Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 8


__ADS_3

Haloooo aku kembali ....


Happy Reading ....


Alina menurunkan bahunya dengan lemas dan menghela napas lelah. Benar-benar berkebalikan dengan ekspetasi Vano, dimana Alina akan senang setelah mendengar kabar ini kemudian berhambur memeluknya. Sial! Ekspresi macam apa itu?


“Jadi untuk ke depannya, aku akan terus bertemu dengannya?” tanya Alina dengan nada lemas.


Vano mengangkat sebelah bibirnya. “Hei, ekspresi macam apa itu? Seharusnya kau berteriak gembira kemudian memelukku.” Ucapnya seraya membentangkan kedua tangan. Menyambut Alina yang akan memeluknya.


Alina mendesis kesal melihat itu. “Bukankah seharusnya aku pergi saja?”


“Tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun.” Vano menggerakan telunjuknya. “Sekarang, bantu aku membereskan pakaianku.” Ajak Vano seraya menarik pergelangan tangan Alina untuk ikut bersamanya.


Aiishh … Aku merasa tidak enak hati dengan pekerjaan ini. Gumam Alina dalam hati.


Vano baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya, dan pada saat itu dia langsung menemui Alina di taman belakang ketika gadis cantik itu tengah mengintip beberapa kandidat pelayan wanita yang berdatangan. Sebab itu, dia belum sempat untuk membereskan barang bawaanya.


Aku sudah menduga ini. Gerutu Alina kesal dalam hati. Sembari menatap sebuah koper besar yang terbuka dengan beberapa barang yang berserakan di atas ranjang.


Vano menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. “Aku belum sempat membereskannya.”


“Belum sempat? Dia memang tidak pernah membereskannya.” Gumam Alina dengan nada rendah, dan Vano tidak dapat mendengarnya.


Pria tampan itu masih nyaman pada posisinya di atas sofa sembari memejamkan kedua matanya. Sementara Alina, dia mulai membongkar koper besar itu dan menempatkan beberapa barang pada tempatnya.


Dia orang kaya, seharusnya pergi tanpa membawa barang dari rumah. Dia bisa membelinya. Lagi dan lagi, Alina menggerutuinya dalam hati.


Beberapa kemeja, jas, celana serta yang lainya sudah Alina letakan kembali ke dalam walk ini closet Vano yang masih berada di dalam kamarnya. Tidak lupa beberapa arloji, kaca mata, serta aksesoris lainya. Dia melakukan perjalanan bisnis atau berlibur?


Ketika Alina tengah focus membereskannya, tiba-tiba aktivitasnya terhenti ketika kedua matanya menangkap satu benda yang begitu tidak asing baginya. Namun terlihat janggal jika benda tersebut berada di dalam koper seorang pria.


“Apa ini?” tanya Alina seraya mengangkat kain berenda berwarna merah itu ke atas.


Dan Vano langsung membuka matanya untuk melihat hal apa yang tengah di pertanyakan Alina. Dia berdecak samar, dan kemudian kembali pada posisinya semula. “Pegawai hotel tidak bekerja dengan benar.”


“Apa ini punyamu?” tanya Alina memastikan.


“Itu pasti punya seorang wanita yang sempat menginap di dalam hotelku.” Jawab Vano dengan nada enteng.


Lantas Alina langsung melemperkan kain berenda tersebut ke atas lantai, dan meringis geli. “Menjijikan.”

__ADS_1


“Bukankah kau mempunyainya, Alina?”


“HEY!” pekik Alina lantang. Dia tidak terima dengan apa yang di katakana oleh Vano barusan.


Setidaknya punyaku tidak kotor dan menjijikan seperti itu. Gerutu Alina kesal.


“Alina.” Seru Vano. Dia membenarkan posisinya dan membuka mata kemudian menatap kea rah Alina. “Seumur hidupmu hanya berada di kediaman ini. kau hanya keluar untuk bersekolah. Kau sudah lulus sekarang, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan bekerja sampai tua? Tidak akan menikah?”


Alina tertegun mendengar itu. Vano benar. Tapi tidak, cinta hanya akan membuat kehidupanmu rumit saja. Seperti ayah yang meninggalkan ibu dan aku. Ibu harus bekerja menjadi pelayan di kediaman ini.


