Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 46


__ADS_3

Happy Reading ....


Alina masih terdiam ketika Arron mulai memasangkan jepit tersebut kepadanya. Tuan muda pertama itu tersenyum tipis ketika melihat jepit itu tersemat pada rambut legam Alina. Pilihannya memang tidak akan pernah salah, Alina terlihat sangat cocok ketika mengenakannya.


“Kau adalah asisten pribadiku, penampilanmu harus sedikit berbeda dengan pelayan lainya,” ucap Arron, tapi Alina malah terus terdiam dan tidak menjawab perkatannya.


Arron mengeryitkan dahi ketika melihat gadis dengan tatapan kosong di hadapannya. Apa yang sedang gadis itu pikirkan sampai-sampai dia tidak mendengar kalimat yang Arron ucapkan. Melihat Alina yang seperti itu, Arron lantai mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh kening Alina dengan sedikit keras.


“Ah!” Alina berjengit kaget, dia langsung mendongakan wajahnya dan menatap Arron dengan ekspresi memprotes.


“Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau mendengarkan ucapanku, Alina?” tanya Arron seraya mengangkat kedua halisnya.


Alina menggeleng pelan sebagai jabawan, dan Arron sudah mendugannya.


Arron menunjuk jepit rambut berwarna merah itu. “Jepit ini, gunakan setiap hari,” ucapnya pada Alina.


“Ah?” Alina refleks menyentuh bagian rambutnya. Ah … jepit ini benar-benar untukku. Ucapnya dalam hati.


“Jepit rambut ini sebagai tanda bahwa kau hanya miliku, Alina.”


Mendadak jantung Alina berdegup dengan sangat kencang ketika mendengar kalimat yang baru saja Arron ucapkan. Apa? Alina adalah miliknya? Gadis cantik itu langsung menundukan wajahnya secepat kilat, takut semburat merah yang muncul memenuhi wajahnya disadari oleh Arron.


“Baik, Tuan muda, aku akan mengingatnya.”


“Bagus.” Arron mengusap pucuk kepala gadis cantik itu, dan membuat hati Alina berdebar tidak karuan.


__


Waktu bekerja hari ini telah usai, dan Alina sudah kembali ke pavillium belakang untuk beristirahat. Kini gadis cantik itu berada di depan cermin sembari terus menatap bayangan dirinya hampir lebih dua puluh menit.


Tidak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Ibu Alina datang sembari membawakan beberapa porsi makanan untuk mereka makan malam ini. Melihatnya putrinya yang terus melamun dan tidak menyadari akan kehadirannya, lantas wanita paruh baya itu langsung mendekati Alina setelah menyimpan makanan yang dibawanya ke atas meja.


“Hei, apa yang sedang kau lakukan? Tidak baik melamun malam-malam seperti itu.”


Alina langsung mengedipkan kedua matanya, menoleh dan menatap ibunya. “Ibu, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu,” ucap Alina serius.


Gadis cantik itu beranjak, lalu menarik lengan ibunya untuk duduk sama-sama di atas ranjang.


“Ibu, apa kau pernah merasakan jantungmu berdetak dengan sangat kencang, lalu wajahmu memerah katika mlihat atau mendengar suara seseorang?”

__ADS_1


Ibu Alina berkerut heran atas pertanyaan yang diajukan oleh putrinya itu. “Apa seseorang sedang manakut-nakutimu?”


“Ibu … bukan seperti itu. Tapi, kau akan merasa malu ketika berhadapan dengan seseorang, lalu jantungmu akan berdegup kencang, dan setiap saat kau selalu memikirkannya,” lugas Alina seraya membayangkan perasaanya ketika dia bertemu dengan Arron.


Lantas ibunya terkekeh pelan. “Apa gadis kecilku sedang jatuh cinta?”


Sontak kedua bola mata Alina membulat setelah mendengarnya. “Apa? Jatuh cinta?”


“Tentu saja. Jantung yang berdetak kencang, perasaan malu, wajah yang memerah ketika bertemu dengan seseorang dan selalu memikirkannya. Itu tandanya kau sedang jatuh cinta.”


Alina menelan salivanya susah payah. “A-apa itu? Aku tidak seperti itu.”  Rasanya Ia telah salah karena sudah menanyakan hal ini kepada ibunya.


“Siapa pria beruntung yang telah mendapatkan hati putriku? Apa itu Jino?”


“Ah? Jino? Tidak, tidak. Ibu … kau salah, aku tidak sedang jatuh cinta.”


Ibunya hanya tersenyum senang. “Baiklah, ibu tidak akan mengganggumu lagi. Sekarang makanlah, makananya sudah hampir dingin.”


