
Alina tertegun menyadari posisinya yang sangat tidak menguntungkan. Sementara Arron yang mendapati itu malah terkekeh pelan menanggapinya. Namun dengan cepat Alina tersadar dan menarik lengannya kembali. Gadis cantik itu diam dan enggan untuk melanjutkan pekerjaanya.
Arron membalikkan tubuhnya lalu menatap gadis cantik itu dengan intens. Dan Alina hanya bisa menunduk antara takut dan malu. Takut jika Arron akan memarahinya, dan malu karena kecerobohannya.
“Kau tidak akan melanjutkan pekerjaanmu, Alina?” tanya Arron, membuat Alina mendongakkan wajah untuk menatapnya.
“Ya?”
Arron mengangkat kedua halisnya.
“Oh, y-ya.” Alina mengumpati dirinya sendiri yang selalu ertindak bodoh. Dia menjawab, tapi bahkan tidak mengetahui apa maksud Arron. Gadis cantik itu tidak focus. Setelah mengatakan itu, Alina malah kembali terdiam dan tidak melakukan apa-apa.
Tiba-tiba, Arron menarik kedua lengan Alina lalu memberikannya tali bathrobe. Alina tercengang, dadanya bergemuruh hebat. Dia menatap Arron tanpa berkedip. Sementara Arron, tuan muda tampannya itu semakin menikmati keadaan ketika dirinya menggoda Alina. Menyenangkan. Sudah berapa tahun hidupnya selalu membosankan.
Arron menyeringai, dan Alina langsung kembali memfokuskan pikiranya. Gadis cantik itu menundukkan kembali wajahnya, dan memejamkan mata erat. Alina! Coba hitung, sudah berapa kali Arron tertawa dan mempermainkannya. Apakah itu sesuatu yang menyenangkan baginya?
Menyebalkan! Gerutu Alina kesal dalam hati.
Tanpa banyak basa-basi lagi, Alina langsung menalikan tali bathrobe yang tengah digenggamannya. Setelah itu, dia langsung berbalik dan pergi dari sana. Gadis cantik itu tidak bersikap layaknya seorang pelayan pribadi tuan muda. Dia mudah sekali marah.
“Menarik,” ucap Arron dengan nada rendah.
Kemudian, Arron juga berjalan keluar dan menuju kamarnya. Namun ketika dirinya sampai di luar ruangan, Arron sudah tidak bisa melihat keberadaan Alina. Ke mana gadis cantik itu pergi? Dia menghilang begitu cepat.
Tidak memerdulikan hal itu, Arron melanjutkan melangkah menuju kamarnya. Sementara di sisi lain, Alina yang bersembunyi di balik tembok mulai keluar dari persembunyiannya dan dapat bernapas lega karena dia tidak perlu bertemu dengan Arron lagi.
“Sampai jumpa pada waktu makan malam, Tuan muda Ron.”
**
“Sial!” pekik Alina lantang, seraya melemparkan satu batu ke dalam danau.
Setelah menghindari Arron beberapa menit yang lalu, gadis cantik itu memutuskan pergi dan berdiam diri di tepi danau yang berada di sisi mansion. Suasana yang tenang, dan angin sore yang menyegarkan. Danau ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah. Ini adalah satu-satunya tempat yang Alina sukai dari keseluruhan mansion megah milik WS family itu.
“Ini untukmu!” pekiknya lagi. Sekeras apapun Alina berteriak, tidak aka nada yang bisa mendengarnya.
“Menyebalkan!”
__ADS_1
“Apa kau senang!”
“Konyol!”
“TUAAAN MUDA ROOOOON!”
“AAAAAAARRRGH!”
“Sangat berisik,” seru seseorang yang seketika membuat Alina berjengit kaget dan menghentikan teriakannya.
Gadis cantik itu langsung menoleh ke sumber suara. “T-tuan muda Son?”
Alina menggigit bibir bagian bawahnya. Apakah dia mendengar semua yang aku ucapkan? Batinnya bertanya-tanya.
“S-sejak kapan Anda berada di sini?” tanya Alina gugup.
“Aku baru saja datang, dan berniat untuk menenangkan diri di sini. Tapi kau bertingkah dan sangat berisik.”
“Ah~ Maafkan aku, Tuan muda.”
“Sepertinya kau sangat membenci seseorang,” ujar Son yang membuat Alina seketika terhenyak kaget.
“A-apa?”
