Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 38


__ADS_3

“Tuan muda pertama-mu tengah makan malam bersama dengan seorang model cantik.”


Aline terkesiap mendengar ucapannya yang terdengar sangat dekat di telongannya. Seketika dia menoleh, menatap Vano dengan tatapan memprotes.


“Kau!”


Satu tangan Alina terangkat ke atas, hendak memukul Vano, membuat semua penjaga yabg melihatnya tercengang kaget. Namun Vano beruntung, dengan sigap menghentikannya. Setelah itu, Vano menarik Alina pergi menjauh dari deretan para penjaga itu.


“Hey!” panggil para penjaga.


Sika gadis cantik itu selalu sukses membuat orang lain jantungan. Dia bersikap dengan sangat berani. Tadi, dia hendak memukul Vano yang tak lain merupakan tuan muda ke empat kediaman Washington. Beruntung hal itu segera digagalkan. Jika tidak, maka tamatlah sudah.


“Gadis itu, dia bertindak sangat berani,” ucap salah seorang penjaga pria. Dia masih muda, usianya sekitar dua puluh lima tahun.


“Mereka tumbuh bersama, wajar jika bertingkah sangat akrab,” timpal pria paruh baya yang sudah bekerja lebih dari dua dekade di kediaman Washington.


 


Sementara itu, Vano mengajak gadis cantik otu untuk masuk ke dalam kamarnya, sesaat membuat Alina meninggalkan tugasnya sebagai asisten Arron.


“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” pinta Alina seraya meronta.


Kemudian, Vano memang melepaskan genggamannya pada lengan Alina. Tapi setelah dia mengunci rapat pintu kamarnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh pria itu.


“Hey- kau menguncinya!” ucap Alina pada Vano. “Kau tidak akan berbuat macam-macam padaku, bukan?” tanya Clara seraya mendekap dadanya menggunakan kedua lengannya.


“Gadis konyol!”


Vano berjalan melewatinya begitu saja. Lalu, dia meraih satu kotak yang berada di atas ranjang kemudian memberikan itu kepada Alina. Tapi, Alina malah terdiam dan tidak kunjung menerimanya.


Pria tampan itu mengangkat halisnya. “Terimalah, ini untukmu.”


“Apa itu?” tanya Alina penuh selidik.


“Bukalah, kau akan segera mengetahuinya,” ucap Vano seraya menyodorkan kotak tersebut.


“Kau sedang mempermainkanku” Dia menatap Vano tajam.


Vano menghela napas panjang. Dia meraih satu lengan Alina agar mau menerima kotak pemberiannya. “Buka,” ucapnya memerintah.


Alina meraih kotak itu, lalu membukanya. Dia menatap heran dengan isi di dalamnya. Ternyata, itu hanyalah sebuah gaun lengkap dengan beberapa aksesoris. Dia menatap Vano sekilas, lalu tak lama meletakan kotak itu kembali ke atas ranjang.

__ADS_1


“Kau tidak akan membawaku ke dalam sebuah pesta lagi, bukan?” tanyanya.


Vano menarik sebelah bibirnya ke atas. “Tidak,” jawabnya singkat.


“Lalu kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanya Alina lagi diiringi dengan sorot mata tajam.


“Aku hanya tersenyum kepadamu,” jawab Vano santai.


“Mengerikan!” Alina bergidik ngeri. Kemudian, dia berbalik dan hendak keluar dari kamar Vano. Namun, seketika langkahnya terhenti ketika mengingat Vano telah mengunci pintunya.


Alina berbalik, menatap Vano dengan sebal. “Berikan kuncinya!” pinta Alina seraya mengulurkan satu telapak tangannya.


“Kau harus berjanji akan memakai gaun yang aku berikan.”


“Aku tidak mau!” tolak Alina lantang. Gadis cantik itu berjalan mendekati Vano, lalu mencari kunci itu pada tubuhnya.


Alina meraba setiap bagian tubuh Vano, mencari hingga ke saku pria tampan itu. Dan Vano hanya diam, dia seolah senang ketika Alina melakukan itu padanya.


Gadia cantik itu menegakan kembali tubuhnya di hadapan Vano. “Di mana kau menyembunyikannya?”


“Aku tidak tahu,” jawab Vano seraya mengedikan bahunya.


Sebelumnya, Vano memaksa Alina untuk menjadi kekasihnya. Dan kini, pria itu memaksanya untuk memakai gaun yang diberikannya. Jangan harap!


