
Di malam harinya rumah sakit kembali kedatangan orang yang tak di sangka-sangka. Ketukan di luar ruangan membuat Axel bergegas untuk berdiri membuka pintu. Di lihatnya sepasang suami istri yang sudah cukup tua berdiri di hadapannya. Tentu saja ia mengenal siapa orang di depannya. Dengan hormat pria itu pun mengulurkan tangan menyalami keduanya dan segera mempesilahkan masuk. Lagi untuk pertemuan kedua kali Axel kembali mengerutkan kening heran. Tatapan tak suka terlihat jelas untuknya saat ini, entah apa yang membuat mereka tak suka dengan Axel. Merasa bingung ia hanya mengikuti masuk langkah keduanya.
"Ama, Apak." sahut Nada menyambut memeluk kedua orangtuanya yang tiba-tiba saja datang tanpa mengatakan apa pun padanya. Tentu saja ia cukup terkejut sebab kemarin Danish hanya memberi kabar tentang keadaan Viona setelah menemukan keberadaan sang anak.
Nada meneteskan air mata memeluk sang ama. Tak ada yang menyangka jika wanita tua itu justru melontarkan pertanyaan yang cukup menohok hati semua yang mendengarnya.
"Untuk apa kau menangisinya, Nada?" pertanyaan yang seketika membuat Lillia, Danish, Axel menoleh seketika bersamaan juga dengan Anna dan Danny yang masih ada di sana.
Sebelumnya mereka hendak pamit namun kedatangan Yara dan Eko jauh lebih dulu membuat mereka akhirnya urung untuk sekedar bersapa hangat sebelum pulang.
"Ama..." Nada mengurai pelukan kala mendengar ucapan sang ibu.
__ADS_1
Jelas ia tahu apa arti ucapan itu, namun Nada menggeleng saat melihat sang ibu bicara di tempat yang tidak tepat. Dimana para keluarga dari menantunya ada di ruangan itu juga. Melihat keadaan yang canggung, buru-buru Anna dan Danny pulang dengan membawa sang ibu. Beralasan untuk segera pulang agar bisa membawa Lillia istirahat. Sedang Axel pun pamit untuk mengantar kedua orangtuanya.
Membiarkan keluarga sang istri berbicara sejenak tanpa dirinya. Axel yakin ada privasi yang ingin mereka dapatkan apalagi mengingat jika kehadirannya pun juga tak di sukai oleh kedua orangtua mertuanya itu.
"Axel, apa kamu merasakan juga?" pertanyaan dari Anna membuat pria itu mengangguk samar.
Anna pun menatap sang suami yang berjalan beriringan dengannya. Lillia hanya menjadi pendengar setia di samping sang cucu. Tangannya di gandeng oleh Axel dengan erat. Cucu tampannya itu begitu perhatian padanya. Itulah alasan Lillia tak butuh pendamping lagi. Semua keluarga yang bersamanya begitu mencintainya dan menyayanginya. Termasuk Viona yang sangat menurut dengannya.
"Ada apa yah?" tanya Anna menatap Danny.
Namun Axel berusaha membuat pikirannya positif jika semua baik-baik saja. Hingga tanpa mereka ketahui di ruangan ini tampak Yara menatap sinis pada Viona.
__ADS_1
"Dia sudah dewasa seperti yang ama katakan, Nada. Lihat apa yang Ama takutkan benar-benar terjadi bukan? Kamu lihat Danis? Ini dampaknya?" tunjuk wanita tua itu pada Viona yang menangis terus menerus tanpa henti.
Namun, ia tak memberontak sebab sudah jauh lebih tenang setelah dokter memberikan banyak masukan yang masih tak di respon oleh wanita itu. Seharusnya bisa mendapatkan rawat jalan, namun keadaa darah lagi-lagi membuat Viona harus di rawat. Dimana tekanan darahnya sangat rendah saat ini. Keadaan yang memukul jiwa Viona membuat ibu hamil itu sering naik atau pun turun tensi darahnya mendadak.
Nada dan Danish menggeleng tak setuju dengan pemikiran sang ibu. Di samping Yara, Eko mengusap lengan sang istri beruaha menenangkan wanita tua itu.
"Ama, ingat tensi darah. Mau gantikan Viona di situ?" ujar pria tua itu yang seketika membuat mata sang istri mendelik dari balik kaca mata minusnya.
"Viona tidak melakukan kesalahan apa pun, Ama. Ini murni takdir dan Tiara sudah mengidap penyakit yang memang sudah waktunya, Ama. Viona tak melakukan apa pun pada Tiara. Dia tumbuh dengan baik." ujar Danish yang berusaha menjelaskan pada sang ibu mertua.
Bukannya mendengakan, Yara hanya mencebik kesal mendengar sang menantu berkata demikian.
__ADS_1
"Lihat saja nanti...entah apa lagi yang anak itu buat pada kalian. Kamu terlalu polos untuk Viona yang seperti itu, Nada. Percaya kata-kata Ama. Mau apa lagi yang ingin kamu korbankan setelah ini untuk Viona?"
Danish dan Nada sama-sama menunduk mendengar ucapan sang ibu. Bukan sadar kesalahan, namun mereka tahu tak ada gunanya untuk meladeni ucapan sang ibu. Wanita itu sejak dulu selalu keras pada pendiriannya. Tak perduli dengan fakta yang terjadi, yang terpenting ia akan tetap menyimpulkan dengan pemikirannya.