Heart For My Sister

Heart For My Sister
Kerasnya Hati Ama


__ADS_3

Rumah yang sudah berapa hari sunyi kini kembali terdengar ramai lagi, bahkan kedatangan mereka ke rumah kini bertambah dengan suara bayi tampan yang mereka beri nama Alvino Dharmendra. Bayi itu tampak tertawa sendiri sembari memainkan kedua tangan mungilnya di gendongan sang ayah. Axel menatap sang anak penuh kasih. Sedangkan Viona sudah ia bawa istirahat di kamar. Melihat raut wajah sang istri kembali sedih sepertinya Viona teringat Tiara lagi. Berharap semuanya segera membaik dan mereka bisa hidup bahagia bersama.


"Axel, ayah dan ibunya Viona kenapa nggak juga datang yah? Padahal ibu sudah memberikan informasi tentang Viona yang kita pulangkah ke rumah." ujar Anna mendekati sang anak merasa penasaran dengan sang besan yang tak kunjung memunculkan wajahnya.


Bukan merasa berat ketika harus kerepotan sendiri. Namun, tidak biasanya orangtua Viona sama sekali dalam sehari tak berkunjung. Sedang Axel yang paham penyebabnya hanya berusaha menutupi saja. Mungkin jika sedikit orang yang tahu itu akan jauh lebih bagus. Sebab, ia sendiri pun tidak ingin banyak orang tahu tentang asal usul Viona. Kasihan dengan sang istri yang pasti akan semakin sedih ketika mengetahui semuanya nanti.


"Mungkin mereka sedang kelelahan, Bu. Lagi pula aku juga sanggup kok menjaga Viona dan Vino." sahut Axel.

__ADS_1


Anna mengambil alih sang cucu dan menggendongnya beberapa kali wanita itu mencium wajah mungil sang cucu.


"Ibu juga tidak keberatan kok membantu kalian. Apa lagi ada cucu tampan begini yang buat ibu betah di sini." sahut Anna.


Tanpa mereka ketahui jika yang di tunggu-tunggu saat ini nyatanya masih saja mengurung diri di kamar. Nada enggan bertemu dengan sang ibu yang benar-benar berkeras tidak memberikan izin untuk menemui Viona dan menjaganya.


"Keluar kamu dari rumah ini dan Ama akan beri tahu pada Viona siapa dia sebenarnya. Biar anak itu tahu diri selama ini begitu merepotkan kalian. Ama melahirkan kamu bukan untuk merawat anak dari wanita memalukan itu, Nada." kesal wanita tua itu berbicara. Dan Nada masih terus mengingatnya saat ini.

__ADS_1


"Bu..." panggilan hangat dari Danish ketika memasuki kamar. Ia duduk di belakang tubuh sang istri yang menatap jendela kamar itu.


Sebagai suami ada rasa bersalah yang amat besar Danish rasakan. Jujur ini semua karena kecerobohannya.


"Ama benar-benar keterlaluan, Ayah. Dengan cara apa aku harus menghadapinya? Kasihan Viona kalau sampai tahu ini semua." ujar wanita itu begitu sedih.


Sebagai menantu yang pernah punya salah, Danish tak berani bersuara sedikit pun di depan mertua perempuannya. Bersyukur sudah ia rasakan jika wanita itu masih merestui rumah tangganya dengan Nada.

__ADS_1


"Semoga semuanya cepat ada jalannya, Bu. Kita berdoa saja semua Ama terbuka pintu hatinya ke depannya." tutur Danish memegang erat kedua bahu sang istri.


"Anna sampai mengirim pesan padaku, Ayah. Viona sudah di pulangkan ke rumah atas permintaannya. Rasanya aku tidak enak sekali membuka pesannya dan bingung harus membalas apa." curhatnya pada sang suami.


__ADS_2