
Happy Reading ....
Alina masuk ke dalam ruangan ketika mendengar aba-aba dari Vano. Dia berdiri di ujung barisan dan ikut berjejer dengan kandidat pelayan wanita lainya. Kehadranya langsung di sambut dengan tatapan tajam dari Arron, sementara Alina tidak menghiraukan itu. Pandangannya hanya tertuju kepada Vano yang tengah tersenyum kepadanya.
Entah ini adalah pilihan yang baik atau buruk. Namun Alina menyetujuinya hanya semata-mata agar dia bisa terus berada di sisi ibunya. Alina mengetahuinya dari bibi Lin. Jika yang akan di ijinkan untuk pergi keluar hanya dirinya saja, sementara ibunya akan tetap tinggal. Dan Alina tidak mau itu terjadi. Dia tidak bisa berada jauh dari ibu tercintanya.
“Bagaimana, Kak? Bisakah aku mengambilnya?” tanya Vano kepada Ron. Pastikan jika kakaknya itu mengijinkanya.
“Tidak bisa.” Jawab Arron menegaskan.
“Bibi Lin. Temui aku di ruanganku.” Perintah Arron sebelum akhirnya pria tampan bertubuh tegap itu meninggalkan ruangan tanpa memilih terlebih dahulu kandidat untuk menjadi pelayan pribadinya.
**
“Bukankah itu ide yang konyol?” tanya Alina pada pria tampan di sampingnya.
Gadis cantik itu menyeka keringat yang membasahi pelipisnya. Menatap awan dengan sinar mentari yang menyengat dari atas. Sekitar satu jam mereka duduk di kursi taman semenjak Arron menolak permintaan Vano untuk menjadikannya pelayan pribadi.
“Tidak.” lugas Vano. Entah sudah berapa kali gadis di sampingnya itu mengeluh, dan Vano harus menegaskannya lagi dan lagi.
Semua orang tahu, tidak ada kesempatan kedua bagi siapapun yang telah di tolak oleh Arron. Terlebih lagi Alina yang telah memicu kekacauan yang lumayan besar. Tidak mungkin Arron meloloskannya begitu saja. Sudah beruntung jika Alina hanya di tending keluar, dan tidak perlu membayar denda.
Seharusnya aku tidak menuruti perkataannya. Batin Alina seraya melirik kea rah Vano yang tengah menyenderkan tubuhnya pada kursi taman, dan sembari memejamkan kedua matanya.
“Jangan memandangku seperti itu.” Seru Vano.
Secepat kilat Alina mengalihkan pandangannya. Gadis cantik itu menggerutu dalam hati. Jelas-jelas Vano tengah memejamkan matanya, lalu mengapa dia bisa mengetahui jika Alina tengah menatapnya. Vano memang selalu menyebalkan.
Kemudian Vano membenarkan posisi duduknya dan menghadap pada Alina. Pria tampan itu menatap gadis cantik di hadapanya begitu lekat. “Kau begitu cantik.” Ucapnya memuji, dan tentu saja itu membuatnya di hadiahi sebuah tatapan tajam menusuk dari Alina.
“Bagaimana jika aku menyewakanmu sebuah apartment?” imbuh Vano dengan raut wajah jahilnya.
Satu cubitan keras di paha dari Alina sebagai hadiahnya. “AAAARGGH!” Vano memekik kesakitan.
“Menyebalkan! Apa maksudmu hah!” protes Alina kesal.
“Sial! Aku tidak akan pernah menggodamu lagi.” Sesal Vano seraya mengelus paha kanannya yang di cubit Alina.
“Menyebalkan!”
__ADS_1
Alina beranjak pergi dari taman dengan perasaan kesal, meninggalkan Vano seorang diri.
“Hei, pikirkan tawaranku.” Pekik Vano pada Alina yang sama sekali tidak menghiraukannya. “Ckck. Gadis itu.”
Sementara di sisi lain. Arron tengah berbincang dengan Bibi Lin perihal pemilihan pelayan khusus untuknya. Dan lagi, mereka juga tengah mendiskusikan mengenai permintaan Vano.
“Bibi Lin, mengapa kau belum memintanya untuk pergi keluar?”
“Alina akan segera bersiap, Tuan muda.”
“Bagus. Sekarang, kau boleh pergi.”
Lalu bibi Lin keluar dari ruang baca Ron. Sementara bibi Lin keluar, satu orang masuk ke dalam menggantikannya untuk bertemu dengan Arron.
