
Tanpa berkata apa pun Lillia meninggalkan kamar bersama dokter yang sudah banyak memberikan masukan pada mereka. Axel terduduk diam saat ini memandangi Viona yang masih tidak sadarkan diri juga. Hingga pagi pun tiba dan hujan di luar sana juga sudah berakhir. Axel yang ketiduran di sofa tak tahu jika Viona sudah bangun. Wanita itu duduk memandangi sang suami di sudut kamar mereka. Kebencian kini bukan hanya ada pada Axel, melainkan juga ada pada diri Viona. Wanita itu benar-benar benci pada Axel. Segera Viona bergegas meninggalkan kamar sebelum Axel bangun.
"Vio, mau kemana? Kamu harus istirahat, Nak." suara dari wanita tua yang adalah Lillia membuat langkah Viona terhenti saat itu juga.
Belum sempat ia mencapai pintu utama, tanpa Viona tahu jika Lillia sudah menduga jika Viona pasti ingin pergi. Viona pun memutar tubuhnya menghadap Lillia dengan senyum kaku. Jujur ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan keinginan pergi pada wanita tua itu. Bagaimana jika Lillia akan jatuh sakit atau hal yang lebih buruk lagi ketika mendengar Viona akan perg? Tidak. Viona tidak ingin di salahkan. Sudah cukup semua masalah yang menerpa dirinya saat ini. Jangan di tambah lagi.
"Em...mau ke depan, Nek. Melihat taman sepertinya segar karena habis hujan." Viona memilih untuk berbohong demi keamanan.
Lillia pun tersenyum, anak yang baik memang masih berusaha kuat menghargai keberadaan orang tua di kala ia sendiri tengah menghadapi masalah yang ingin sekali ia keluarkan dengan berteriak marah-marah. Viona justru memendamnya sendiri.
__ADS_1
"Di luar masih gerimis. Jangan sampai kau sakit. Ayo masuk lagi ke kamar. Nenek akan bawakan sarapan untukmu dan juga Axel." Viona yang mendengar perhatian sang nenek mertua pun tersenyum senang. Sepertinya sarapan dari Lillia akan sangat menggugah seleranya yang beberapa hari ini sangat tak bernapsu untuk makan.
"Iya, Nek." hilang lenyap entah kemana kemarahan Viona berhadapan dengan Lillia yang bersikap sangat lembut.
"Dari mana?" kedatangan Viona justru langsung di sambut dengan tatapan tajam Axel dan pertanyaan yang terdengar begitu dingin di telinganya.
Viona berlalu saja menuju sofa enggan untuk bicara dengan pria kejam itu. Kini ia berhak marah pada Axel.
Viona sama sekali tak menggubris ucapan Axel.
__ADS_1
"Bagaimana pun itu adalah darah dagingku." ucapan Axel tentu menyita perhatian Viona.
"Dia bukan darah dagingmu. Dia darah dagingku sendiri. Dan kau tidak berhak mengaturku ingin membawa atau tidak." ujar Viona keras.
Axel sangat geram mendengar ucapan Viona.
Namun, mengingat ucapan dokter jika dirinya tak boleh membuat Viona tertekan, yang bisa membuat ancaman bagi pertumbuhan sang anak, pria itu memilih meninggalkan Viona. Setidaknya wanita itu sudah di rumah ini dalam pengawasannya itu akan lebih aman. Yang terpenting Viona tidak pergi dari rumah.
Selang beberapa menit berlalu, kini Axel keluar dari walk in closet setelah mandi, di lihatnya ada sang nenek yang duduk bersama Viona di dalam kamar. Wanita tua itu nampak tengah menyuapi Viona yang duduk dengan bubur buatannya sendiri.
__ADS_1
"Ah kebetulan ada, Axel. Sini suapi Viona." pintah Lillia masih menampakkan senyum di wajahnya.
"Nenek, tidak perlu," serentak Viona dan Axel sama-sama berkata demikian dan Lillia terheran-heran melihat keduanya bergantian.