Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 49


__ADS_3

Happy Reading ….


Alina membalut luka di lengan Arron akibat cengkraman kukunya saat menonton bioskop tadi siang. Alina pikir telah terjadi sesuatu yang serius sehingga tuan muda pertamanya itu menanyainya seperti tadi. Membuat gugup saja.


“Sudah selesai, Tuan.” Lalu, gadis cantik itu membereskan kotak P3K.


Sebenarnya Alina ingin memperjelas hubungan di antara dirinya dan Arron. Dia ingin bekerja sebagai professional yang mana hanya menjalankan pekerjaan yang semestinya. Berapapun harga yang Arron tawarkan, tapi dia tidak ingin menjadi wanita nakal di belakang bos besar. Harga dirinya masih mampu Alina pertahankan. Tapi dia tidak mampu mengatakannya kepada Arron.


Dia menghela napas lelah.


Arron yang melihat itu lantas bertanya, “Ada masalah?”


Alina menatapnya. “Tidak-tidak.” Dia menggeleng dengan cepat.


Tapi, jika tidak mala mini dia mengatakan hal yang sebenarnya, mungkin Alina tidak akan dapat mengatakannya seumur hidup, dan dia akan selalu dipermainkan oleh Arron. Dia tidak ingin itu terjadi. Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya Alina merasa nyaman-nyaman saja. Tapi tidak, Alina tidak akan goyah hanya karena wajah tampan menggoda tuan muda pertama.


“Tuan … sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan kepadamu,” ucapnya dengan segan.


“Katakanlah.”


Alina memainkan jemarinya dengan gugup.


Ayolah Alina. Dia terus menyemangati diirnya sendiri dalam hati.


“Tuan, aku sudah membaca dokument perjanjian kontrak kerja denganmu di dalamnya tertulis aku hanya melakukan pekerjaan biasa,” ucap Alina dengan satu napas.


Arron mengangkat kedua halisnya dan menatap Alina tajam.


“Maksudku, tidak ada aturan di mana aku bisa melayani hal lainya.”


“Hal lainnya?”


“Tuan, karena banyaknya peraturan yang kau tulis mungkin kau melupakan jika ciuman itu tidak termasuk ke dalam pekerjaanku.”


Arron menatap Alina dalam sembari tersenyum lalu terkekeh setelah mendengar pernyataan asisten kecilnya. Bagaimana mungkin Arron memasukan daftar ciuman ke dalam kontrak kerja. Bahkan sebelumnya dia sangat tidak suka seorang wanita mendekatinya tanpa persetujuan darinya. Hanya Alina yang bisa melakukan itu.


Kenapa dia malah tertawa? Apa aku terlihat konyol. Pikir Alina.


“Kau benar, ciuman itu tidak termasuk ke dalam peraturan kerja yang aku buat.”


“Lalu Tuan, kenapa kau malah menciumku?”


Arron menghentikan kekehannya. Kini wajahnya menjadi serius. “Bagaimana jika aku mengatakan aku menyukaimu.”


“Hah?” Alina menganga tidak percaya, dia langsung berdiri dari posisi duduknya di sisi Arron. Pasti tuan muda pertama sedang mempermainkannya. Itu tidak mungkin terjadi. Dia harus menetralkan pikirannya supaya tidak berpikir macam-macam.


Arron akui jika semenjak hari liburan bersama dia selalu menjauh dari gadis kecil itu. Dia membutuhkannya hanya sebatas pekerjaan. Tapi semakin hari dia malah merindukan Alina, terlebih saat gadis itu terus menghabiskan waktu bersama Vano. Arron seakan tidak rela.

__ADS_1


Dia selalu mendominasi apapun yang dia miliki termasuk seorang pelayan. Tapi perasaanya untuk Alina berbeda. Dia ingin memiliki gadis itu lebih dari seorang pelayan. Meskipun di luar sana banyak wanita yang lebih cantik dari Alina, tapi Arron hanya menginginkannya. Dia suka kepolosan gadis itu. Sikap konyol dan cerobohnya itu seolah melengkapi sikap Arron yang dingin dan kaku.


Arron meraih telapak tangan Alina, memintanya untuk duduk kembali di atas sofa. Dia mengenggam erat telapak tangan gadis itu.


“Aku menyukaimu Alina.”


“Tuan, aku tahu kau menyukaiku karena aku baik dalam melakukan pekerjaan. Terima kasih untuk itu, Tuan muda.” Dia menunjukan senyuman manisnya.


