
Sikap diam yang biasa selalu Viona tunjukkan kini tak ada lagi, tatapan matanya terlihat sangat memancarkan aura permusuhan. Viona yang lemah sudah tak ada lagi. Wanita itu berdiri dari duduknya dan menatap Raisa begitu lekat. Marah tentu saja, dalam satu hari ia mendengar dua orang membandingkan dirinya dengan sang kakak. Tidak. Viona sangat tidak suka di bandingkan. Sadar mereka memang bukanlah orang yang sama, tidak seharusnya prebandingan itu Viona dapatkan.
"Memang siapa yang bilang aku dan Kak Tiara sama? Jangan anda pikir saya akan diam saja. Kenapa mengatakan saya yang jahat? Bukankah sebaliknya. Siapa yang lebih jahat berniat mendekati suami orang? Kak Raisa sadar kan Axel adalah suamiku? Atau jangan-jangan selama ini menyangkut pautkan nama Kak Tiara agar bisa mendapatkan Kak Axel?" telak Viona menyekak mati ucapan Raisa.
Lantas wanita itu gelagapan bingung harus menjawab apa. "Aa-apaan sih kamu, Vio? Axel itu kekasih sahabat aku. Bahkan aku benar-benar nggak nyangka loh Tiara hilang malah kamu yang maju. Benar-benar nggak habis pikir deh..." Viona mendengar ucapan Raisa semakin kesal ia menarik napasnya dalam tak lagi sanggup beradu mulut dengan Raisa.
"Kalau bukan aku yang maju, lalu siapa? Maunya anda?" Viona semakin dekat ingin menyerang Raisa, namun wanita itu justru tertahan oleh Axel yang mendengar keributan segera mendekati wanita yang hendak ribut itu.
Pria itu memeluk tubuh Viona dari belakang, ia membawa sang istri menjauh dari Raisa. Tak perduli jika snag istri memberontak dari pelukannya. Raisa yang sangat yakin jika Axel tak mendengar perdebatan mereka pun segera meninggalkan tempat itu.
"Axel, aku pamit yah?" ucapnya yang hanya mendapat anggukan kepala dari pria itu.
"Vio, Viona, tenanglah. Ada apa denganmu?" Axel berucap setelah melepaskan pelukannya. Sebab ia yakin jika dirinya datang terlambat sedikit bisa saja Viona akan memukul Raisa. Ia sendiri tidak begitu mengenali sang istri sampai jauh. Pernikahan yang masih berjalan empat bulan membuat Axel masih perlu waktu memahami karakter sang istri.
Viona pun melangkah menelusuri tepi danau itu menjauhi sang suami yang menatapnya lekat sedari tadi. Kekesalan semakin terasa di hati Viona saat ini. Sudah cukup rasanya serangan demi serangan ia dapatkan bertubi-tubi dari sang suami hingga keluarganya tanpa ia tahu penyebabnya. Kini Raisa datang kembali membuatnya semakin marah, Viona tidak akan berpikir dua kali untuk memukul wanita yang bukan siapa-siapa baginya.
"Aku minta maaf. Aku minta maaf, Viona. Oke?" tanyanya melangkah mendekati sang istri.
Mendengar itu Viona masih enggan merespon. Ia tetap berdiri membelakangi sang suami. Emosinya masih begitu sulit ia padamkan. Wajah Viona yang putih pun nampak merah sekali.
Pelan, hangat wanita itu merasakan pelukan dari arah belakangnya. Sebuah dagu bersandar pada pundaknya saat ini. Masih diam, Viona tak mengatakan apa pun juga.
Wanita itu hanya berusaha melepaskan tangan yang sudah memeluk tubuhnya hingga mengunci kedua tangannya saat ini.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku lelah, Vio. Ayolah kita berdamai. Anak kita butuh suasana yang menyenangkan, bukan untuk ribut seperti ini terus menerus." ujar Axel membuat dada Viona terasa berdenyut. Entah apa yang ia rasakan mendengar penuturan sang suami yang lembut seperti itu.
