
Alina menghela napas lelah. Gadis cantik itu kini tengah berada di dalam kamar Vano dan menceritakan semua yang telah terjadi ketika Vano pergi. Mau tidak mau Alina harus menjadi pelayan pribadi Arron lagi. Sementara Vano tengah memikirkan solusi terbaiknya.
“Aku akan menerima nasibku,” ucap Alina dengan nada lemas.
Semua orang tahu jika di dalam mansion, semua keputusan berada di tangan Arron. Tidak ada satupun orang yang dapat mengubahnya, termasuk Vano. Jadi, daripada menambah masalah. Lebih baik Vano dan Alina menerima semua ini dengan lapang dada.
“Ini semua salahmu! Seandainya kau tidak pergi,” gerutu Alina sebelum akhirnya dia beranjak pergi, keluar dari ruangan Vano.
“Gadis itu!”
Vano tidak menerima keputusan Arron tanpa alasan. Namun dia lebih mengetahui dengan apa yang telah terjadi dibandingkan siapapun. Dan seperti ini, tampaknya bagus untuk Alina mataupun Arron.
Alina melangkah, menyusuri lorong mansion. Langkahnya kembali pada ruangan besar yang sebelumnya dia datangi sebelum Vano menariknya. Ruangan Arron. Alina kembali untuk melanjutkan tugasnya. Gadis cantik itu memilih berdiri bersama pelayan yang menjaga pintu, dibandingkan harus masuk ke dalam.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dari dalam. Menampilkan sosok tampan yang keluar dari kamar. Arron menghentikan langkahnya untuk menoleh sekilas ke arah Alina. Namun setelah itu, dia langsung melanjutkan langkahnya kembali.
Alina langsung mengikuti langkah Arron dari belakang. Karena yang dia tahu, tugasnya adalah mengikuti Arron kemanapun kaki pria tampan itu melangkah. Arron memiliki langkah yang lebar, sehingga gadis cantik dengan kaki mungilnya sangat sulit untuk mengimbangi langkahnya.
“Kau sadar akan tugasmu,” ujar Arron tiba-tiba. Sementara Alina hanya bisa menundukan wajahnya sembari terus mengikuti langkahnya.
Mereka berjalan menyusuri lorong, menuruni tangga, dan kemudian berhenti tepat di depan sebuah pintu kaca. Dua orang pelayan membukakan pintu tersebut, dan mereka melanjutkan langkahnya. Alina baru menyadari jika Arron pergi membawanya menuju kolam renang yang masih berada di dalam mansion.
Kolam renang yang berada di dalam mansion, tak lain adalah sebuah kolam renang khusus yang hanya dipakai oleh Arron. Sementara jika anggota lainya ingin berenang, mereka bisa menggunakan kolam renang yang berada di luar mansion. Itu sengaja dibuat, karena Aland tidak suka berbagi kolam renang dengan yang lain. Karena itu adalah privasi.
Alina menelan salivanya susah payah. Apakah Arron akan berenang? Gadis cantik itu langsung melirik Arron yang memang hanya mengenakan bathrobe saja. Lord! Bahkan Alina baru menyadarinya.
Apakah aku harus melihatnya berenang? Batin Alina.
“Maaf, Tuan muda. Aku akan segera keluar,” ucap Alina seraya membungkukan sedikit tubuhnya.
“Tidak perlu.”
__ADS_1
Alina sedikit tercengang. Bukankah Arron tidak suka ketika seseorang melihat tubuhnya? Itu ada di lembaran surat kontrak yang Alina baca. “Bukankah-”
“Tidak perlu banyak bicara.”
“Baik, Tuan muda.” Alina menunduk lemah.
“Tuangkah beer ke dalam gelas,” perintah Arron.
“Baik, Tuan muda.” Dan Alina harus segera menurutinya.
Alina sibuk menuangkan beer ke dalam gelas, sampai akhirnya dia sedikit berjengit kaget ketika lengan seseorang memberikan sebuah kain berwarna putih kepadanya. Alina tertegun, menyadari kain apa itu. Bathrobe! Itu sebuah bathrobe.
“Ambil ini,” perintah Arron. Mendengar suaranya saja sudah membuat tubuh Alina meremang hebat. Apakah sekarang … Tuan mudanya itu tengah bertelanjang?
Dengan terus menundukkan wajahnya, secepat kilat Alina meraih bathrobe yang dipegang Arron. Kemudian Alina sedikit menggeserkan posisi berdirinya agar tidak melihat tubuh Arron yang terlalu vulgar itu.
