
“Biarkan saja dia bersama suaminya. Untuk apa kalian masih mau merawatnya? Terutama kamu Nada. Kamu terlalu bodoh atau polos sih? Ama benar-benar tidak mengerti. Dapat apa kamu dengan prihatin sama anak yang menghancurkan pernikahan kalian itu? Justru anak satu-satunya kalian harus merelakan hidupnya demi Viona. Sejak awal Ama memang tidak setuju kamu merawat anak itu. Sudah cukup Danish, kamu membuat Nada menjadi terbebani dengan kesalahan wanita itu. Jangan lagi saat ini.”
Mendengar bagaimana wanita tua itu berkata penuh penghakiman, Danish hanya bisa menunduk tak berani berkata apa apun pada ibu mertuanya.
“Cukup, Ama. Aku sama sekali tidak ada rasa terbebani mengurus Viona. Aku tulus meski awal aku sempat kecewa. Tapi aku sadar Ama, Viona sudah tumbuh jadi anak yang baik. Bukan salahnya membuat Tiara pergi.”
Perdebatan terus terjadi di ruangan itu. Dengan wanita tua yang sebagai ibu dari Nada bersikeras untuk sang anak lepas tanggung jawab sebagai ibu Viona.
__ADS_1
Nada bahkan sampai menangis memohon untuk tidak mencaci Viona yang sudah sangat menyedihkan saat ini.
“Ama, sudah cukup. Sudah yah. Tidak ada yang salah di sini. Lagi pula wanita itu sudah tidak mengganggu pernikahan Nada dan Danish lagi. Kita pun sudah sepakat menyelesaikannya waktu itu. Kenapa sekarang di ungkit lagi? Wanita itu sudah mengakui kesalahannya menjebab Danish, tapi sampai saat ini pun dia tidak sama sekali menampakkan wajah lagi. Itu artinya semua sudah baik-baik saja. Viona pun sudah lepas tanggung jawab dari mereka. Apa lagi yang ama permasalahkan?” Kini giliran sang suami yang berucap.
Dan wanita tua itu membulatkan mata mendengar suaminya bicara begitu mudah.
“Apa bilang apa lagi yang di permasalahkan? Dia itu perebut kehidupan cucuku, Apa. Semua yang Tiara miliki dia rebut. Bahkan cinta dari pria yang sangat Tiara banggakan dia rebut juga. Sampai mati pun Ama tidak akan pernah rela, Apa.” Bergetar tangan wanita itu menunjuk Viona.
__ADS_1
Air mata wanita tua itu jatuh membayangkan kembali cucu tercintanya bahkan begitu baik pada sang adik tiri tanpa ia tahu jika adiknya lah yang menjadi sumber sakit dari sang ibu.
“Ama, semua sudah selesai. Tiara sudah tenang di sana…” tuturnya.
Enggan wanita tua itu menatap sang anak. “Apa, ayo kita pulang ke rumah mereka saja. Ama nggak bisa tidur di sini dengan wanita itu.” tunjuknya dengan sorot mata kebencian pada Viona yang ternyata sudah tidur lelap meski sesekali ia mengigau.
“Apa? Ama?” Sapa Axel yang bertepatan dengan keduanya hendak beranjak dari ruang rawat. Pria itu datang dengan beberapa bungkus makanan untuk mereka.
__ADS_1
Tanpa berkata apa pun wanita tua itu melalui tubuh Axel begitu saja. Hingga mau tak mau Axel menepikan tubuh di ambang pintu. Sedangkan pria tua yang di sebut apa segera pamitan pada Axel.
Pintu pun tertutup kembali. Axel melihat jika sang ibu mertua mengusap air mata dan sang ayah mertua menenangkannya.