Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 33


__ADS_3

Siang hari, ke empat tuan muda itu merencanakan untuk bermain bola tenis bersama. Mereka sudah siap dengan pakaian yang sesuai. Begitu pula Alina yang kini memakai rok mini dan baju berwarna putih. Jangan lupa topi untuk melengkapi penampilannya.


Alina duduk di sisi lapangan bersama dengan beberapa wanita yang menemaninya. Mereka sangat sibuk berteriak dan mendukung masing-masing tuan muda itu. Hanya Alina yang paling tenang di antara mereka.


“Willson! Willson! Willson!”


“Allson! Alsooooon!”


“Tuan muda Ron, semangaaaat!”


Mereka berteriak histeris dan sangat berisik. Hampir memecahkan gendang telinga Alina yang duduk di antaranya.


“Vano, sayangku semangaaaat!” Salah satu gadis berteriak.


Alina langsung meliriknya, tapi tak lama mengalihkan lirikannya kembali. Dia rasa, tidak ada untungnya terus berada di sana.


“Giliranmu.” Allson menyerahkan raketnya pada Alina.


Alina berkerut kening seketika, dan langsung menolaknya. “Aku tidak main. Tidak bisa, tidak bisa.” Dia melambaikan kedua lengannya.


“Kau tidak bisa bermain tenis?” tanya Willson yang lebih terdengar seperti ejekan.


Jangankan bermain, memegang raket saja Alina tidak pernah.


“Ayo sayang, aku akan mengajarimu.” Tiba-tiba Vano menarik lengan Alina, membuat gadis cantik itu tercengang, dan mau tidak mau harus melangkah mengikutinya.


Vano bersikap terlalu berani, bahkan di hadapan Arron. Selanjutnya, Alina tidak akan mampu mengangkat wajahnya ketika kembali bekerja dengan Arron nanti. Dia akan tamat.


“Pegang seperti ini.” Vano mengarahkan Alina.


Tuan muda ke empat itu berdiri di belakang Alina. Kedua lengannya mengenggam lengan Alina seraya mengayunkan raket ke atas dan ke bawah. Secara tidak langsung, posisi mereka terlihat sangat intim.


“Vano benar-benar mengajarinya,” ucap Allson.


“Bukankah gadis itu sangat manis?”


“Ya, mereka terlihat sangat cocok satu sama lain.”


Willson dan Allson duduk di sisi kanan dan kiri Arron. Mereka berbincang, dan Arron berada di antara mereka berdua. Tuan muda pertama itu mendengarkan, dengan pandangan yang menatap intens asisten pribadinya.


“Tidak sulit bagi mereka untuk dekat. Mereka tumbuh bersama,” kata Willson.

__ADS_1


Arron tengah mengenggam satu botol air mineral. Seketika itu pula dia langsung menegaknya sampai habis. Lalu, dia meremas botol plastik tersebut sampai menyusut. Dia melemparkannya ke tong sampah, lalu berlalu pergi dari sana.


Willson melemparkan pandangannya pada Allson, dan saudara kembarnya itu hanya menanggapi dengan kekehan kecil.


Sepertinya mereka berdua sengaja membuat Arron kesal. Mereka sangat mengenal kakak pertamanya. Arron tidak pernah merasa senang jika miliknya di sentuh atau di miliki orang lain. Mungkin, hal itu juga berlaku kepada Alina.


“Ikut aku!” Arron menarik pergelangan tangan Alina, membuat gadis cantik itu tercengang.


“Hei, Kak. Kau akan membawa kekasihku kemana?” teriak Vano.


“Vano ...” lirih Alina seraya menatap Vano. Kini, dia takut jika Arron akan memarahinya.


“Wah, dia mengambil tindakan.” Willson menyalang takjub melihat tingkah Arron.


Vano tersenyum simpul melihat itu. Rencananya untuk membuat Arron kesal akhirnya tercapai. Vano selalu taju jika Arron tidak akan tahan barang miliknya disentuh orang lain.


 


“Tuan muda, kau akan membawaku ke mana?” tanya Alina gelisah.


Alina membeliak lebar ketika menyadari Arron membawanya masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya Alina lihat saat Arron keluar tadi pagi. Ruangan itu tak lain adalah kamarnya.


Arron mengunci pintu kamar dengan rapat. Menyudutkan Alina pada pintu dan tubuhnya. Alina mencoba pergi dari kukungan tangan Arron, namun sia-sia.


