
(Daisy)
Alina melihat ke arah Arron berdiri, yang mana di hadapannyaa sudah ada seorang wanita cantik yang tengah menatapnya dengan senyuman. Wanita itu sangat tidak asing bagin indera penglihatan Alaina. Sepertinya, dia pernah melihatnya sekali ketika pesta di kediaman Washington hari itu.
“Maafkan aku karena datang terlambat. Aku memiliki beberapa jadwal pemotretan yang tidak bisa ditunda,” kata wanita cantik tersebut.
“Tidak masalah, yang terpenting sekarang kau telah tiba di sini, bukan?” ucap Wallson.
“Ya Daisy, duduklah dan nikmati pestanya.” Allson mempersilahkannya.
“Kakak, aku membawakan minuman yang spesial untukmu.” Dia mengambil satu botol minuman dari asistennya, lalu memberikan itu kepada Aron. “Ini adalah wine tahun 1987 aku, mendapatkannya dengan susah payah, dan sekarang ini milikmu.”
Alina menatap itu dari jauh, melihat keakraban mereka. Dia hanya bisa diam. Sebagai pelayan, dia bahkan tidak berani untuk menyambut dan berdiri di sana.
Kini Aaron Tengah sibuk dengan adik kecilnya itu. Sementara Alina duduk sendiri. Vano, dia tengah asyik menikmati pesta bersama Tuan Muda lainnya.
Seandainya Alina bisa memutuskan tindakannya sendiri, mungkin Kini dia akan pergi ke kamarnya untuk tertidur pulas di atas ranjang yang nyaman dan selimut tebal.
Alina menghela napas panjang, dan itu disadari oleh Aaron yang duduk tak jauh darinya. Sekilas Ia menoleh ke arah Alina yang dari segi penglihatannya, Alina tengah menatap Vano yang dikerumuni oleh para wanita-wanita cantik di depan sana. Arron berpikir jika Alina cemburu melihat itu.
“Aku akan kembali untuk beristirahat,” kata Aron.
Daisy yang melihat itu tentu saja langsung menghentikan langkah Aaron. Dia berdiri di hadapan Arron dengan raut wajah sedih.
“Kakak, aku baru saja sampai. Apakah kau akan pergi meninggalkanku begitu saja?” tanyanya dengan rengekan seraya menggenggam lengan Arron untuk menahanya pergi.
“Aku lelah. Lagi pula, ada Willson dan Allson yang akan menemanimu.”
“Ya, Daisy kemarilah.” Wilson Melambaikan tangannya kepada Daisy.
Daisy berpaling untuk melihatnya, tapi tak lama kemudian dia menatap kembali ke arah Arron dengan wajah yang kecewa. Dia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Arron, dan membiarkan pria tampan yang disebut Kakak olehnya itu pergi.
Arron melangkah pergi, tapi dua yerdiam sejenak saat berdiri tepat di samping kursi Alina. “Kau ikutlah denganku,” perintahnya kepada gadis cantik itu.
__ADS_1
Tanpa disadari, jika semua sorot mata tertuju kepadanya, termasuk Daisy yang melihatnya dengan tatapan tidak suka. Sejenak Alina terdiam menatap beberapa orang di sana. Tapi tak lama kemudian, dia beranjak untuk mengikuti Aaron. Mengikuti langkahnya dari belakang.
Vano menghampiri Daisy yang tengah berdiri mematung seraya terus menatap Aaron dan Alina yang melangkah pergi dari sana.
“Siapa dia? Kenapa Kakak mengajaknya untuk pergi bersamanya?” tanya Daisy dengan nada kesal.
Wilson berjalan mendekat. “Dia hanya asisten pribadi Aron,” jawab Willson.
Daisy mengangguk mengerti. “Pantas saja Kakak mengajaknya untuk pergi juga. Sudahlah, kita nikmati saja pestanya.” Dia berbalik lalu pergi untuk menikmati pesta.
Sementara Alina yang sudah masuk ke dalam villa mewah itu terus berjalan mengikuti Arron dari belakang. Sampai akhirnya langkah mereka terhenti pada sebuah pintu besar yang tak lain adalah kamar tidur Arron.
Arron berbalik, menatap gadis cantik itu dengan tajam “Apa kau akan terus mengikutiku seperti itu?” tanyanya.