“Samar-samar aku mendengar … kau menyebutkan nama kakakku,” katanya seraya mengangkat kedua halis.
Alina menelan salivanya susah payah. Jadi, Tuan muda ketiga itu mendengar teriakan Alina. Lord! Kenapa Alina selalu sial akhir-akhir ini. Apakah ini sebuah kutukan menjadi pelayan tuan muda Ron? Karena banyak sekali wanita yang menginginkan posisi ini, tapi tidak terwujud. Apakah ini bentuk kutukan dari mereka?
Gadis cantik itu meringis ngeri, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya sudah tertangkap basah.
“Aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun, termasuk kepada kakakku.”
Alina tersenyum getir menanggapi itu. “T-terima kasih, Tuan muda.”
“Tapi aku memiliki syarat.”
Tentu saja. Dia memiliki sikap seperti Vano. Batin Alina, menggertutu kesal.
__ADS_1
“Apa itu?” tanya Alina.
“Tidak sekarang. Aku akan meminta itu ketika aku membutuhkannya.”
“B-baik, Tuan muda Son.”
“Baiklah, lanjutkan,” ucapnya kemudian melangkah pergi. Namun baru saja beberapa langkah, Willson berbalik kembali untuk menatap Alina. “Mungkin sekarang, kau akan menambahkan namaku ke dalam daftar teriakanmu.” Setelah mengatakan hal yang begitu menyebalkan itu, Willson melanjutkan langkahnya kembali dan pergi dari sana.
Alina mendengkus kesal mendengar itu. Menyebalkan! Gadis cantik itu menghentakkan kakinya beberapa kali dan mengacak rambutnya kesal. SIAAAAL!
Willson Washington adalah tuan muda ketiga di keluarga WS. Ya, dia adalah kakak dari Vano. Sebenarnya, Willson memiliki saudara kembar yang bernama Allson Washington yang tak lain adalah Tuan muda ke dua. Oleh sebab itu sedari tadi Alina hanya memanggilnya dengan sebutan ‘Tuan muda Son’. Sebenarnya Alina sendiri tidak mengetahui siapa itu. Entah itu Willson atau Allson.
“Menyebalkan …,” rengek gadis cantik itu seraya mengambil batu kemudian melemparkannya ke dalam danau.
Willson yang belum pergi jauh dari sana dapat mendengarkan rengekan Alina dengan jelas. Dia hanya tersenyum tipis menanggapinya. Gadis yang aneh.
Gadis cantik itu memiliki garis takdir yang baik. Karena hidupnya kini di kelilingi oleh empat tuan muda sekaligus. Namun, Alina sendiri tidak pernah mensyukuri hidupnya. Maka dari itu, kesialan bertubi-tubi selalu menghampirinya. Tidak tahukah dia jika posisinya kini diperebutkan oleh ribuan wanita di luar sana?
**
Waktu makan malam telah tiba. Alina berdiri di samping meja makan, berjejer dengan para pelayan yang lain. Gadis cantik itu menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, mencari para penghuni mansion karena belum ada satu orangpun yang datang untuk makan malam, padahal waktu sudah menunjukan pukul 7 lebih sepuluh menit malam.
Tapi tidak lama kemudian, Vano datang dan duduk di tempatnya. Tuan muda tampan itu juga terlihat heran karena dirinya yang datang pertama. Sementara makanan akan dihidangkan ketika semua anggota keluarga telah berkumpul.
Vano melihat ke arah Alina yang tengah membuang wajahnya ke samping. Apakah dia masih marah kepadaku? Jelas-jelas aku tidak bersalah apapun. Batin Vano menggerutu.
Tidak lama setelah itu, nyonya besar dan duduk di samping kursi utama. Monika. Wanita paruh baya yang memiliki usia sekitar empat puluh tujuh tahun, dan masih memiliki tubuh yang indah dan berpakaian modis. Monika adalah ibu Vano, dan istri terakhir Tuan besar.
Arron adalah putra pertama keluarga WS, dan merupakan putra dari istri pertama. Sementara si kembar Allson dan Willson adalah putra dari istri ke dua. Dan Vano, Monika adalah ibunya.
“Alina, panggil Arron untuk makan malam. Bukankah kau pelayan pribadinya?” perintah Monika, yang tentunya sangat ingin Alina tolak.
***
Bersambung ....
Jangan lupa like, koment, dan juga vote yaaa. See you di chapter selanjutnya babay.
__ADS_1