“Makan malam? Benarkah? Ah … aku sudah lama sekali tidak makan malam bersama ibu.”


--


Malam hari sebelum pernebangannya, Vano pergi untuk menemui ibunya terlebih dahulu. Di sebuah ruangan khusus yang berada di lantai dua, mereka tengah berbincang bersama. Beberapa dokument Vano simpan di atas meja untuk menanyakan kebenaran terkait hal di dalamnya. Sementara Monika dengan tenang meminum secangkir the miliknya, wanita itu tidak langsung memberi kejelasan atas hal yang Vano tanyakan.


 


 


“Aku hanya tidak ingin terus melihatnya menjadi seorang pelayan,” jawab Vano dengan nada rendah.


 


Monika menghembuskan napasnya pelan ketika melihat ekspresi Vano. Putra semata wayangnya itu tidak akan pernah menyerah sebelum dirinya menjelaskan semua yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Melihatnya begitu bersikeras, Monika memutuskan untuk menceritakan segalannya malam ini.


 


Kemudian, Monika mengambil beberapa dokument yang telah di kumpulkan oleh Vano, lalu membacanya satu persatu. Dia terkejut dengan apa yang telah dilihatnya malam ini. Bagaimana itu mungkin? Dan bagaimana bisa Vano menemukannya? Bahkan setelah satu, dua, dan lima tahun Monika mencari, jejaknya sama sekali tidak diketahui. Bagaimana mungkin?


 

__ADS_1


 


Monika menutup mulutnya tidak percaya. “Kau menemukannya, bagaimana mungkin?”


 


**


Pagi-pagi sekali Alina sudah bersiap untuk pergi ke mansion utama dan mulai bekerja. Alina menyiapkan pakaian, dasi, dan semua perlengkapan yang akan Tuan mudanya itu kenakan untuk bekerja. Setelah siap, dia pergi menuju kamar utama Arron untuk membawakan semua perlengkapan yang telah disiapkannya itu.


Sesampainya di depan pintu kamar Arron, Alina mengetuk pintu kamar beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Dia terus mengetuk, namun hasilnya tetap nihil. Padahal, biasanya Arron tidak pernah terlambat untuk bangun di pagi hari.


“Alina,” seorang pelayan wanita menyapanya. “Pagi-pagi sekali tuan muda pertama pergi untuk berolahraga.”


“Benarkah? Kenapa dia tidak memberitahuku sebelumnya?”


Setelah mendengar hal itu, Alina menyimpan kembali perlengkapan Arron yang sebelumnya telah Ia siapkan. Dan dia langsung pergi menuju danau, karena biasanya Arron akan berlari pagi di sekitar tempat itu.


Bagaimana bisa aku melewatkannya? Padahal jelas-jelas aku melewati danau saat pergi ke mansion utama. Gerutu Alina dalam hati.


Sesuai dugannya, Arron berada di sana dan tengah duduk di kursi sisi danau. Alina yang melihatnya lantas langsung melangkah mendekatinya. Gadis cantik itu berdiri tepat di hadapan Arron, tetapi dia malah terus menatap tuan mudanya tanpa berkedip.


Keringat membasahi singlet putih yang Arron kenakan membuat cetakan jelas pada perut sis pax pria itu. Membuat Alina menjadi kehilangan focusnya. Mendadak jantungnya kembaki berdebar dengan keras. Seketika itupula Alina langsung mengalihkan pandangannya dari Arron.


Apa ini? Jantungku tidak berhenti berdebar ketika menatap tuan muda. Pikirnya dalam hati.


 "Alina," panggil seseorang dari arah belakang, dan refleks Alina menoleh untuk melihatnya.


Vano?


Vano berjalan mendekatinya, tersenyum lalu mengatakan,"Sebelum pergi, aku ingin memberikanmu hadiah perpisahan."


Alina berkerut heran. "Bukankah kau-" kalimatnya terhenti sejenak. "Bukankah Tuan muda Van sudah memberikan hadiah perpisahannya kemarin?"


Vano terkekeh."Hadiah itu hanya untuk menggodamu. Ini adalah hadiah yang sebenarnya," ucapnya seraya memberikan sebuah kotak kecil kepada Alina. "Bukalah."


Alina mengangguk, menerima kotak tersebut lalu membukanya. "Cincin?"


Arron yang mendengar itu langsung menatap kedua orang yang berdiri di sampingnya. Untuk apa Vano memberikan Alina sebuah cincin?

__ADS_1


Bersambung ....


Hallo Readers, maaf kemarin gak up yaa ....


__ADS_2