“Apa yang aku khawatirkan? Usiaku masih delapan belas tahun.” jawab Alina cepat.


“Pergilah untuk kencan buta.” imbuh Vano.


“Hah?”


“Kencan buta.” Vano mengangkat kedua halisnya untuk menggoda Alina. “Tapi tunggu. Kau terlihat begitu culun. Apakah ada pria yang ingin pergi kencan buta bersamamu?


Alina mendesis sebal, kemudian focus kembali dengan pekerjaanya. “Jangan mengada-ngada!”


Kencan buta? Alina di besarkan dengan uang keluarga Washington, dengan balasan jika dia harus tetap tinggal di dalam kediaman ini sampai kapanpun. Apa artinya itu?


Dulu ketika kecil, Alina begitu naïf untuk tidak menanyakan artinya. Alina hanya beranggapan jika dia tinggal di dalam kediaman WS seumur hidupnya, itu artinya dia akan terus tinggal bersama ibunya. Namun kali ini, setelah mendengar perkataan Vano. Apakah itu artinya dia tidak bisa menikah?


“Hei, kau adalah pelayanku. Kau bisa pergi kemanapun kau mau.”


“Apakah kau pikir ibuku akan membiarkannya?”


“Haruskah aku membantumu?” dia terdiam sejenak dan berpikir. “Bersiaplah malam ini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”


“Tidak!” tolak Alina keras.


“Bersiap saja.”


“Tidak mau!”


“Hei keras kepala!”


“Aku tidak mau!”


**

__ADS_1


Sweater berlogo kucing Azona yang di padukan dengan jeans biru tua serta sepatu berwarna putih. Rambut legamnya di kuncir kuda dengan menyisakan poni di bagian sisi wajahnya. Tidak lupa dia membawa tas kecil dengan ponsel di dalamnya.


Sesuai permintaan bosnya. Malam ini setelah makan malam selesai, Alina di perintahkan untuk menunggu Vano di depan gerbang. Tapi tidak hanya Alina yang menunggu di sana, dia juga di temani oleh ibunya. Ibu Alina takut jika putrinya berbohong dengan menjual nama tuan muda WS.


“Kau berbohong? Dimana tuan muda Vano?”


“Ibu … Aku di minta untuk menunggunya di sini. Tidak tahu apakah dia akan datang atau tidak.” jawab Alina dengan nada rendah di akhir kalimat.


“Bibi, Alina. I have arrived.”


Dia berlana mendekat ke arah Alina kemudian merangkul bahunya. “Tenang bibi, aku akan menjaganya.”


Kemudian, sebuah mobil sport berhenti tepat di dekat mereka. Seorang supir memberikan kuncinya kepada Vano. Pria tampan itu membukakan pintu mobil dan meminta Alina untuk segera masuk ke dalamnya. Dan itu langsung Alina lakukan setelah dia berpamitan dengan ibunya.


“Anak baik, kenakan sabuk pengamanmu.” Ujar Vano yang benar-benar terdengar menyebalkan.


“Kemana kau akan membawaku?”


“Kita akan bersenang-senang.” Jawabnya seraya menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya.


Di dala perjalanan, Alina hanya terdiam sembari melihat ke luar jendela. Sebelumnya, Alina tidak pernah keluar malam seperti ini. Bahkan ketika sekolah dulu. Jika Alina pulang terlambat, maka ibunya langsung menyusul ke sekolah.


“Indah bukan?” tanya Vano, dan Alina hanya mengangguk sebagai jawaban. “Sebelumnya, apakah kau pernah berpikir, apa yang membuatmu harus tetap tinggal di kediaman Washington dengan pengawalan ibumu yang begitu ketat?”


“Apa? Itu karena aku seorang gadis, dan ibu hanya memilikiku. Dia tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi kepadaku.”


Vano mengangguk-anggukan wajahnya.


“Apa?” tanya Alina.


Entah mengapa, tapi Alina merasa jika setiap perkataan yang di ucapkan oleh Vano selalu memiliki arti lainya.


“Kita akan berbelanja.” Jawab Vano yang malah tidak pada tempatnya.


Mobil mereka terparkir di depan sebuah butik mewah.


***


Bersambung ....


Jangan lupa like dan juga koment yaaa...

__ADS_1


Yg mau vote juga boleh, tapi aku gak maksa wkwkkw


__ADS_2