
“Astaga, Kak Axel.” Viona terpekik kaget kala pagi itu ia bangun dan membuka pintu mendengar ketukan dari luar. Para pelayan Viona suruh untuk tetap melanjutkan kerjaan. Hingga akhirnya tubuh Viona termundur ke belakang saat Axel menubruk tubuhnya. Sang supir yang juga teler sudah di bantu oleh pelayan lainnya menuju kamar. Viona pun membantu sang suami menuju kamar tak perduli sepanjang jalan pria itu terus saja berteriak marah menyebut Viona wanita pembawa sial. Sedih tentu saja Viona sangat sedih. Ia tidak tahu dengan cara apa Axel bisa meredam amarah padanya.
“Berbaringlah, aku akan bantu Kakak melepas kaus kaki.” pintah Viona yang membuat Axel hanya pasrah. Satu malam pria itu habiskan untuk minum hingga pagi harinya ia benar-benar tak bisa lagi mengendalikan diri.
Axel berbaring kadang tertawa, kadang berteriak, kadang pria itu jiga menangis. Viona sangat miris melihat keadaan Axel seperti ini. Kini ia percaya rasa cinta Axel pada sang kakak sang besar.
“Kak Tiara beruntung yah mendapatkan pria yang begitu dalam mencintai Kakak. Tapi kenapa kakak harus pergi?” gumamnya bertanya. Sampai saat ini pun kabar Tiara belum bisa ia dapatkan.
Menghubungi sang kakak sama sekali tidak bisa Viona lakukan saat ini. Nomor Tiara tidak aktif.
“Ra, Tiara. Aku merindukanmu.” gumaman terus terdengar dari bibir Axel. Viona sibuk menari jas di tubuh kekar pria itu. Semua akhirnya beres dan Viona kembali berusaha memperbaiki posisi tidur Axel. Ia ingin memberikan selimut, namun tiba-tiba saja tangannya di taris kasar oleh pria itu.
“Kak?” Viona terkejut merasakan tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali.
Ia menggeleng. Tidak, Viona sadar ini tidak boleh. Ia harus segera menjauh dari Axel. Namun, kedua tangan kekar itu sangat kuat melingkar di pinggangnya.
“Kak, lepaskan!” pintah Viona yang sama sekali tak di hiraukan oleh Axel.
“Emmm…emp!” Viona memukul-mukul dada Axel namun tak juga mendapatkan hasil. Bibirnya justru sudah di kuasai oleh bibir sang suami. Axel sama sekali tak melepaskan pelukannya. Ia bergerak sangat liat menelusuri setiap rongga mulut Viona.
Tenaga Viona yang tidak seberapa benar-benar sangat memudahkan Axel saat ini. Kini Axel bahkan sampai merubah posisi menjadi tubuhnya yang berada di atas. Viona terus menggeleng tidak mau.
“Tolong! Tolong!” Kembali Viona bersuara namun bibir itu seketika di kuasai lagi oleh Axel.
__ADS_1
Viona meneteskan air mata. Axel memanglah suaminya, tapi bukan berarti ia bisa mendapat perlakuan kasar seperti ini. Tak ada sentuhan lembut sama sekali yang Axel berikan saat ini.
“Kak, aku Viona. Tolong Kak sadar. Aku bukan Kak Tiara.” Viona kembali menangis memohon saat Axel beralih ke bagian dada. Dengan kasarnya pria itu merobek baju di dada Viona. Sesapan yang begitu kuat bukan membuat Viona merasa nikmat, namun sakit yang luar biasa ia rasakan saat ini.
“Tiara, Sayang. Aku benar-benar menanti waktu ini.” ujar Axel yang justru mendengar Viona menyebut nama Tiara saja. Pikirannya saat ini sudah melihat Tiara yang ada di bawah kungkungannya.
Viona hanya menangis tanpa bisa melarikan diri. Kedua kakinya tertindih tubuh Axel, kedua tangannya di genggam Axel di atas kepala.
Pagi itu Viona menangis sejadi-jadinya setiap kali tubuhnya di hentak kasar oleh Axel. Bahkan suara pria itu yang begitu menikmati permainan benar-benar membuat dada Viona ngilu. Tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, banyak pikiran buruk yang Viona perkirakan akan terjadi.
