang tidak tercukupi..."

__ADS_1


"Apa itu artinya ada kemungkinan cacat, Dokter?" tanya Axel yang dengan wajah seriusnya menatap dokter di depannya.


"Bisa jadi, Tuan." Lillia pun ikut cemas mendengarnya. Sebab Viona memang sangat tertekan selama masa hamil. Dan semua itu karena Axel.


__ADS_2