
Happy Reading ….
“Kau tidak bisa menikah sampai batas waktu yang ditentukan, Alina.”
Alina menatap wajah Arron dengan mata bulatnya. Dia mencoba mengingat isi kontrak dan persyaratan yang Arron katakan itu berada di halaman berapa. Ah … jangankan untuk mengingatnya, Alina saja tidak benar-benar membaca itu. Dia tidak tahu. Tapi jika Arron mengetahui Alina tidak hafal dengan peraturan menjadi asisten pribadinya, akankah tuan muda pertama itu marah?
Gadis cantik itu menurunkan pandangannya. Dia berpikir untuk pura-pura mengetahuinya saja. Lalu, Alina menaikan pandangannya kembali dan menatap Arron.
“Ya, Tuan, aku tahu.”
Arron menatapnya dengan tajam. “Selain itu, kau juga tidak boleh terikat kontrak pernikahan dengan siapapun.”
Hm … apalagi itu? Begitu banyak peraturan. Pikir Alina.
“Jadi Alina, kau tidak bisa memiliki ikatan dengan siapapun termasuk pertunangan, kau mengerti?”
“Baiklah,” jawab Alina singkat.
Tatapan Arron pada Alina semakin tajam. Bagaimana gadis itu bisa terlihat tenang sementara sedari tadi Arron sedang menyindir mengenai rencana pertunangannya bersama Vano. Seharusnya gadis itu gusar, sedih atau hal lainya karena kontrak kerjanya telah menghalangi kehidupan percintaanya. Tapi, Alina justru bertingkah sebaliknya.
Apa Alina sengaja menyembunyikan kesedihannya?
Arron menggeser mangkuk berisikan mie buatannya itu ke hadapan Alina. “Makanlah.”
Alina terlihat senang ketika Arron memberikan mie itu untuknya. Kemudian, dia memakannya dengan lahap. Setelah beberapa bulan, akhirnya Alina dapat memakan mie lagi. Ini seperti keajaiban untuknya.
“Cepat habiskan, setelah itu kembali ke paviliun belang dan beristirahatlah,” ucap Arron yang seketika langsung menghentikan acara makan Alina.
Alina langsung menatap Arron dengan bingung. Dan Arron tau kenapa gadis itu terlihat seperti itu.
“Aku akan mengantarmu,” imbuh Arron.
Setelah mendengarnya, Alina langsung menundukan wajah dengan malu sekaligus takut. Malam ini, sebagai seorang asisten tuan muda pertama, dia malah membuat banyak kesalahan dan merepotkan big bosnya itu. Entah mungkin setelah ini Alina akan diturunkan tugasnya menjadi tukang bersih-bersih danau. AAH!
**
Tepat pukul setengah lima pagi, Alina yang tengah tidur terlelap tiba-tiba saja dibangunkan oleh ibunya. Padahal, Alina baru bisa tidur 2 jam yang lalu.
__ADS_1
“Alina, bangunlah, kau harus segera bersiap untuk pergi bekerja.”
“Ibu … aku masih sangat mengantuk, jangan ganggu aku,” keluh Alina tanpa membuka matanya sedikitpun.
“Apa kau tidak akan pergi untuk bekerja? Ingat, kau adalah asisten tuan muda Ron, kau tidak bisa bermalas-malasan seperti ini. Dan kau, darimana kau semalaman ini? Kau pulang sangat larut.”
“Bu, aku bekerja lembur, dan tuan muda memberiku waktu istirahat delapan jam sebelum aku bekerja kembali. Ibu … biarkan aku tidur,” ucap Alina sembari membenahi dirinya di atas ranjang, menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
“Benarkah? Bukankah kau pergi bersama Vano?” gumam ibunya rendah. Melihat Alina yang malah melanjutkan tidurnya dengan nyaman dia hanya mendesis pelan. “Gadis ini!”
--
Waktu sudah menjelang pagi. Semua keluarga Washington duduk di kursi meja makan dan sarapan bersama. Suasananya seperti biasa, satu pelayan bertugas melayani satu tuan muda. Tapi, satu hal tampaknya ada yang kurang. Di mana asisten yang biasanya melayani Tuan muda pertama?
Tidak hanya pelayan yang bingung, Nyonya besar, dan tiga tuan muda lainnya tampak bertanya-tanya. Di mana Alina? Di mana gadis itu? Semua orang tahu jika Arron tidak mau dilayani kecuali oleh orang pilihannya sendiri.
“Apakah Alina belum tiba?” tanya nyonya besar.
