Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 31


__ADS_3

Alina melemparkan kotak yang diberikan oleh Vano beserta isinya. Dia kesal karena Vano sudah sembarangan memberinya pakaian seperti itu. Alina tentu saja menolak. Dia adalah seorang gadis, tapi tidak ingin tubuhnya dipandang oleh pria lain. Karena itu adalah hal yang memalukan menurutnya.


"Hei, pakailah." Vano memberikan kotak tersebut setelah dia mengambilnya di atas lantai.


"Tidak mau!"


"Keras kepala! Apa kau ingin terus memakai baju tidurmu itu?"


"Aku tidak peduli. Selama aku nyaman memakainya, kenapa tidak?"


Vano menghela napas lelah. "Alina, ini adalah pesta di atas kapal pesiar. Kau tidak bisa berpakaian seperti itu," kata Vano dengan nada yang sedikit prustasi.


"Aku tidak tertarik!" Alina kesal, dia berbaring kembali di atas ranjang dan memejamkan matanya.


"Alina," panggil Vano, namun gadis cantik itu malah mengabaikannya. "Alina!" panggilnya lagi.


Namun Alina terus mengabaikannya. Gadis cantik itu hanya terus memejamkan mata.


Vano tidak habis pikir. Dia langsung menarik pergelangan tangan Alina supaya gadis itu mau bangun dan mendengarkannya. Namun, bukannya bangun, Alina malah menarik kembali lengannya hingga Vano kehilangan keseimbangannya dan ambruk menindih tubuh Alina.


Seketika itu pula Alina langsung membuka matanya sempurna. Ini untuk yang kedua kalinya dia berhadapan dengan Vano dalam posisi yang begitu dekat. Tapi, bagi Alina, Vano hanyalah sahabat masa kecilnya. Meskipun berdeketan dalam jarak yang sangat dekat, ataupun berciuman bibir sekalipun, perasaan Alina tidak pernah berubah terhadapnya.


“Bukankah ini terlalu siang untuk melakukan sesuatu?” ucap seseorang.


Refleks Alina dan Vano menoleh ke arahnya. Di ambang pintu, sudah ada Willson, Allson, dan juga Arron yang tengah memperhatikan mereka. Secepat kilat Alina mendorong tubuh Vano menjauh, dan dia langsung beranjak berdiri lalu merapikan pakaian.


“Lain kali, jangan lupa untuk menutup pintu,” goda Willson dengan senyuman. Lalu, dia melemparkan satu kotak kepada Alina. “Untukmu. Lanjutkan, kami tidak akan menganggu kalian.”


Kemudian, tiga tuan muda itu pergi meninggalkan Alina dan Vano. Seketika itu pula Alina langsung menatap Vano dengan sorot mata tajam. Sementara Vano hanya tersenyum tipis, dan tak lama keluar kabin meninggalkan Alina. Dia kabur, tidak mau menerima kekesalan gadis cantik itu.


Aaaaarhg! Menyebalkan! Alina menghentakan kakinya ke lantai dengan kesal.


Empat tuan muda itu kini sudah berada di tempatnya lagi. Mereka duduk di sebuah kursi santai dengan dikerumuni wanita di sekitarnya. Mereka sangat menikmati suasana pesta di kapal pesiar yang mereka adakan.

__ADS_1


“Bukankah terlalu cepat untuk melakukannya?” goda Willson pada Vano. Sementara Vano hanya tersenyum simpul menanggapinya.


Arron meneguk redwine di dalam gelasnya hingga tandas. Dia menyimpan gelas itu ke atas meja kemudian beranjak pergi meninggalkan beberapa wanita yang mencoba meluluhkannya. Ketiga adiknya menatap kepergiannya heran, lalu mereka saling menatap satu sama lain.


“Ada apa dengannya?” tanya Allson.


“Bukankah dia selalu tidak menyukai pesta seperti ini?” timpal Willson.


Vano menarik ujung bibirnya. Jelas-jelas jika Arron tengah marah.


Tidak lama setelah Arron pergi, Alina datang di antara mereka. Gadis cantik itu sudah rapih dengan dress berwarna putih tanpa lengan. Alina juga sengaja mengepang rambut legamnya, dan menyisakan poni di kedua sisi wajahnya.


“Alina, kau sangat cantik,” puji Willson.


“Tuan muda Son, terima kasih atas gaunnya.” Alina tersenyum ke arah Willson.


