Heart For My Sister

Heart For My Sister
Sikap Memalukan


__ADS_3

Gelisah menunggu hasil dari dokter, Axel nampak duduk menunduk mengusap wajahnya berkali-kali. Pikirannya subuh itu benar-benar sangat kacau. Debaran jantungnya tak lagi bisa ia kontrol saat ini. Dua nyawa sedang bertaruh di dalam ruangan saat ini. Yah, ruang operasi yang akan menentukan selamat atau tidak Viona dan janinya yang bahkan belum tumbuh begitu besar dan kuat. Seorang diri Axel duduk dengan banyak doa yang terus ia selipkan. Berharap nasib baik masih menimpa keluarganya saat ini, mata pria itu sudah entah berapa kali menjatuhkan air matanya.


“Axel!” Ia menoleh ketika panggilan suara itu menggema di lorong yang tak jauh darinya berada saat ini.


Yah, serombongan keluarga telah datang menemani duka pria itu saat ini. Axel pun berdiri menyambut kedatangannya.


“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Viona bunuh diri? Bagaimana keadaannya saat ini?” Itulah pertanyaan yang keluar beruntun dari bibir Nada.


Wanita itu sampai bergetar tubuhnya memegang kedua bahu sang menantu. Air matanya sudah basah merembes ke seluruh wajah dan pakain depannya.


“Bu, biarkan Axel menjelaskan dulu.” ujar Danish. Sedang semua keluarga nampak berdiri menunggu Axel menceritakan dengan wajah tak sabaran mereka.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi, Bu. Yang jelas ketika aku datang Viona sudah berteriak histeris, bahkan saat aku ingin mendekatnya ia langsung menancapkan benda itu di perutnya. Entah apa yang di lakukan Raisa pada Viona.”


Ada yang merasa heran ada juga yang bertanya. Apa yang Raisa lakukan? Siapa Raisa itu? Begitulah pertanyaan di benar mereka.


Nada dan Danish saling menatap mendengar nama Raisa di sebut. Sebab mereka hanya mendengar nama Raisa terakhir ketika berita di Swiss. Dimana wanita itu justru membongkar semuanya tentang kematian Tiara pada Viona.


“Axel, dimana wanita itu sekarang? Apa yang membuatnya membawa Viona?” tanya Danish sembari memeluk sang istri.


Axel pun mengatakan jika keinginan Raisa adalah tak ada satu pun wanita yang bisa memilikinya. Termasuk Viona. Ia sendiri pun merasa seperti berada di dunia drama dimana adegan begitu mengerikkan benar-benar terjadi pada kehidupannya. Jika boleh jujur Axel pun tak mengira Raisa senekat itu.


Di ingat momen pertama kali ia meminta tolong pada Raisa, suatu kesalahan yang berulang-ulang Axel umpat dalam hatinya. Kebodohannya mengundang makhluk jahat itu sampai membuatnya kesulitan meminta Raisa pergi dari hidupnya lagi, satu hal yang tak di sangka justru begitu mengancam kehancuran pernikahannya bahkan calon anak yang sangat di nantikan satu keluarga besar saat ini.


“Ayah, bagaimana Viona? Ibu ingin memperbaiki semuanya. Ibu benar-benar menyesali ini semua.” Nada menangis dalam dekapan sang suami. Jujur Danish pun merasakan hati yang begitu hancur.


Trauma masih membekas jelas di ingatan mereka kehilangan Tiara yang begitu mendadak. Bagaimana mungkin mereka harus kembali kehilangan buah hati mereka yang baru beberapa bulan di nyatakan bebas dari penyakit bawaannya selama ini.

__ADS_1


Hati orangtua mana yang tak akan hancur jika menjadi Nada dan Danish. Ingin rasanya mereka bernafas satu hari saja dengan lega tanpa memikirkan penyakit yang menimpa anak mereka dan masalah yang terjadi.


Sayangnya, sepertinya sang pencipta sedang ingin mengangkat derajat mereka hingga tak habisnya memberikan cobaan yang kian berat.


Semua pun duduk di depan ruangan itu menunggu kabar dari ruang operasi. Dokter tentu sangat berhati-hati melakukan tindakan di perut Viona yang masih menancap benda tajam itu. Sebab di sana ada kantung janin yang sedang melekat untuk bertumbuh kembang.


Suara bangun dari duduk mereka serentak terdengar ketika jam menunjuk pada angka empat pagi. Dimana pintu ruangan operasi telah terbuka dan seorang dokter sudah keluar menyapa keluarga korban.


“Dokter, bagaimana istri saya?”


“Dokter, anak saya selamat kan?”


Pertanyaan dari kedua orangtua Viona dan Axel membuat dokter membuka masker dan mengucap syukur.


