Heart For My Sister

Heart For My Sister
Penyesalan Teramat Seorang Ibu


__ADS_3

Pencarian yang tak kunjung memberikan hasil pada akhirnya membuat Axel dan sang ayah menuju kantor polisi sebab hari pun sudah sangat larut saat ini. Semua benar-benar mencemaskan Viona.


“Ayah, kita harus ke kantor polisi meminta bantuan.” ajaknya dan mendapat persetujuan di waktu sudah menunjukkan angka setengah dua belas malam.


Kedua pria itu memberikan laporan hingga dengan cepat petugas kepolisian langsung meminta akses pada pemilik toko lukisan tempat Viona berkunjung terakhir.


Sangat cepat, tak perlu di pertanyakan lagi sebab semua adalah perintah dari Axel. Bahkan pria itu bergegas pulang mengantar sang ayah mertua dan kembali ikut bergabung dengan polisi mencari sang istri.


Tepat pukul dua subuh mereka akhirnya menemukan Viona di salah satu layar yang membayar di kasir. Hingga kembali mereka menangkap ke arah mobil di depan toko yang akan Viona naiki.


“Ayo sekarang ke tempat ini.” Mereka berpindah tempat menuju ke arah jalan yang menjadi tujuan dari arah mobil melaju.


Satu cctv ke cctv lainnya pun berhasil memberikan petunjuk pada mereka. Dan di sinilah mata mereka menemukan mobil kedua yang membawa Viona paksa dari pinggir jalan.


“Lapor, komandan. Kami menemukan satu-satunya bangunan di tempat ini.” Suara dari earphone terdengar menghubungi salah satu polisi di sana.


Mereka yang berpencar menelusuri lokasi di pinggir jalan itu segera menuju satu titik. Mata Axel menatap ke depan dimana titik sudah mereka temukan.


Suasana bangunan yang seperti bekas tempat penyimpanan barang. Bukan berbentuk rumah bahkan sangat kotor.


Jauh dari pemukiman dan sedikit dekat dari jalan besar.


“Mobil Raisa?” gumam Axel menatap heran. Bagaimana mungkin di tempat seperti itu ada mobil milik wanita itu?


“Kurang ajar!” geram Axel yang tak bisa lagi menahan emosi dan langsung berjalan cepat di ikuti polisi lainnya.


Dengan kemarahan yang tiba-tiba memuncak, kaki jenjang pria itu dengan keras menendang pintu yang tidak begitu kuat terkunci.


Brak!!!


Semua terlonjak kaget dari duduknya.

__ADS_1


“Kak Axel,” lirih suara Viona sampai tidak dapat di dengar oleh Axel.


Sungguh memilukan Axel melihat wajah kusam sang istri dengan penampilan yang begitu kacau. Viona sudah seperti orang gangguan jiwa saat ini.


Sedangkan Raisa yang berdiri nampak panik melihat siapa yang datang. Tawa puas di wajahnya semula berganti begitu cepat. Ia berjalan cepat mendekati Axel.


“Xel, ini semua nggak seperti yang kamu lihat. Mereka…mereka orang jahat yang mau hukum aku dan Viona, Xel.” Baru saja tangannya ingin melingkar di lengan Axel, nyatanya pria itu dengan kasar menghempas tangan Raisa.


“Menjauh dariku! Pak, tangkap mereka semua dan wanita ini!” Teriak Axel yang saat itu juga mencengkram kuat tangan Raisa. Sementara anak buah lainnya sudah di tangkap polisi sejak tadi.


Melihat aksi itu bukannya senang, Viona hanya menjatuhkan air mata dan tertawa sinis.


Lagi- lagi hatinya sakit melihat kedatangan pria yang selalu bersandiwara padanya. Jiwa Viona rusak dalam hitungan jam saja di buat Raisa.


Ketenangan yang baru beberapa hari ia dapatkan kini sudah hilang tak bersisa. Viona benar-benar yakin hidupnya sangat sial.


“Pergi!” Teriaknya menggelegar melihat sosok Axel mendekat ingin melepaskannya.


Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Axel melihat Viona memegang pisau berkarat yang ia arahkan ke perutnya. Tidak, Viona tidak boleh melakukan itu. Ada anak yang sedang di kandungnya saat ini. Axel pucat menatap aksi menakutkan sang istri.