“Apa yang kau inginkan?” tanya Alina seraya menengadahkan wajahnya seolah tengah menantang Vano.


“Gunakan gaun itu.” Tunjuk Vano pada sebuah gaun di atas ranjang.


“Baiklah,” jawab Alina mengiyakan, dan membuat Vano seketika merasa senang.


Alina berjalan menuju ranjang. Tapi, bukan untuk mengambil gaun tersebut, melainkan untuk duduk manis di sana. Membuat Vano tercengang kaget ketika melihatnya.


“Cepat pakai,” perintah Vano.


“Tidak!” Alina menggelengkan kepalanya.


“Apa maksudmu tidak? Cepat pakai!”


“Kenapa kau memaksa?” Alina memprotes.


Kemudian, Alina beranjak dari tempatnya. Berdiri dan melangkah menjauh dari hadapan Vano. Dia takut jika pria itu akan melakukan hal yang macam-macam seperti sebelumnya. Yaitu, mencium Alina tiba-tiba. Menjijikan!

__ADS_1


Tapi, tingkah Alina malah membuat Vano semakin ingin menggodanya. Jelas, gadis itu menjauh karena takut terhadapnya. Vano menyeringai seketika, menatap Alina dengan nakal.


Sial! Alina ketahuan jika dia tengah menjauhi Vano. Lagipula, kenapa kamar tuan muda ke empat itu tidak dilengkapi oleh smartlock. Kenapa pintunya begitu kuno dan masih memakai kunci biasa? Padahal, semua ruangan di kediaman Washington sudah dilengkapi dengan smartlock.


“Alina, apakah kau tahu, apa yang akan terjadi ketika pria dan wanita berada di dalam satu ruangan yang sama?”


Alina menelan salivanya susah payah. “Aku tidak tahu. Lagipula, kau tidak akan berani!” ucapnya seraya menunjuk ke arah Vano.


“Aku hanya memintamu untuk mencoba sebuab gaun, bukan memintamu terjun ke lantai tiga.”


“Aku tidak peduli! Lagipula, kenapa kau terus memaksaku melakukan ini dan itu, Tuan muda? Apakah kau tidak ingat jika status kita bagai langit dan bumi? Aku tidak cocok untuk memakai gaun bermerk yang kau berikan,” cecar Alina dengan satu napas. Membuat Vano yang mendengarnya sampai ternganga lebar.


“Aku tidak peduli dengan status. Yang aku tahu, kau adalah kekasihku.”


“Kekasih?” Alina mengangkat sebelah bibirnya. “Sejak kapan aku menjadi kekasihmu?”


Dasar keras kepala! Batin Vano kesal.


Vano sangat mengenal sifat gadis itu. Dia sangat keras kepala dan tidak mau mengalah. Sepertinya, malam ini Vano tidak akan berhasil untuk membujuknya. Dia harus melakukan sesuatu.


“Vano, kenapa kau terus mengangguku? Kau memiliki banyak wanita di luaran sana. Ganggu saja mereka!” gerutu Alina kesal.


Vano berpura-pura memasang raut wajah sedih. Dia berjalan pelan menuju ranjang, lalu duduk di sana. Setelah itu, Vano hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun.


Alina yang melihat itu tentu saja merasa heran. Beberapa detik yang lalu, pria itu masih sangat cerewet dan memaksanya. Tapi kini? Dia terdiam seperti orang yang telah kehilangan jiwanya.


“Trik apa lagi yang ingin kau lakukan?” tanya Alina dengan nada datar.


“Ini bukan trik,” jawab Vano. “Kau hanya belum pernah merasakan jatuh cinta kepada orang yang salah,” ucap Vano yang seketika membuat Alina menyalang takjub ketika mendengarnya.


“Aku tidak menyangka jika kau benar-benar mencintaiku,” gumam Alina rendah.


Vano melemparkan gaun yang dia belikan untuk Alina ke atas sofa. Kemudian, dia sendiri berbaring di atas ranjang dan memejamkan matanya.


“Vano, ijinkan aku keluar. Meskipun kau mencintaiku, tapi kau tidak berhak mengurungku seperti ini. Aku hanya seorang pelayan, oke? Kau bisa mencari wanita lain yang setara denganmu.”


Gadis bodoh! Seandainya kau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bodoh! Kau bukan seorang pelayan, tidak seharusnya kau menjadi seorang pelayan.


****


Next chap bakalan ada asal usul Alina ya wkwkwk. See youuu. Maaf upnya telat, aku masih kejar deadline di sebelah. Babay.

__ADS_1


__ADS_2