Axel bisa saja semakin marah dan menuduhnya menggoda Axel. Bisa saja pria itu justru menghamilinya dan tidak mau mengakui perbuatan hari ini. Viona pasrah, apa pun yang terjadi tak bisa lagi di hentikan. Kala suara Axel mengerang panjang dan tubuhnya menegang sempurna di atas Viona.
Sakit seluruh tubuh dan perih di bagian inti rasanya tak sebanding dengan sakit di hati Viona. Sumpah demi apa pun ia tak rela kesuciannya di renggut dengan cara seperti ini. Dengan cara membayangkan sosok wanita lain yang tengah membuat Axel bergairah. Meski pun itu adalah sang kakak sendiri. Viona tak rela tubuhnya di tukar dengan wanita lain yang di pikiran Axel.
Axel sama sekali tak merespon pukulan Viona. Ia nyaman tertidur setelah melampiaskan hasratnya yang tertahan selama ini demi Tiara.
Viona pun menangis di kamar mandi melihat tubuhnya yang nampak banyak bekas tanda bibir sang suami. Ingin rasanya Viona pulang ke rumah dan meminta perlindungan pada orangtuanya, namun Viona sadar kebaradaan dirinya di rumah membuat sang ibu tak nyaman. Entah apa yang jelas Viona merasakan hal itu setiap kali sang ibu menghindar darinya.
Kini Viona merasa hidup bagai sebatang kara. Tak memiliki siapa pun untuk sekedar mencurahkan isi hatinya.
Waktu pun berlalu begitu cepat hingga hari akhirnya berganti menjadi sore. Hari ini Axel tak lagi bekerja. Ia tidur nyenyak di kamar dengan Viona yang memilih duduk di taman samping rumah. Mungkin hanya tempat ini yang bisa menjadikan dirinya tenang. Sederhana namun sangat bermakna di diri Viona. Bunga yang indah sedikit bisa mengobati sedihnya. Sekali pun tidak begitu berpengaruh.
Tanpa ia tahu di kamar, Axel sudah murka ketika mendapati dirinya yang aneh menurutnya. Tak memakai sehelai kain pun. Beberapa bercak darah yang tertinggal di kasur membuatnya semakin marah.
__ADS_1
“Sialan! Wanita itu benar-benar memanfaatkan aku!” Axel melempar selimut yang menutup tubuhnya dengan kasar.
Ia bergegas turun dan membersihkan tubuhnya. Axel harus segera menghampiri Viona untuk memberinya pelajaran. Jelas ia ingat jika semalam dirinya berada di hotel. Itu artinya Viona sudah menjebak dirinya untuk menyentuh wanita itu.
Axel bergegas menuju keluar kamar.
“Dimana wanita itu?” tanyanya nampak menatap tajam para pelayan yang berdiri di depannya. Axel keluar dengan wajah segarnya sehabis mandi meski matanya masih nampak merah.
“Eh Nyonya Viona, Tuan? Beliau ada di taman samping.” Tanpa mengatakan apa pun lagi, Axel sudah bergegas mencari wanita yang menurutnya sudah mencuri kesempatan saat ia mabuk.
“Beraninya kau!” Viona sampai berloncat dari duduknya kala melamun dan mendengar teriakan dari Axel.
“A-ada apa?” tanya Viona gugup. Sudah jelas ia bisa menduga bahwa Axel pasti marah soal tadi pagi.
Axel mendekat dan melihat kedua mata Viona yang sembab.
“Awh Kak sakit!” rintih Viona ketika tubuhnya di hempaskan di dinding kala itu.
Viona mundur ke belakang dengan dorongan kuat dari Axel. Kini serangan Axel bukan pada rambut, dagu, mau pun tangan. Melainkan leher. Ia sangat mengencangkan cengkraman tangannya di leher Viona.
“Ka-k, le-lepaskan!” Viona sekuat tenaga melepas tangan Axel namun tak ada hasil.
Axel semakin mengencangkan hingga matanya melotot dan tangannya bergemetar.
__ADS_1