“Tuan muda Van datang.” ucap salah seorang pelayang wanita yang menjaga pintu.
Arron menghela napas panjang. Dia meraih beberapa berkas di atas meja untuk di bacanya. Sementara Vano, dia duduk di atas sofa meskipun si pemilik ruangan terlihat tidak ingin bertemu dengannya. karena Arron mengetahui apa alasan adiknya itu datang untuk menemuinya.
“Kakak, pertimbangkanlah.” Ucap Vano, namun Arron sama sekali tidak menghiraukannya.
“Sial! Gadis itu begitu malang. Dia hanya mempunyai satu keluarga saja. Hidupnya begitu menyedihkan. Ibunya, bagaimana dia akan hidup tanpa seorang putri tercintanya.” Celoteh Vano sengaja.
“Apa kau sanggup?” tanya Arron memastikan. Dia menyimpan dokumen yang tengah di bacanya ke atas meja.
“Tentu saja.”
“Aku akan menarik semua fasilitasmu. Mobil dan credit card. Kau bekerja di perusahaan, dan gunakan gajihmu untuk menggajihnya.”
Vano menyalang takjub mendengar semua itu. Bagaimana mungkin? Tidak masalah jika Vano menggunakan gajihnya untuk menggaji Alina. Namun jika mobil serta credit card miliknya di ambil. Dia tidak akan sanggup. Bagaimana Vano akan menghidupi kehidupanya yang senang berfoya-foya? Ckck.
“Seharusnya gadis itu menerima tawaranku saja.” gumam Vano dengan nada rendah, namun Arron masih dapat mendengarnya.
“Kau menyukainya?” tanya Arron yang sontak membuat Vano membeliak kaget.
“Kak, kau bergurau?”
“Kau begitu membelanya.”
“Tentu saja. Dia sudah seperti adikku sendiri. Kami tumbuh bersama.” Dan seandainya kau tahu kebenaranya, mungkin kau akan lebih membelanya, Kak. Imbuh Vano dalam hati.
__ADS_1
Arron melirik arloji di pergelangan tangannya. “Pastikan jika dia tidak membuat keributan lagi.” Ucapnya sebelum akhirnya pria tampan bertubuh tegap itu meninggalkan ruangannya.
Vano terlonjak kaget mendengar itu. Alina! Kau adalah gadis yang beruntung!
**
Alina mencebikkan wajahnya, melihat koper besar berisikan barang-barang di hadapannya. Hari ini dia akan meninggalkan kediaman WS. Bukan hanya itu, dia bahkan akan meninggalkan ibunya. Perasaanya sedih bercampur kesal.
“Bukankah ini salahnya? Seandainya dia tidak memberiku wine, semuanya tidak akan berakhir mengerikan seperti ini!”
“Sialan! Sialan! Sialan!”
“Hei, mulutmu pedas sekali.”
Alina langsung terlonjak kaget ketika mendengar suara seseorang menggema di dalam kamarnya. Lord! Sejak kapan dia masuk? Alina membeliak ke arah Vano yang tengah bersender di depan pintu sembari memakan satu buah apel di tangannya.
“Kau! Sejak kapan kau berada di sini?” pekik Alina bertanya.
“Bisakah kau mengecilkan volume suaramu? Gendang telingaku hampir pecah.” Protes Vano seraya menutup kedua telingannya menggunakan telapak tangan.
“Tidak seharusnya seorang tuan muda masuk ke dalam kamar pelayan begitu saja. Ingat, kau adalah tuan muda.”
“Kau selalu mengingatkan mengenai posisi ketika sedang marah. Itu terdengar menjijikan.” Decak Vano sebal.
“Tuan muda Van, ada apa?” tanya Alina berlaga seperti pelayan.
“Sial! Menggelikan!” umpat Vano sebal.
Entah mengapa, tapi itu sangat menyebalkan ketika terdengar. Mereka tumbuh bersama, meskipun usia mereka memiliki selisih yang begitu jauh. Namun Vano mengenal Alina bahkan saat usia gadis cantik itu baru menginjak dua tahun. Dulu dia terlihat menggemaskan, namun sekarang? Lord! Sangat menyebalkan.
“Kau akan berlari kemudian memelukku setelah kau mendengar ini.” ucap Vano. Kemudian dia berjalan mendekat, dan duduk di hadapan Alina.
Alina mencebik mendengar itu.
“Dengar. Mulai hari ini, kau resmi menjadi pelayan pribadiku.”
***
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa like, koment yaa... baay.