“Alhamdulillah, Bapak, Ibu, pasien masih baik-baik saja. Begitu pun janin yang syukurnya tidak mengenai benda tajam itu. Operasinya berjalan lancar, saat ini pasien masih dalam pengaruh obat bius. Kami pun sudah memastikan jika benda tajam yang berkarat itu tak meninggalkan kotoran di perut pasien. Setelah itu kami akan memindahkan langsung ke ruang perawatan.”


Dokter menjelaskan banyak hal hingga semua bisa menghela napas dan duduk dengan perasaan lega sekali. Nada yang tak kuat menahan gemetar di tubuhnya sejak tadi sampai di papah oleh sang suami agar duduk dan bersandar padanya. Wanita itu benar-benar lemas saat ini.


Namun, semua tak ada yang mengindahkan ucapan Axel. Mereka semua justru duduk di lantai yang beralaskan ambal mahal desain rumah sakit itu. Sofa bed yang ada menjadi tempat Lillia dan Zaniah seperti yang mereka semua minta. Anna dan Danny pun juga turut duduk di lantai.


Mereka semua akan menunggu di ruangan itu sampai waktu yang belum bisa mereka tentukan.


Sedangkan di tempat lain, Raisa menangis baru merasakan tidak enaknya hidup di dalam jeruji besi.


“Aku harus keluar dari sini. Aku tidak mau tua di penjara. Mamah dan papah pasti akan mengeluarkan aku secepatnya. Dan Axel, kalian harus mencabut tuntutan ini. Aku tidak akan mau selamanya di sini.” sampai matahari terbit di luar sana, wanita itu tak kunjung terlelap.


Dinginnya lantai di dalam sel membuat Raisa tak bisa sama sekali memejamkan mata. Tubuhnya terasa mulai lelah, ingin berbaring di tempat yang nyaman berbalut selimut tebal namun tak bisa ia dapatkan saat ini.

__ADS_1


“Apa yang kau rasakan?” Suara berat dan tegas itu terdengar menyapa ketika baru saja Raisa ingin menutup mata tak kuasa menahan kantuknya.


“Axel, akhirnya kau datang juga…” wanita itu dengan mata berbinar seketika berdiri. Hendak menggapai tangan Axel namun secepat kilat pria itu menjauhkan tangannya.


Tatapannya begitu dingin. Wanita ini adalah orang yang hampir saja melenyapkan istri dan anaknya. Melihat tatapan dingin itu Raisa pun menggeleng pelan.


“Axel, aku sama sekali tak berniat melakukannya. Aku tidak ingin melakukan itu, Xel. Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf.” Dengan pandainya Raisa merubah raut wajah menjadi begitu menyedihkan.


Seolah ia lupa dengan semua ucapannya pada Axel yang mengatakan jika ia tidak tahu apa-apa tentang penculikan Viona.


“Kau harus menerima semua akibat yang kau lakukan Raisa. Kau hampir saja melenyapkan nyawa istriku. Dan apa katamu? Minta maaf? Tidak. Tidak akan ada kata maaf untukmu, Raisa.” Axel melangkah pergi menjauh. Meski enggan meninggalkan Viona yang masih di tangani dokter kembali akibat histeris, namun pria itu datang memenuhi panggilan untuk memberikan kesaksian dan kelanjutan akan proses hukum yang akan di berikan pada Raisa.


Axel memilih pergi karena sudah sangat muak melihat wanita itu. Ingin rasanya jika bisa, Axel membawa pisau tajam yang di pakai sang istri untuk ia tanpa pada perut Raisa.


“Axel! Tunggu!” Teriak Raisa sama sekali tak membuahkan hasil.


Wanita itu terduduk lemas memegangi jeruji besi menangis. Memohon agar Axel murah hati padanya. Namun, ketika yang di panggil tak kunjung tiba. Justru sepasang suami istri sudah terlihat dari kejauhan.


Dan kini di depan Raisa ada seorang polisi membuka jeruji tempatnya berada.


“Mari saudari Raisa.” Dengan tangan di borgol Raisa di bawa ke ruang tempat pengunjungan tahanan.


“Lepaskan tangan saya!”


“Maaf, tidak bisa.” sahut Polisi yang enggan menerima permintaan Raisa untuk melepas borgol itu.


Pemandangan pertama kali melihat anak satu-satunya begitu memalukan, tanpa bisa menahan diri satu tamparan keras melayang ke pipi sang anak. Pria berjas mahal itu begitu marah, sampai dadanya terlihat kesulitan mengatur napas.

__ADS_1


Wajahnya merah padam dengan tubuh gemetar mengangkat tangan dan melihatkan jari telunjuknya di depan wajah cantik Raisa.


“Apa yang kamu lakukan, Raisa?!” Pertanyaan gemetar dan pelan penuh penekanan jelas menggambarkan betapa kuatnya pria itu menahan suara yang ingin sekali pecah saat itu juga. Sakit, malu, dan kecewa begitu jelas tergambar dari setiap nada bicaranya saat itu yang tertahan.


__ADS_2