
Keras kepala Viona tanpa Axel ketahui, sampai saat ini pun Viona masih saja mengirim kue buatannya untuk sang nenek. Besar harapannya bisa berbaikan dengan Yara dan mendapatkan maaf. Meski sang suami sudah tak memberi izin pada Viona untuk datang mengunjungi wanita tua itu.
Sudah berjalan hampir tiga bulan Viona tak pernah bosan mengirimkan kue via kurir. Bahkan ia tak perduli jika sang nenek akan membuang kue itu.
“Vio, kenapa sekarang kamu jarang melukis lagi?” Malam ini Axel nampak bertanya di atas ranjang sembari mengusap perut sang istri.
Waktu yang sudah hampir larut membuat Vino lelap di tempat tidurnya sendiri. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat mandiri. Ketika pagi barulah ia kembali bangun. Meski begitu Viona masih sering memberikan sang anak susu ketika matanya terpejam.
“Aku lagi sibuk buat-buat kue, Kak. Sekarang aku senang banget jadi ketagihan deh buat kuenya.”
Axel menatap penuh curiga pada sang istri.
“Kamu nggak lagi datangin nenek dengan bawa kue itu kan?” tanya Axel dan Viona menggeleng. Kali ini ia tidak bohong pada sang suami. Karena memang dirinya hanya di rumah saja.
__ADS_1
Axel pun menghela napas lega. Ia bergegas membaringkan tubuh usia keduanya melakukan olahraga panas malam itu. Viona yang sulit tidur semenjak kehamilan keduanya ini nampak sibuk bermain ponsel. Ia tak sengaja membuka pesan yang di kirim oleh sang ibu. Dimana pesan itu sepertinya pesan yang di teruskan dari nomor lain.
“Nenek memakan kuenya sembunyi-sembunyi di dapur jam empat subuh.” Itu pesan yang membuat Viona tersenyum sembari melihat gambar yang di kirim oleh Nada.
Hati Viona mendadak lega, selama ini ia sering bertanya apa halaman rumah sang nenek yang menjadi tempat pembuangan kue kirimannya itu? Ternyata hari ini ia mendapatkan jawabannya.
Malam itu pun Viona memejamkan mata dengan perasaan senang. Hatinya benar-benar lega. Ia sampai menelungkupkan wajah di dada sang suami menikmati malam yang sangat indah ini. Axel yang sadar akan pergerakan sanv istri segera mendekap erat tubuh Viona. Di kecupnya kening wanita itu sembari berkata,
“Good night, Vio.”
Suara tawa kecil milik Vino samar terdengar di telinga sang ayah.
“Hey, dinginnya? Sini mandi sama ayah saja yah?”
__ADS_1
“Biar aku selesaikan sayang.” Viona patuh membiarkan kedua pria tampannya itu mandi dan Viona sendiri menuju daput usai membersihkan wajah dan gigi. Ia akan membuatkan sarapan untuk anak dan suaminya.
“Pagi, Vio…baru bangun yah?” Viona sempat terperanjat kaget melihat sang ibu tiba-tiba menyapanya di dapur.
“Ibu?”
Nada tersenyum melihat ekspresi sang anak. Ia tahu Viona pasti tak menyangka jika Nada akan kembali datang menjenguknya. Pasalnya sudah lama sekali mereka tak bertemu pandang hanya berkomunikasi dengan ponsel.
Rasanya Nada benar-benar tersiksa menahan rindu Viona dan juga Vino.
“Mana cucu ibu?” Viona mengerjapkan kedua mata syok. Ia menunjuk ke arah kamar.
“Masih mandi sama ayahnya, Bu.”
__ADS_1
Nada hanya terkekeh, ia tahu benar jika Viona pun masih tak menyangka jika hari ini ia datang ke rumah sang anak. Dimana sang nenek pasti akan marah besar setelahnya.