
Happy Reading ....
***
Alina mengikuti Arron menuju ruangannya. Dia di minta untuk membereskan beberapa buku yang berserakan di atas meja ke tempatnya semula. Bukankah ada puluhan pelayan di kediaman ini? Tapi mengapa Arron malah memintanya untuk ini semua. Bukankah Arron tidak menyukainya?
“Tata itu di rak buku.” Perintah Arron.
Alina mengangguk pelan. “Baik, Tuan muda.”
Alina membereskan itu satu persatu. Sesekali dia juga mencuri pandang kea rah Arron yang tengah bekerja di depan lara macbooknya. Wajahnya begitu dingin dan focus. Alina tidak yakin jika yang tengah duduk di kursi itu adalah manusia. Melainkan robot. Ya, dia tidak memiliki ekspresi sama sekali.
Beberapa menit berlalu dan Alina masih sibuk menyelesaikan tugasnya. Seharusnya Alina tidak berada di sini bukan? Dia bukan pelayan Arron lagi. Lalu bagaimana dengan Vano? Ah sudahlah, lagipula yang berkuasa di kediaman ini adalah Arron.
Sesekali Alina menutup mulutnya menggunakan sebelah telapak tangan karena menguap. Rasa kantuknya mulai mendera dan membuatnya hilang focus, Ketika berjalanpun, Alina beberapa kali menabrak kaki meja. Beruntung Arron tidak menyadarinya.
Kepalaku sangat sakit. Alina mengeluh dalam hati.
Seketika pandangannya buram, seluruh tubuhnya juga mendadak lemas. Bahkan buku yang tengah di pegangnya pun terjatuh ke atas lantai yang menimbukan suara yang menganggu Arron. Pria tampan bertubuh tegap itu menyadari tingkah Alina yang aneh.
Alina memegangi kepalanya dengan langkah yang terhuyung-huyung. Dan tak lama kemudian, dia ambruk tidak sadarkan diri.
Arron langsung menghampiri Alina dan melihat kondisinya. Wajahnya tampak begitu pucat dengan peluh yang membasahi dahinya. Arron menghela napas panjang. Apa masalahnya? Kenapa gadis ini selalu membuat masalah jika di dekat Arron. Berbeda ketika dia bersama Vano.
Kemudian, dengan terpaksa Arron meraup tubuh mungil Alina ke dalam gendongan. Dia membaringkan Alina ke atas sofa, dan Arron segera memanggil seorang dokter untuk segera hadir.
“Gadis yang merepotkan.”
**
Alina membuka matanya dengan terkejut. Dia langsung beranjak duduk dari posisinya berbaring. Alina ingat jika dirinya tengah berada di ruangan Arron dan mendapatkan perintah dari tuan mudanya. Namun ketika dia menatap ke sekeliling, Alina sudah mendapati dirinya di dalam kamar.
“Kau sudah sadar?” tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja datang dengan membawa satu mangkuk bubur bersamanya.
“Ibu … Apa yang terjadi?” tanya Alina lirih. Dia takut telah melakukan kesalahan lagi. Jika ya, lalu apa yang harus dia lakukan sekarang.
“Kau pingsan.” jawabnya, sembari meletakan mangkuk bubur tersebut ke atas nakas.
“Lalu?”
__ADS_1
“Beberapa penjaga membawamu kemari.”
“Hm … Bagaimana dengan Tuan muda Ron? Aku tengah berada di dalam ruangannya dan membereskan beberapa buku di rak.”
“Dia memberimu waktu cuty. Kau bisa memulai pekerjaanmu setelah kondisimu pulih.”
“Benarkah? Dia senaik itu?” tanya Alina nyeleneh, dan langsung di hadiahi dengan tatapan tajam ibunya.
“Cepat makan lalu minum obatmu. Beristirahatlah.” Ujar wanita paruh baya itu kemudian melangkah keluar dari kamar.
Alina meraih mangkuk bubur di atas nakas lalu memakannya. Setelah itu, dia juga tak lupa untuk meminum obatnya. Alina sebenarnya tidak membutuhkan obat. Yang dia butuhkan hanya tidur yang panjang.
Aku sangat mengantuk dan lelah. Batinnya. Dia menghela napas lelah.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba ponselnya bordering. Sebuah pesan masuk ke dalam aplikasi chat online miliknya. Alina langsung membuka pesan tersebut yang tak lain adalah pesan dari Vano.