"Mau kuliner lagi?" tanya Axel berusaha membujuk Viona namun wanita itu masih diam saja tak merespon.
Axel berpikir sembari mengeratkan pelukannya. Jangan sampai sang istri terus stress hingga tekanana darahnya naik. Axel tidak ingin terjadi sesuatu dengan Viona.
"Kita shopping?" lagi Axel bertanya, Viona hanya menggeleng.
Segera Axel pun melepaskan pelukannya dari arah belakang dan memutar tubuh Viona lalu memegang kedua lengannya. Matanya menatap lekat kedua mata sang istri.
__ADS_1
"Mau apa? Ayo katakan..."
"Aku ingin naik perahu di danau ini." sahut Viona yang enggan menatap sang suami dan memilih melihat danau yang luas di depannya.
Kisah film yang sangat populer pada masanya di mana seorang pria dan wanita menaiki perahu di danau menjadi cerita favorit bagi Viona. Yah, gadis cantik mungil yang juga menderita penyakit organ hati. Sedikit memiliki kesamaan namun beda penyakit. Itulah yang membuat Viona sangat suka dengan semua yang terjadi di film itu.
Bayangannya saat ini seprtinya sangat seru ketika menaiki perahu di temani seorang pria yang sangat di cintai. Sayangnya Axel bukanlah pria itu.
Mendengar keinginan sang istri, Axel seketika menyanggupi. "Oke, sekarang juga akan aku minta orang membawakan perahu kemari. Ayo duduk di sana," di genggamnya tangan Viona lalu di bawa ke sebuah kursi yang semulai Viona duduki.
Berharap dengan memenuhi semua keinginan Viona, sang istri tak lagi marah padanya. Axel ingin sang anak tumbuh dengan baik di dalam kandungan sang istri.
Satu jam setelah Axel menghubungi seseorang untuk mencarikan perahu kini akhirnya benda tersebut tiba juga di hadapan keduanya. Berbinar mata Viona menatapnya, tanpa ia tahu pikiran Axel pun jatuh pada lukisan danau yang sangat familiar. Yah lukisan itu sama persis dengan gambar di sebuah film dimana seorang wanita yang rela mendonorkan hati pada wanita yang di cintai sahabat pria nya tersebut.
Ada perasaan sedih yang mendalam mengingat kini Tiara sudah tenang di alam sana dengan menyisahkan jantung untuk tubuh Viona agar tetap bersama sang kekasih.
Perjuangan yang tidak mudah bagi banyak orang. Hanya untuk orang-orang berhati tulus yang bisa sebesar itu memberikan hidupnya demi sang kekasih.
"Kak Axel, cepetan aku pengen naik." suara Viona yang mendadak ceria melihat perahu itu sudah di turunkan di danau membuat Axel tersadar dari lamunannya.
Pria itu buru-buru menoleh di mana Viona berteriak memanggil namanya. Wanita itu nampak kegirangan sekali sampai lupa jika saat ini ia sedang marah seharusnya dengan Axel mau pun Raisa. Kaki putih Viona sudah lebih dulu turun di tepi danau membuat Axel sangat panik.
"Viona!" teriaknya berlari menuju sang istri. Axel sangat takut sampai terjadi sesuatu dengan Viona. Pasalnya danauu itu sangat jarang di sentuh oleh mereka. Hanya sekedar untuk pemanis pemandangan vila yang mereka tinggali saja.
Tanpa berkata apa-apa Axel menggendong Viona untuk naik ke atas perahu. Viona terus tersenyum senang duduk di depan sementara Axel di belakang mendayung perahu tersebut.
"Kak, ke arah sana yah?" tunjuk Viona yang mendekati jembatang gantung di atasnya.
"Iya, sabar yah?" ujar Axel terus mendayung dengan hati-hati.
Keduanya nampak sangat akur tidak seperti biasa. Sepanjang mengelilingi danau Viona pun terus mengabadikan momen mereka. Axel yang tak biasa di ajak berselfi sampai bingung harus bagaimana.
