Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 10


__ADS_3

Happy Reading ....


Jangan lupa untuk like dan juga koment yaaa.


***


Alina membungkam mulutnya menggunakan kedua telapak tangan kemudian berbalik menghindari Arron. Bahaya jika Arron mengetahui keberadaanya di dalam pesta mewah ini. Bisa-bisa Alina akan di masak dan menjadi bubur.


Ini semua gara-gara Vano. Gerutu Alina kesal.


Tidak lama kemudian, Alina melihat Vano yang berjalan mendekat ke arahnya. Secepat kilat Alina langsung menarik Vano dan membawanya ke ujung ruangan. Sementara Vano sendiri merasa heran dengan tingakh gadis itu. Ada apa dengannya?


“Ssshh ….” Alina meletakan telunjuknya di depan bibir.


“Ada apa?”


“Tuan muda Ron.” Bisik Alina sangat pelan dan hati-hati.


“Bagus, ayo kita pergi untuk menyapa.” Balas Vano di luar dugaan.


Kemudian dia menarik pergelangan tangan Alina untuk pergi menemui Arron. Namun secepat kilat Alina melepaskan itu dan menarik Vano untuk kembali ke tempat semula. Apakah dia gila? Menyapa katanya? Benar-benar tidak pengertian.


“Ada apa?” tanya Vano lagi.


“Antar aku pulang, aku tidak ingin bertemu dengannya.”


“Why? Lihatlah dirimu, kau begitu cantik.”


Apakah Vano mengira Alina jika alasan Alina menolak untuk bertemu Arron adalah karena Alina merasa dirinya jelek seperti bebek? Ah pria ini! Padahal Alina takut jika Arron akan mengusirnya setelah ini. Alina sadar jika dirinya hanya seorang pelayan.


Gadis cantik itu menghela napas lemas. “Aku akan menerimanya, jika mungkin besok aku akan di usir.” Gumamnya pelan, namun Vano masih dapat mendengarnya.


“Apa maksudmua?” tanya Vano, namun Alina hanya menjawabnya dengan helaan napas berat. “Ya sudah, ayo kita pergi.”


“Vano Washington.” Seru seseorang yang refleks membuat Vano dan Alina menoleh ke arahnya. Seorang wanita cantik melenggang kea rah mereka. “Kau disini?”


“Jane. Senang melihatmu di sini..” ucap Vano seraya mengulurkan sebelah tangannya untuk mentapa wanita cantik bernama Jane tersebut.


Jane menjabat uluran tangan Vano, namun pandangannya malah tertuju kea rah Alina yang tengah berdiri sembari menundukan wajahnya tepat di belakang Vano. Dan Vano menyadari itu, Jane mungkin bertanya-tanya siapa gadis cantik yang di bawa olehnya.


Vano mengenggam pergelangan tangan Alina. “Maaf, Jane. Aku harus segera pergi.”


Namun Jane dengan cepat mencegahnya. “Kau belum memperkenalkannya kepadaku.”


“Dia mabuk, lain kali akan aku perkenalkan.” Jawab Vano cepat seraya membawa Alina keluar dari pesta.


“Ah … Dia aneh.” Jane mengedikkan bahunya, berbalik kemudian kembali berbaur dengan tamu lainya.


Alina dapat bernapas dengan lega karena kini Ia sudah berada di dalam mobil dan tengah menuju arah pulang. Syukurlah jika dia tidak sampai bertemu dengan Arron, jika sampai itu terjadi, maka tamatlah riwayatnya.

__ADS_1


“Ini untuk yang terakhir kalinya aku menurutimu.” Ucap Alina dengan nada memprotes.


“Bukankah kau menikatinya?”


“Apa? Bagaimana mungkin aku menikmatinya. Mereka semua orang-orang besar, dan aku bukanlah siapa-siapa.” Dia terdiam sejenak sembari menatap Vano yang tengah focus menyetir dan mengabaikan perkataanya. “Siapa wanita cantik tadi?”


“Dia adalah teman sekolahku dulu, Jane.”


“Dia cantik, dan terlihat pintar.”


“Ya. Jika ada orang sempurna seperti Arron, maka Jane adalah versi wanitanya.”


“Benarkah? Ah~ Dia sangat beruntung.”


Vano berdecak sebal. “Berhenti mengeluh, aku akan membelikanmu makanan enak.”


**


Kini sudah dua jam berlalu semenjak Alina kembali ke kediaman WS. Dia tengah duduk di depan cermin sembari berusaha menghapus make up di wajahnya. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati karena takut menimbulkan suara berisik yang mana akan menganggu tidur ibunya.