“Kemari dan duduklah.” Vano melambaikan tangannya, meminta Alina untuk duduk di sampingnya. Namun Alina malah berpaling dan mengabaikannya.


Pandangan Alina mengedar, dia mencari keberadaan Arron. Bukankah tadi bosnya itu berada di antara mereka. Tapi kenapa kini dia menghilang? Kemana perginya Arron?


Alina menatapnya, kemudian mengangguk. Dia melangkah dan duduk di samping Allson. Gadis cantik itu duduk di kursi yang tadi Arron tempati.


“Kau ingin minum?” Willson menawarkan minuman beralkhoholl dengan warna caramel serta beberapa es batu di dalam gelas.


Alina langsung menggeleng untuk menolaknya. “Aku tidak bisa minum.”


“Hanya satu gelas, kau tidak akan mabuk.” Willson menyodorkan satu gelas whisky itu kepada Alina.


“Baiklah.” Alina meraih gelas yang diberikan Willson, lalu dia meminum whisky itu sekaligus hingga habis.


“Hey, minum itu perlahan.” Allson mengingatkan. Willson dan Vano sampai tercengang melihat cara minum Alina.


“Ah?” Alina berkerut kening. Mendadak dia panik karena takut mabuk. Dan jika sampai Alina mabuk, dia takut melakukan hal yang memalukan.

__ADS_1


“Tidak masalah, aku akan menambahkannya lagi.” Willson mengambil gelas yang digenggam Alina, lalu menuangkan whisky kembali ke dalam gelas.


“Tidak, sudah cukup.” Alina menolak.


Willson tersenyum ramah ke arahnya. “Alina, ingat, dua gelas tidak akan mabuk.” Lalu dia memberikan gelas itu kembali kepada Alina.


Allson tersenyum tipis dan menggeleng lemah, sementara Vano malah sibuk dengan wanita-wanita cantik yang mengerumuninya. Beberapa wanita cantik di sana focus dengan aksi Willson yang tengah menggoda Alina. Sesekali mereka juga tertawa geli melihat tingkah keduanya.


Alina mencebik. Dengan terpaksa dia menerima gelas itu lagi.


“Cheers?” Ajak Willson seraya mengangkat gelasnya ke atas.


Cheers!


**


Sudah satu jam berlalu. Alina sudah menghabiskan liga gelas whisky, dan kini dia mabuk berat. Gadis cantik itu memejamkan matanya dan duduk di atas kursi santai. Sementara tiga tuan muda itu sibuk dengan para wanita cantik lainya.


Beruntung pria yang berada di atas kapal pesiar itu hanya empat pria dari kediaman Washington. Karena jika tidak, sudah banyak pria yang akan menganggu Alina.


Alina sedikit membuka matanya, samar-samar melihat Vano yang tengah bersenang-senang dengan wanita lain. Cih, bukankah dia kekasihku? Tapi kenapa tingkahnya sangat tidak disiplin?


Kepalanya terasa sangat pusing, tapi Alina malah berusaha beranjak untuk mendekati Vano. Dia mabuk, pikirannya sudah tidak karuan dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Meskipun Alina tahu jika hubungannya dengan Vano hanya sebatas main-main, tapi melihat Vano yang bertingkah seperti itu, Alina sangat geram. Bukan hanya pada Vano, tapi pada si kembar Willson dan Allson.


Mereka sangat senang bermain-main dengan wanita.


Dengan susah payah dia mencoba menatih tubuhnya untuk beridiri, dan kini berhasil. Alina mencoba melangkah mendekati Vano dengan langkahnya yang limbung. Beberapa langkah lagi dia akan mencapai kekasih bohongannya itu. Tapi tiba-tiba, seseorang menarik pergelangan tangannya dengan cepat, membuat gadis cantik itu terkejut setengah mati.


Alina ditarik masuk ke dalam kabinnya, dan orang itu mengunci pintunya rapat. Alina berkerut kening seraya menatap pria itu intens. “Ah! Tuan muda Ron!” pekiknya.


“Apa? Merasa sudah hebat dan minum minuman beralkhohol?” tanya Arron dengan nada dingin.


Alina mencebik kesal. “Aku tidak minum-minum.” Dia menggeleng lemah. “Mereka memaksaku! Tapi kemudian mereka meninggalkanku dan-, dan-”

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan koment babay di next chap yaaaa.....


__ADS_2