Tidak lama kemudian, suara air di kolam terdengar. Menandakan jika Arron sudah masuk ke dalam kolam dan berenang. Sementara Alina, gadis cantik itu kaku dengan posisinya. Dia tidak bisa mengangkat wajahnya, membuka matanya, dan bergerak satu incipun. Dia berdiri seperti patung.
Lord! Tolong aku! Batin Alina.
Alina tidak menghiraukan panggilan Arron. Dia malah terus diam dan terpaku oleh posisinya. Beberapa saat, sudah tidak terdengar Arron yang memanggilnya lagi. Alina berharap, jika pria tampan itu melanjutkan aktivitas berenangnya.
“Apa kau tuli?”
Seketika Alina terhenyak, membuat tubuhnya refleks berbalik, dan wajahnya menoleh untuk menatap Arron. Damn! Tuan mudanya itu tengah meneguk beer di dalam gelas. Alina tertegun ketika melihatnya. Rambut yang basah dan berkumpul, dada bidang yang sispax dan berbentuk kotak-kotak, serta otot-otot lengan yang terlihat menggiurkan.
Gadis cantik itu terus menatap Arron dengan tatapan kagum, sampai dia tidak menyadari jika Arron telah selesai meneguk beer di dalam gelasnya. Secara tidak sadar, Alina memajukan sebelah lengannya dan hendak menyentuh dada bidang berotot itu. Astaga! Dia terlalu terhipnotis.
“Ambilkan bathrobeku,” perintah Arron lagi.
“Heuh?”
__ADS_1
Arron tidak menanggapinya. Pria tampan itu malah balik menatap Alina dengan seringai di wajahnya. “Kau begitu menyukai tubuhku? Kau melihatnya tanpa berkedip, Alina.”
Seketika kedua bola matanya membulat sempurna. Kali ini, Alina benar-benar tersadar dengan apa yang tengah terjadi. Astaga! Kenapa dia selalu bertindak bodoh. Alina merasa canggung sekaligus malu. Secepat kilat dia menarik lengannya yang hampir saja menyentuh dada bidang Arron.
Arron hanya tersenyum simpul melihat tingkahnya.
Pandangan Alina beralih pada gelas kosong di atas meja. Dia langsung memajukan langkahnya dan meraih gelas tersebut untuk mengisinya kembali dengan beer. Namun belum sempat Alina melakukannya, tiba-tiba Arron mencekal lengannya.
“Ambilkan bathrobe, bukan beer.”
Alina tertegun, semburat merah memenuhi setiap inci wajahnya. Dia benar-benar merasa malu. Ini konyol!
Alina langsung berbalik, pandangannya mengedar mencari bathrobe milik tuan mudanya itu. Di mana? Di mana bathrobe itu? Entah apa yang Alina pikirkan, jelas benda yang dia cari berada tepat di sampingnya. Arron yang masih menggenggam tangan Alina pun langsung menariknya, membuat tubuh mungil itu berbalik kembali untuk menatapnya.
Arron mengedikkan dagunya kea rah samping, menunjukan jika bathrobe itu berada di sana. Alina langsung menoleh, dia langsung meraih bathrobe itu kemudian memberikannya kepada Arron dengan senyuman di wajahnya.
“Tuan,” seru Alina.
Arron melepaskan genggamanya pada lengan Alina. Namun, bukanya mengambil bathrobe tersebut, Arron malah merentangkan kedua lengannya. Alina langsung mengerti dengan maksud tuan mudanya itu.
Apakah dia tidak memiliki tangan? Gerutu Alina kesal.
Alina langsung berjalan menuju belakang tubuh Arron. Dia merentangkan bathrobenya agar Arron mudah untuk mengenakannya. Gadis cantik itu melakukannya sembari menyipitkan kedua mata. Dia tidak mau melihat tubuh berotot Arron terlalu lama.
Arron sudah mengenakan kedua sisinya, kini hanya tinggal ditalikan saja. Alina meraih tali bathrobe tersebut lalu membawanya ke depan. Tapi tunggu, sepertinya ada yang salah. Kenapa Alina melakukannya dari belakang? Posisinya kini, seperti dia tengah memeluk tubuh Arron dari belakang.
“Kau terlihat begitu menikmatinya, Alina.”
Bersambung ....
Jangan lupa like, koment, dan juga vote yaaa untuk terus menyemangati Author.
__ADS_1