Dia memijat wajahnya setelah selesai membersihkan make up di wajahnya. “Wajahku pegal karena menggunakan make up. Aneh. Apakah ini karena aku tidak pernah memakai make up sebelumnya?”


Alina kembali menatap wajahnya di depan cermin. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencoba membandingkan wajahnya dengan dan tanpa make up. Setelah membandingkannya dan menyadari sesuatu, wajahnya langsung mencebik kesal.


“Bukankah seekor bebek juga pernah bermimpi untuk menjadi angsa yang cantik?”


Alina berjengit kaget setelah mendengar suara itu. Lantas dia langsung menoleh ke belakang dan melihat ibunya yang sudah terbangun dan tengah melipat selimut di atas ranjang.


“Ibu! Kau mengagetkanku.”


“Sudahlah, ayo pergi untuk menjemur pakaian.” Ucap ibunya yang membuat Alina berkerut heran.


“Apa? Ini masih tengah malam.” protesnya dengan raut wajah mencebik.


“Raut malam? Apa kau bermimpi? Ini sudah pukul empat pagi.”


“Hah? Benarkah?” pekik Alina terkejut. Lantas dia langsung melihat kea rah jam dinding. Dan benar, waktu memang sudah menunjukan pukul empat pagi.


Gadis cantik itu menghela napas lelah. “Aku bahkan belum sempat tidur.”


Seperti biasanya, Alina akan membantu ibunya menjemur tepat pukul empat pagi. Dan kini dia harus melakukannya juga meskipun tidak tidur semalaman. Mungkin kini, lingkar hitam di matanya tercetak begitu jelas.


Entah untuk yang ke berapa kalinya Alina menguap dan meregangkan tubuhnya untuk menghilangkan kantuknya. Namun itu tidak bekerja dengan baik. Kini Alina merasakan pusing dan tubuhnya yang lemas. Tidak ada gairah dan semangat yang terpancar seperti biasanya.


“Kemana kau pergi tadi malam?”


“Suatu tempat.” Jawab Alina singkat.


“Tidak baik terlalu dekat dengan Tuan muda Van seperti itu. Kenali batasanmu.” Ucap ibunya mengingatkan.

__ADS_1


“Aku tahu, Bu.”


“Tinggalkan itu. Mandi dan bersiaplah untuk melayani Tuan muda Van.”


“Ya, Bu.” Jawab Alina terdengar lemas.


“Haish, anak itu!


**


Hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk Alina bersiap. Dan kini gadis cantik itu sudah berada di depan pintu kamar Vano dan tengah mengetuk pintu. Dia melakukan itu beberapa kali namun masih belum mendapatkan jawaban dari si pemilik kamar.


Dia pasti tengah tertidur nyenyak. Batin Alina. Enak sekali Vano, sementara Alina belum tidur satu menitpun.


“Ah~ Kepalaku sangat pusing.” Desahnay seraya memijat pelipis.


“Kau, kemarilah.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang memerintah. Dan Alina langsung menatap ke arah sumber suara.


Dia membeliak kaget. “T-tuan muda Ron.”


“Ya, datanglah ke ruanganku.” Perintah Arron kemudian berbalik pergi.


Ada apa ini? Apakah semalam dia melihatku di pesta? Batin Alina. Wajahnya meringis sembari menggigit bibir bagian bawahnya.


Alina berjalan dengan sangat lambat layaknya siput. Dia terus menundukan wajahnya saat mulai masuk ke dalam ruang baca Arron. Di dalam sana, ada Arron yang tengah berdiri sembari menatap keluar jendela. Dia juga tengah memegang segelas redwine di genggamanya. O Lord! Di tambah Arron yang hanya mengenakan mantel tidur saja.


“T-tuan muda ….”


“Kemarilah.”


Dan Alina berjalan mendekat.


“Kau sudah mengikuti pelatihan sebelumnya bukan?” tanya Arron dengan nada dingin yang menusuk. Dan Alina mengangguk pelan sebagai jawaban.


“Siapkan kebutuhanku hari ini.”


“Yah?” seru Alina sedikit terkejut.


“Pelayan pribadiku akan datang besok pagi.”


“Ah, baik, Tuan muda.”


Akhirnya ... Dia membutuhkanku? Ah ….


Bersambuunggg ....


-Salam sayang.


Aku pengen cari visualnya. rekomend dong yaa, tulis di koment yya.

__ADS_1


__ADS_2