“Aku mencintaimu.”


“APA?” pekiknya tidak percaya. “T-tapi itu uhm-”


Belum sempat Alina melanjutkan kalimatnya, Arron sudah terlebih dulu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Ini ciuman yang kedua hari untuk hari ini. Alina begitu terkejut dan tidak siap. Dia bahkan tidak bisa menutup matanya dan menikmati ciuman yang Arron berikan.


Tidak lama, Arron menarik wajahnya kembali dan menatap wajah Alina. “Kau miliku mulai sekarang.”


**


Kau miliku mulai sekarang.


Kau miliku mulai sekarang.


Kalimat itu terus terngiang-ngiang di dalam kepala Alina dan juga membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Wajah lesu dan lingkar hitam pada matanya terlihat jelas oleh Arron saat gadis itu membantunya mengikatkan dasi.


“Ada apa dengan wajahmu?”


“Ada apa? Apa kau sakit?”


Alina menggeleng pelan.


“Lalu apa yang kau lakukan?”


“Aku tidak tahu, Tuan.” Dia menyelesaikan ikatan dasinya, lalu tersenyum dan mengubah raut wajahnya menjadi bersemangat. “Tuan sudah selesai.”


__


“Apa yang dia lakukan sehingga tidak tidur semalaman?” Arron bergumam sendiri sembari terus memikirkan Alina.


Arron melihat arloji pada pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukan pukul satu siang. Kini dia sedang berada di ruang kerjanya di perusahaan. Arron harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting namun pikirannya terus tertuju kepada Alina.


Dia meraih ponselnya di atas meja dan memutuskan untuk menguhubungi gadis itu.


‘Hallo, Tuan.’


Selain suara Alina, di sana juga terdengar suara bising.


“Di mana kau?”

__ADS_1


‘Aku di mansion.’


“Maksudku, kau berada di mana dan sedang apa?”


‘Ah … aku di ruang pencucian dan membantu ibuku bekerja.’


Dia tidak tidur semalaman penuh dan bukannya pergi beristirahat malah bekerja sembarangan tanpa izin dari Arron. Seharusnya ketika Arron bekerja di perusahaan, Alina bisa menggunakan waktunya untuk bersantai.


Arron langsung menutup teleponnya, dan beralih menelpon orang lain.


“Beritahu Alina untuk membawakan beberapa berkas di ruang belajarku, dan juga tambahkan orang di ruang pencucian mansion.”


Sementara itu di sisi lain, Alina sedang sibuk membantu ibunya bekerja. Tiba-tiba saja beberapa pelayan wanita masuk dan membantu mereka, dan seorang penjaga pria menghampirinya.


“Alina, kau diminta tuan untuk mengantarkan beberapa berkas ke perusahaan.”


“Perusahaan? Bukankah biasanya seseorang dari perusahaan akan mengambil sendiri? Kenapa harus aku?”


“Tuan muda memerintahmu untuk mengantarnya, ikuti aku.”


“Baiklah.”


Setelah mengambil beberapa berkas yang Arron inginkan, Alina langsung pergi menuju perusahaan dengan diantar oleh penjaga yang tadi menyampaikan perintah Arron kepadanya. Penjaga itu juga mengantarkan Alina sampai ke dalam ruang kerja Arron.


Sesampainya di sana, Alina melihat pria bertubuh tegap itu sedang berdiri menghadap dinding kaca yang mengarah langsung pada pemandangan seluruh kota. Alina berjalan mendekat, suara higheels yang menghentak lantai membuat Arron seketika menoleh ke arahnya.


“Tuan.” Alina menunduk segan.


“Duduklah.” Arron mengarahkannya untuk duduk berwarna abu yang masih berada di dalam ruangannya.


“Berkas yang kau minta. Aku telah mengantarkannya, sekarang aku pamit pergi.”


Alina hendak beranjak, namun Arron tiba-tiba menahannya. “Tunggu.”


“Ada apa, Tuan muda?”


“Kau tidak bisa pergi.”


Alina berkerut heran. Kenapa dia tidak bisa pergi?


“Ini adalah waktu makan siang, makan sianglah bersamaku.”


“Aku tidak memiliki hak untuk itu.”


“Alina ini perintah.”


Bersambung ....

__ADS_1


Terimakasih buat yang udah like dan koment. Maaf aku gabisa balesin koment satu persatu. Semoga selalu suka sama ceritanya ya. See you.


__ADS_2