“Belum, Nyonya,” jawab kepala pelayan dengan segan.
“Aku memberikanya waktu untuk beristirahat, semalaman dia bekerja untukku,” ucap Arron.
“Kakak, apa yang kau lakukan semalaman penuh ini hingga kau memerlukan asisten kecilmu untuk membantu?” tanya Wilson penuh selidik.
Vano refleks tersedak mendengar pertanyaan Wilson, dia langsung meminum air putih di dalam gelasnya lalu menatap Arron dengan penuh selidik juga.
Arron melihat Vano yang wajahnya tampak memerah karena tersedak. Ck, adiknya itu pasti terkejut. “Menurutmu?” jawab Arron yang malah bertanya balik sekaligus untuk membuat Vano mati penasaran. Calon tunangannya bermalam bersama dengan kakaknya.
Wilson mengalihkan pandangannya dari menatap Arron, lalu mulai memakan sarapannya walau disertai dengan hati yang gelisah. Dia jelas tahu sikap Arron seperti apa. Arron adalah orang yang sangat tidak suka dicurigai dan to the point. Tapi kali ini?
Vano berdeham samar, pandangannya masih menelisik ke arah Arron.
“Aku sudah selesai,” ucap Arron lalu langsung beranjak dari kursinya dan pergi meninggalkan ruang makan.
Arron melangkah pergi, dia mengendurkan dasi yang sudah dipakainya dengan rapih. Kenapa hatinya malah merasa senang pagi ini? Terlebih lagi ketika melihat wajah Vano tadi ketika dia tahu jika Alina menghabiskan setengah malam dengannya. Lord! Ada apa dengan Arron? Arron merasa jika hari ini Ia bukanlah dirinya sendiri.
**
__ADS_1
Sudah delapan jam lebih Alina tertidur, padahal seharusnya Ia sudah bangun dan bersiap untuk bekerja. Tapi, Alina tahu jika pada jam seperti ini, tuan mudanya itu sedang berada di perusahaanya. Jadi, Alina masih bisa melanjutkan tidurnya sebentar saja.
Gadis cantik itu masih memejamkan matanya walau pikirannya sudah terbangun beberapa menit yang lalu. Dia tidak masih merasa nyaman berbaring di atas ranjang dan tidak mau cepat-cepat beranjak.
Ketika sedang berguling dan membenahi dirinya di tempat tidur, Alina tiba-tiba saja teringat dengan kejadian tadi malam. Di mana Ia menangis di hadapan Arron, jatuh di atas tangga, dan juga tampilan tampan Arron ketika memasak. Sial! Wajahnya mendadak panas dan merah padam.
“AAAH!” Dia beranjak duduk dari posisinya. “Kenapa aku terus memikirkannya?”
Jantungku juga berdetak sangat kencang ketika teringat wajah taun muda saat memasak. Ah … sangat tampan. Ucapnya dalam hati.
Alina memukul-mukul dadanya ringan agar tidak terus berdetak dengan kencang ketika memikirkan Arron. Sesaat, tidak sengaja pandangannya menangkap sebuah bingkisan asing di atas meja tepat di depan tempat tidurnya.
“Apa itu?”
Karena penasaran, Alina beringsut turun dari ranjang dan berjalan mendekati meja. “Apakah ini milik ibu?” gumamnya rendah.
“Kau sudah bangun?” tanya seseorang yang tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya.
Alina langsung menoleh ke arah pintu dengan terkejut. “Vano? Untuk apa kau datang?”
Vano masuk ke dalam kamar Alina tanpa dipersilahkan. “Cih, pertanyaanmu itu membuatku patah hati,” ucap Vano mengada-ada.
“Menyebalkan, aku masih memiliki urusan denganmu.” Alina mencebik kesal.
“Apa kau masih marah gadis kecil?” tanya Vano seraya mengacak-acak rambut Alina.
“Ah Vano!”
Vano tersenyum senang karena telah menganggu Alina. “Bukalah.” Dia mengedikan dagunya ke arah bingkisan di atas meja.
“Darimu? Kapan kau menyimpannya? Kau baru saja datang.”
Seandainya Alina tahu jika ini kelima kalinya Vano datang. Dia juga sempat menatap Alina ketika sedang tertidur lelap.
“Untukmu, hadiah perpisahan dariku.”
“Perpisahan?” tanya Alina bingung.
__ADS_1
Bersambung ....
Wah Vano mau kemana nih? Jangan lupa like dan juga koment untuk terus menyemangati Author yaaa. See You.