“Viona! Viona, tolong jangan lakukan itu. Tolong, Vio.” bergetar bahkan suara Axel terdengar.


Jangan sampai ia salah bertindak hingga membuat sang istri benar-benar nekat saat ini. Sebab jaraknya pun pada Viona lumayan jauh.


“Aku bilang berhenti! Atau aku bunuh diri!” Viona berteriak kembali.


Axel berhenti seperti yang di inginkannya.


Hingga pada akhirnya, tanpa di sadari secepat kilat Viona menancapkan benda tumpul yang begitu kuat ia dorong ke perutnya.


“Viona!!!” Axel lari tanpa melihat sekitar banyak pecahan benda tajam.

__ADS_1


Sayang waktu tak secepat perkiraan Axel. Viona membulatkan mata merasakan tubuhnya yang mulai lemah dan perlahan ia menutup mata. Semua panik, tak ada yang menduga ini terjadi. Nyatanya Raisa sudah berhasil mencuci otak wanita hamil itu dalam hitungan jam.


Di luar gudang itu Raisa terkekeh puas mendengar teriakan histeris dari Axel. Sepertinya dugaannya tak meleset saat ini. Jika Viona memilih mengakhiri hidupnya dari pada melanjutkan hidup dengan Axel dan dengan orang-orang yang hanya bermanis muka di depan.


“Hahaha tidak ada satu pun yang memiliki mu, Axel. Termasuk Viona. Hahaha…” mobil polisi subuh itu beriring-iringan menuju rumah sakit dan ada juga yang menuju ke kantor polisi.


Sepanjang jalan Axel memeluk sang istri tanpa berani melepas benda tajam yang berdiri di perut Viona. Hancur sekali rasanya Axel melihat hal ini. Kehancuran kembali ia dapatkan dalam bulan yang berdekatan. Kepergian Tiara nyatanya bukan duka satu-satunya yang ia rasakan.


Pernikahan dan cinta yang ia bangun dalam waktu singkat untuk Viona terasa begitu lebih sakit, ada dua nyawa yang Axel inginkan hidup saat ini. Pria itu meneteskan air mata memandangi Viona sembari mencari ponsel untuk menghubungi keluarga.


“Axel, Bu.” sahut Danish di seberang sini ketika ponselnya berdering.


Semua keluarga subuh itu nampak tak ada yang tidur bahkan sekedar masuk ke kamarnya. Mereka semua duduk di ruang keluarga menunggu kabar Viona.


“Angkat cepetan, Ayah.” pintah Nada yang di jalankan sang suami.


Semua terdiam menunggu hingga pada akhirnya wajah Danish memerah dan bibirnya bergetar tanpa bisa berucap apa pun.


“Ayah, gimana?” Desak Nada yang mulai panik.


Firhan yang kala itu pun sudah hadir juga langsung mengambil alih ponsel dan bicara pada Axel.


“Apa? Viona bunuh diri?” Bagai suara petir menggelegar di ruangan itu semua memegang dada dengan bibir yang terbuka lebar.


Firhan pun sama terkejutnya, namun pria itu jauh lebih bisa mengontrol diri. Panggilan ia matikan dan saat itu pula pria tersebut meminta semua keluar dan pergi ke rumah sakit.


Para wanita sibuk dengan ciri khas mereka menangis saling pelukan di perjalanan. Hanya satu yang berbeda, yaitu Nada.


Wanita itu lebih memilih diam berusaha mencerna semua yang terjadi. Seakan kesedihannya mati saat ini memikirkan nasib anak yang tersisa satu-satunya di keluarga mereka.


Takdir terasa begitu kejam jika kembali mengambil anaknya. Namun, satu yang menjadi pikiran saat ini. Apa kah ini teguran dari sang kuasa setelah ia menyakiti Viona tanpa belas kasih? Apakah ini teguran ketika ia abai sebagai ibu dari anak yang pernah berjuang mati-matian melawan penyakit? Wanita itu memejamkan mata menggeleng. Tak ada suara yang ia keluarkan.

__ADS_1


“Bu, Viona baik-baik saja.” ujar Danish yang sangat paham pikiran sang istri saat ini.


Nada hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun pada suaminya.


__ADS_2