"Tangan sebelah di angkat, Kak. Bentuk V gini loh." ajar Viona yang hanya di ikuti oleh Axel.
__ADS_1
Pemandangan yang begitu indah memang, danau yang jernih serta jembatan yang sangat estetik menambah kesan sangat romantis di foto tersebut. Hingga beberapa jam mereka menghabiskan waktu terus menyusuri danau itu. Axel yang mulai lelah mengajak untuk kembali ke daratan.
"Kalau kakak tidak mau, aku bisa kok mendayung sendiri." ujar Viona kesal kembali mendengar Axel yang meminta naik.
"Vio, di sini kita sudah terlalu lama. Istirahat dulu, besok-besok masih bisa kan main lagi?" ujar Axel terdengar begitu sabar.
Viona pun yang mencermati kata-kata sang suami akhirnya menganggukkan kepala. Mereka naik di bantu oleh pelayan laki-laki yang menarik perahunya. Sedangkan Axel menggendong Viona agar tak terkena air kakinya.
"Em...wangi banget yah?" gumam Viona memejamkan mata saat berada di gendongan belakang Axel. Aroma parfum serta minyak rambut sang suami membuatnya terlena sesaat.
"Nyonya Viona tiduryah, Tuan?" suara sang pelayan yang bertanya pada Axel membuat Viona sontak membuka matanya kaget.
Axel sudah menoleh dan tersenyum menatapnya dari samping. "Iya, Bi." jawab Axel yang langsung membawa sang istri masuk kamar untuk beristirahat..
"Tidurlah, nanti kita akan jalan-jalan lagi." ujar Axel membuat Viona salah tingkah.
Wanita itu pun berbaring, hingga tak lama kemudian di kejutkan dengan suara ponsel yang beberapa kali terdengar suara notifikasi dari salah satu aplikasi di ponselnya.
"Wah selamat yah, Vio...semoga baby moonnya lancar."
"Hati-hati di sana yah, Viona." komentar dari ibu mertua, dan juga nenek mertua membuat Viona tersenyum kecil.
Barusan memang dirinya mengupload foto kebersamaan dengan sang suami tanpa pria itu ketahui. Sebab mereka memang tidak berteman di akun mana pun sebelumnya. Dan Axel bukanlah pria yang selalu update denga berita apa pun di sosial media, kedua akun mereka sama-sama memiliki privasi. Anda Viona melihat akun sang suami mungkin hatinya kembali sakit. Dimana semua postingan di akun Axel adalah foto kemesraannya dengan sang kekasih, Tiara.
Axel yang bekerja pun di kamar itu sesekali melirik pada sang istri yang tersenyum-senyum sendiri menatap ponsel di depannya.
"Seorang istri di larang mengagumi pria lain meski hanya di foto saja." ketus Axel yang membuat Viona mendelik tak suka mendengarnya, ia kembali melanjutkan aktifitas menyenangkan itu. Yah, diam-diam Viona tersenyum karena merasa lucu dengan ekspresi wajah tegang Axel yang di paksanya untuk berpose.
Jika tak mengingat di kamar ada sang suami, rasanya Viona ingin tertawa terpingkal-pingkal. Wajah tampan di ponselnya sangat menggemaskan. Ketika di suruh senyum, pria itu hanya menarik dua sudut bibirnya lebar tanpa senyuman sama sekali. Ketika di suruh berpose dengan tangan, Axel benar-benar menampakkkan wajah datar sembari menunjukkan jemarinya. Bahkan ketika ia mengomel karena di suruh terlalu banyak gaya, Viona tetap memotretnya alhasil bibir pria itu komat kamit di kamera.
"Hahahaha hahahaa..." Tak tahan lagi Viona menahan tawa, ia terus berguling-guling tertawa di atas kasur membuat Axel hanya menatap kesal.
Entah mengapa dirinya jadi merasa sedang di tertawakan saat ini. Di dalam hati yang paling dasar ada kepuasan sendiri melihat Viona bisa tertawa lepas seperti itu.
__ADS_1