Alina menatapnya heran, lu dia menurunkan pandangan dan berpikir sejenak. Bukankah Arron yang mengajaknya untuk pergi? Tapi ke apa kini pria itu malah mempertanyakannya?
“Aku- aku-” Alina gugup, tidak tahu harus menjawab apa.
“Pergilah ke kamarmu untuk beristirahat. Bukankah kalau lelah?” kata Arron.
Sementara gadis cantik itu hanya menatapnya dengan tatapan bingung.
Alina langsung menggelengkan kepalanya cepat untuk menolak, kemudian dia berjalan dengan cepat untuk menuju kamarnya sendiri.
Gadis cantik itu masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu rapat. Perlahan dia naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sana. Alina masih bingung dengan tingkah Arron selama liburan di pulau ini.
Ada apa dengan tuan muda Ron?
Kenapa sikapnya begitu aneh?
Mendadak Alina terpikirkan kembali dengan kejadian tadi siang, di mana Aaron yang tiba-tiba menciumnya. Apakah hal itu wajar untuk seorang bos dengan pelayannya? Apakah Arron memang memperlakukan pelayanan seperti itu?
Pikiran Alina sangat kacau, dia terus menerka-nerka setiap sikap Arron yang sangat aneh baginya.
Satu jam berlalu. Alina baru saja akan memejamkan matanya untuk tertidur, tapi tiba-tiba pintu kamarnya terketuk dari luar, dan seseorang terdengar memanggil namanya.
__ADS_1
“Alina, apakah kau sudah tertidur?” tanya orang di luar sana yang suaranya sangat dikenali oleh Alina.
Vano?
Dia langsung beringsut turun dari ranjang, dan membukakan kunci pintu. Benar saja, yang ada di depan pintu kamarnya itu adalah Vano. Tuan muda keempat itu berdiri di depan pintu kamarnya dengan keadaan mabuk berat.
Alina harus memapah tubuh Vano yang limbung. Dia bersusah-payah membawa tubuh Vano untuk dibaringkan di atas ranjang.
“Bukankah seharusnya dia pergi ke dalam kamarnya sendiri? Lalu kenapa dia malah datang ke kamarku?” gumam Alina heran seraya menatap Vano yang tengah terlelap di atas ranjang.
“Baiklah Kau bisa tidur di sana.” Alina mengalah.
Alina menghela nafas lelah. Dia keluar dari kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat. Membiarkan Vano untuk tidur dan beristirahat di dalam kamarnya.
Sementara Alina sensiri pergi keluar, dan entah akan tidur di mana. Alina sendiri tidak mengetahui di mana kamar Vano. Dia hanya bisa berdiri mematung di depan kamarnya sendiri.
Semakin malam suasana semakin sepi. Sudah dua jam berlalu dan Alina hanya berdiri di sana. Pandangannya selalu mengedar menelusuri setiap sudut Villa mewah itu. Sesekali tubuhnya meremang karena dingin
“Apakah aku harus diam di sini sampai pagi?” gumam Alina
Suara berisik yang dihasilkan oleh pesta para tuan muda itu sudah mulai reda. Kini, keheningan malam mulai terasa. Alina yang penakut tidak tahu harus berbuat apa. Dan mungkin, sebentar lagi lampu Villa mewah itu akan padam.
Alina tidak mau terus berada di sana. Terlebih lagi jika lampu dimatikan. Dia takut gelap. Alina mungkin akan memilih pergi dan masuk ke dalam kamar meskipun ada Vano di sana.
Dan benar saja, satu-persatu lampu di Villa itu mulai dimatikan oleh penjaga. Alina yang takut, dengan segera membuka pintu kamar dan hendak melangkah memasukinya. Tapi sebelum dia berhasil masuk ke dalam kamar, tiba-tiba satu lengan menarik tubuhnya.
Seketika itu pula Alina ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun tiba-tiba sebelah telapak tangan membekap mulutnya dengan rapat.
“Kau tidak akan bersuara, dan membuat orang lain bangun karena teriakanmu, bukan?” Suara itu dingin menusuk ke dalam pikiran.
“Jangan berteriak!” katanya lagi.
Degup jantung Alina semakin berdetak kencang. Dia tidak tahu siapa orang yang tengah memeluknya dari belakang. Dia merasa sangat takut. Dan mungkin tak lama kemudian, Alina akan tidak sadarkan diri.
Gadis bodoh.
__ADS_1
****
Tebaaak siapa yang datang?