Sebelumnya Arron tidak pernah dekat dengan siapapun, dan Alina adalah asisten pribadi pertamanya yang bisa bertahan selama berbulan-bulan. Dia menjadi terbiasa dengan kehadiran gadis cantik itu.


“Kau milikku, kenapa kau selalu dekat dengannya?”


Apa dia mabuk? Alina heran, kenapa tingkah tuan mudanya itu berubah menjadi over protektif kepadanya. Dan ... siapa yang dia maksud? Siapa miliknya?


Alina sepertinya akrab dengan suasana ini, dia pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Tapi ... itu hanya dalam mimpi. Apakah sekarang dia juga tengah bermimpi?


“Tuan muda Ron-”


Tiba-tiba saja Arron mendaratkan bibirnya pada bibir Alina. Dia menciumnya dengan lembut, sementara Alina hanya terus diam sembari membeliakan matanya lebar.


Arron mulai memainkan bibirnya, dan Alina mulai tersadar. Lengannya mulai meronta mendorong dada Aron menjauh, memukul bahu tuan mudanya.


Tapi Arron tidak ingin melepaskannya. Dia hanya terus mencium Alina, meskipun gadis cantik itu menolak.


Arron memeluk tubuh rampingnya, dia membawa Alina ke sisi ranjang lalu berguling di sana. Arron berada di atasnya, mengukung Alina dalam kuasanya.

__ADS_1


Alina terus meronta, dan terus meronta. Sampai akhirnya Arron sadar, dan membuka matanya. Bibir mereka masih menempel, dengan pandangannya yang saling menatap satu sama lain.


Seketika Arron beranjak dari menindih tubuh Alina. Dia langsung beringsut turun dari ranjang dan menjauhi pelayan kecilnya. Sementara Alina masih berbaring di atas ranjang dengan perasaan yang tidak karuan.


Tuan muda ... dia menciumku. Mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan.


“Ingat, cepat putuskan hubunganmu dengan Vano, dan jangan biarkan pria lain menyentuhmu.” Arron melangkah keluar ruangan, meninggalkan Alina sendiri di dalam kamar.


***


Hari sudah malam, mereka mengadakan pesta BBQ untuk mengakhiri liburan mereka. Karena besok, mereka harus segea kembali pulang.


Semua orang berada di sana dan menikmati pesta, kecuali Alina yang sejak tadi hanya diam melamun di ayas kursi. Sekilas dia melirik Arron. Mendadak suasanan di antara keduanya menjadi sangat canggung.


“Makan.” Vano memberikan satu piring berisikan makanan pada Alina. “Ada apa denganmu? Apa kau sakit?” Vano mencoba menyentuh dahi Alina, namun Alina dengan cepat mundur untuk menghindarinya.


Alina masih ingat perkataan Arron tadi siang.


“Vano, aku baik-baik saja. Pergilah memasak makanan lagi.”


Tapi, bukanya pergi, Vano malah duduk di samping Alina. Duduk dengan jarak yang sangat dekat sampai tubuh keduanya saling menempel.


“Ada apa denganmu? Sejak kakak pertamaku membawamu pergi, sikapnya menjadi murung seperti ini. Apa terjadi sesuatu padamu? Apa kau dipecat?” cecar Vano dengan nada rendah.


Sesaat Alina menatap ke arah Arron duduk tak jauh darinya, big bosnya itu fokus dengan redwine di dalam gelas miliknya. Dia tidak memperhatikan Alina.


“Jika kau dipecat olehnya, maka kau bisa bekerja menjadi asisten pribadiku. Bukankah itu hal yang bagus?”


Alina meringis ngeri. Ocehan Vano hanya membuatnya semakin pusing saja. Sudah cukup sikap Arron yang membuatnya bingung, kenapa kini Vano datang dengan membawa beban lainya?


Aku tidak dipecat, mungkin sebentar lagi.


Pandangan Alina membulat dan tertegun ketika melihat Arron yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Takut jika Arron tiba-tiba mendekat kemudian menariknya lagi seperti tadi siang.


Tapi ... sepertinya Alina salah paham. Arron bukan beranjak untuk mendekatinya, melainkan untuk menyambut seseorang yang baru saja datang.


“Kakak ....”


Bersambung ....


****

__ADS_1


Tebak, siapa yang dataang? Jangan lupa like dan koment kaliaan yaaa.


__ADS_2