
“Nyonya Viona?” Suara dari Bi Sila nampak langsung membuatnya membungkam bibirnya sendiri. Bagaimana pelayan itu tidak syok melihat Viona yang baru keluar dari dalam kamar sang tuan muda. Bisa di bayangkan bagaimana kemarahan Axel ketika tahu sang istri berani memasuki kamar yang sudah jelas ia melarangnya masuk.
Semalaman Viona tidur di kamar yang penuh dengan kenangan sang kakak. Sakit, tidak. Viona tidak merasakan sakit sama sekali di hatinya. Mungkin karena luka yang Axel beri padanya sudah begitu dalam hingga tak lagi bisa di rasakan oleh Viona saat ini. Yang ia cari semalam hanya ketenangan untuk tidur di dekat pria kejam itu.
“Nyonya, Tuan tidak marah?” Sang pelayan kembali mendekati Viona. Dan Viona hanya menggeleng.
“Dia tidur dan tidak tahu kalau saya di dalam, Bi. Saya gelisah tidak bisa tidur kalau tidak mencium bau tubuhnya.” Jujur Viona rasa lebih baik. Pelayan pun tahu apa penyebab itu semua. Tentu karena kehamilan Viona.
Sang janin seperti tengah merindukan ayahnya. Meski belum menampakkan diri ke dunia, dia tetaplah benih hasil dari pria tersebut.
“Nanti tolong sisihkan satu pakaian kotor Kak Axel, yah Bi? Semalam saya mencari di keranjang tidak ada. Terpaksa saya tidur di kamarnya.” Viona pergi setelah mendengar pelayan mengiyakan permintaannya.
Ada rasa kasihan juga melihat Viona harus seperti itu demi mencari ketenangan diri. Sudah seharusnya ia mendapat kasih sayang yang lebih dari sang suami. Sebagai pelayan, Bi Sila hanya bisa menjadi saksi mata perjuangan Viona tanpa bisa melakukan apa pun.
"Nyonya yang sabar dan kuat yah?" Viona tersenyum tanpa mengatakan apa pun saat mendengar ucapan kepala pelayan itu. Ia bergegas pergi dari depan kamar Axel sebelum pria itu bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Pagi itu semua berjalan dengan baik seperti biasa tanpa Axel ketahui jika kamar miliknya dan Tiara sudah tersentuh oleh tubuh sang istri. Ketika sedang sarapan pria itu nampak menikmati makanan sembari bertelpon. Ia terdengar tengah membujuk seseorang di seberang telepon yang entah siapa.
"Tolong kali ini saja saya meminta bantuanmu." Axel kembali berucap kala wanita di seberang sana menjelaskan penolakannya. Kini Axel memang tengah menelpon seorang wanita. Bukan tanpa alasan, sebagai seorang pembisnis tentu semua akan ada keuntungan yang ingin ia dapatkan dengan setiap melakukan sesuatu.
"Axel, aku tidak bisa. Malam ini aku harus terbang ke Kalimantan. Aku sudah ada janji dengan teman ku di sana." Dia adalah Raisa, teman dekat sang mantan kekasih Tiara.
Axel tak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Minimnya pertemanan dengan seorang perempuan membuatnya hanya bisa berharap dengan Raisa. Rasanya jauh lebih baik meminta tolong pada wanita lain dari pada sang istri.
"Malam ini aku benar-benar butuh bantuanmu, Raisa. Tolong aku butuh teman wanita untuk memenuhi undangan makan malam dengan klien dari luar negeri ini malam nanti. Aku harap kau tidak lagi menolak dan bersiap pukul tujuh malam sekertarisku akan segera menjemput." Panggilan pun terputus seketika.
Raisa menggeleng melihat tingkah kekasih dari temannya itu. "Tiara, apa ini alasan kamu pergi meninggalkan pria pemaksa itu? Huh kenapa Axel berubah begitu menyebalkan?" gerutu Raisa saat melihat ponselnya sudah tak terhubung dengan panggilan Axel lagi.
"Bi, tolong siapkan pakaian untuk saya pergi malam ini." pintah Axel seperti biasanya. Bi Sila tentu saja sangat paham dengan semua permintaan sang tuan muda. Ia menyanggupi perintah dari Axel dan pria itu segera meninggalkan rumah.
Tanpa sadar semua bermula dari pemaksaan Axel yang meminta pada Raisa, tak ada yang sadar jika sesuatu telah ikut berubah.
__ADS_1
"Sedang apa, Bi?" tanya Viona yang kala itu ingin mencari pakaian kotor sang suami justru melihat Bi Sila tengah memasuki kamar Axel.
"Nyonya, ini Tuan sedang meminta saya menyiapkan pakaian untuk pertemuan malam ini." ujar Bi Sila yang membuat Viona mengerutkan dahi ingin tahu.
"Pertemuan? Apa perusahaan ada acara, Bi?" tanyanya semakin penasaran.
Jika perusahaan ada acara bukankah seharusnya seorang pemimpin yang memiliki istri akan mengajak juga pergi? Tapi Axel tak mengatakan apa pun pada Viona mau pun Bi Sila. Itu artinya Axel tak mengajak dirinya malam ini. Viona tersenyum kecut saat memikirkan semua itu. Bagaimana mungkin ia berpikir dirinya akan di ajak. Melihatnya saja Axel tak sudi. Viona merasa dirinya mulai melunjak ingin mendapat pengakuan dari Axel. Apakah karena dirinya tengah mengandung anak Axel saat ini, atau karena ia tidak ingin jika sang suami justru terlihat seperti pria single di depan banyak orang. Entahlah, Viona sendiri tidak mengerti.
"Tidak ada setahu bibi, Nyonya." jawaban Bi Sila pun membuat Viona memilih acuh dan beralih pada pakaian kotor milik Axel. Wajahnya nampak tersenyum lebar saat melihat pakaian yang di keranjang. Itu artinya malam ini ia tidak perlu repot untuk masuk ke dalam kamar sang suami.
Pagi berlalu begitu cepat hingga sore hari pun telah tiba. Dimana Axel pulang dengan waktu yang lebih cepat dari biasanya. Kini pria tampan itu jauh lebih sibuk hingga tak memiliki waktu lagi untuk bersedih-sedih. Pikirannya hanya kerja-kerja dan kerja. Sekali pun Tiara telah pergi, masih ada jantung yang tersisa di tubuh Viona saat ini yang akan hidup berdampingan dengannya.
"Selamat sore, Tuan. Pakaian anda dan semua perlengkapan lainnya sudah saya siapkan di kamar..."
"Terimakasih, Bi." tutur Axel kala Bi Sila belum saja menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Makan malam pun ia tinggalkan begitu saja di rumah sebab Axel akan makan malam di luar. Penampilannya yang sempurna begitu mempesona malam ini. Dengan aroma parfum yang sangat menggoda setiap indera penciuman siapa pun yang ia lewati. Axel bergegas meninggalkan rumah tepat pada pukul setengah tujuh malam di temani supir menuju kediaman milik Raisa, teman Tiara saat masih hidup. Hanya wanita ini yang bisa Axel andalkan. Sebab minimnya berteman dengan seorang perempuan membuat Axel bingung harus mengajak siapa untuk makan malam, yang jelas tidak untuk Viona.
Saat pertama kali bertemu dari sekian lama, kini Raisa terdiam di tempat kala pria itu menggeser pintu mobil dimana Raisa harus duduk. Raisa tak bisa berkata-kata lagi melihat penampilan Axel yang bisa melebihi kata sempurna. Pria itu semakin memancarkan sinarnya ketika tidak ada lagi Tiara di sampingnya, menurut Raisa.