‘Sayang, kau harus kecewa karena tidak bisa melayaniku untuk beberapa hari ke depan. Aku pergi ke luar kota, ada pekerjaan mendadak.’ Pesan dari Vano yang di akhiri dengan emoticon love.
Alina hanya membaca itu dan tidak berniat membalasnya. Bagus jika Vano berada lama di luar kota, maka Alina tidak akan melihat tingkahnya yang menyebalkan itu.
“Aku akan tidur nyenyak.”
Sementara di ruangan lain, di dalam waktu yang bersamaan. Arron tengah berada di dalam ruangannya dengan satu gelas redwine di genggaman. Beberapa menit yang lalu Arron menerima pesan jika seseorang akan datang. Dan itu sedikit menganggu pikiranya.
**
“Ah … Mengapa ibu tidak membangunkanku?” gumamnya seraya beranjak turun dari ranjang.
Legging berwarna hitam, tshirt bigsize, dan rambut legamnya yang di ikat kuda. Meskipun seperti itu, Alina tetap terlihat cantik dan natural. Alina berjalan keluar dari rumah khusus pelayan dan menyusul ibunya ke tempat menjemur. Di sana dia bisa melihat ibunya yang tengah bekerja keras.
Lantas Alina langsung berjalan mendekat, dan membantu ibunya menyelesakan pekerjaanya.
“Mengapa kau berada di sini? Seharusnya kau gunakan waktu cutimu untuk beristirahat.”
“Ibu, aku baik-baik saja. Kemarin aku hanya kurang tidur.” Jawabnya dengan senyuman.
“Kembalilah ke dalam kamar.” Perintah ibu Alina.
“Tidak ibu, aku ingin membantumu.”
“Alina.” Seketika terdengan suara seseorang memanggil. Yang tentunya suara itu terdengar sangat tidak asing bagi indera pendengaran gadis cantik itu.
Lalu Alina menoleh, dan beberapa langkah di belakangnya sudah ada bibi Lin yang tengah tersenyum kepadanya. “Bibi Lin?”
__ADS_1
Bibi Lin meminta Alina untuk ikut bersamanya. Mereka menuju taman mansion, dan duduk di kursi taman. Bibi Lin merawat bunga-bunga di sana, dan Alina dengan senang hati membantunya. Bunga-bunga di taman itu terlihat wangi dan begitu indah.
Bibi Lin menanyakan perihal masalah kesehatanAlina, menanyakan bagaimana dengan pekerjaanya, sehingga dia menanyakan sesuatu yang membuat Alina terhenyak.
“Apa kau sudah memiliki kekasih?”
Alina yang tengah memotong daun bunga mawar itu seketika menghentikan aktivitasnya. “Ah, Bibi Lin.” Bahunya melemas mendengar itu. Tanpa Alina menjawab, sepertinya bibi Lin sudah mengetahui jawabanya.
“Aku tahu. Alina tidak mungkin memiliki kekasih karena peraturan ibu yang begitu ketat.”
“Kau mengatakannya dengan benar, Bi.”
Menggelikan. Dan mereka terkekeh bersama.
“Bukankah Tuan muda Van pergi keluar kota?” tanya bibi Lin.
Alina mengangguk pelan. “Ya, Tuan muda Van pergi dengan sangat mendadak.”
“Kau juga mengambil cuti? Aku dengar kemarin kau pingsan karena sakit.”
“Hm … Sebenarnya tidak seperti itu. Aku hanya kurang tidur saja.”
“Jadi kau sudah sehat sekarang?”
“Aku sangat sehat, Bibi Lin.” Jawab Alina dengan begitu bersemangat.
“Maka aku akan mengunjungimu nanti siang. Ada sesuatu yang ingin aku katakan.”
Alina menoleh ke kanan dan kiri. “Kenapa tidak sekarang?”
“Ini sangat rahasi.” Wanita paruh baya itu tersenyum, kemudian berdiri. “Selesaikan pekerjaanmu, dan nikmati cutimu, Alina.”
“Ah, bibi Lin.”
Alina terkekeh samar, sementara bibi Lin sudah pergi dari sana. Pandangan Alina tak lepas dari menatap bunga mawar merah di dalam genggamanya. Dia menatapnya kemudian mencium aromanya.
“Alina.” Panggil seseorang, dan Alina langsung mencari sumber suara.
“Tuan muda Ron?”
__ADS_1
***
Ah bakalan ada apa nih? wkwk semoga selalu suka sama ceritanya yaaa...