Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 48


__ADS_3

Happy Reading ….


“Alina, kau ingin pergi kemana hari ini?”


Alina menatap Arron dengan tatapan bingungnya. Hari ini, tiba-tiba saja tuan muda pertama itu mengajaknya keluar, dan kini dia juga menanyakan tempat yang ingin Alina tuju. Apa maksudnya itu? Membuat Alina bingung dengan semuanya.


“Tuan, bukankah kau akan pergi bekerja hari ini? Tapi kenapa mengajakku pergi juga?” tanya Alina. Ya, sebelumnya Ia mendengar jika Arron akan pergi bekerja ketika pria itu tengah menelpon pada saat di mansion tadi.


“Aku libur hari ini,” jawab Arron sembari focus mengemudikan mobilnya.


“Libur?”


“Tidak usah banyak bertanya. Sekarang katakan, kemana kau ingin pergi?”


Berkata pada nona Daisy akan pergi bekerja, tapi malah mengajakku keluar. Jika seseorang mengetahuinya, aku menjadi tidak enak hati.


“Alina, pergi denganku adalah salah satu tugasmu. Jangan terlalu banyak berpikir,” ucap Arron seolah mengetahui semua isi pikiran Alina. “Sekarang katakan, kemana kau ingin pergi?”


“Aku menghabiskan waktuku di kediaman, selain sekolah, aku tidak tahu tempat apapun,” ucap Alina segan.


Arron membelokan kemudinya kea rah kanan. Memikirkan ucapan Alina membuatnya sangat merasa kasihan dengan gadis cantik itu. Selama delapan belas tahun usianya, dia bahkan tidak pernah merasakan keramaian dunia luar.


“Apa kau pernah pergi ke bioskop?”


“Saat sekolah dulu, aku harus pulang tepat waktu. Aku selalu menolak ketika teman-temanku mengajak untuk pergi. Aku belum pernah pergi ke sana.”


Kini Arron tahu kemana tujuan mereka. Lantas dia langsung menyalakan monitor kecil di dalam mobilnya untuk meminta arah tujuan menuju bioskop terdekat. Tidak selang beberapa menit pria itu memarkirkan mobilnya pada basement sebuah gedung bioskop.


Mereka berdua berjalan memasuki gedung tersebut dengan Alina yang berjalan di belakang Arron mengikuti langkah kaki pria itu. Arron berbalik dan menggerakan jemari telunjuknya, memberi tanda supaya Alina datang mendekat.


“Berjalan di sisiku,” ucapnya.


Dan Alina mengangguk mengiyakan.


Tidak begitu banyak orang di gedung itu karena mungkin hari ini bukanlah weekand. Arron dan Alina sudah mendapatkan dua tiket film horror terbaru yang baru saja tayang beberapa hari ini. Mereka sengaja memilih film tersebut karena keduanya merasa tidak akan nyaman jika menonton film romantis. Mengingat mereka bukanlah pasangan.


“Kau ingin popcorn?”

__ADS_1


Alina menoleh ke arah tempat popcorn berada. Belum sempat dia menjawab Arron sudah menyela, “Pegang ini, aku akan membelikannya.” Dia menyerahkan dua tiket yang baru saja dibelinya pada Alina.


Gadis cantik itu menatap dua tiket yang tengah dipegangnya. Di menatap Arron, tapi dengan cepat dia menundukan wajahnya kembali. Pikiran Alina melayang memikirkan kegiatan yang dilakukannya bersama Arron hari ini. Bukankah ini sebuah kencan? Pergi ke bioskop bersama untuk menonton film?


Ah kencan? Haha Alina, kau terlalu berpikir berlebihan.


Tidak lama Arron berjalan kembali menujunya dengan membawa satu big popcorn. Dia memberikannya kepada Alina dan mengambil alih tiket yang tengah digenggam gadi itu. Kemudian, keduanya berjalan menuju ruangan bioskop dan menonton film.


Alina dan Arron duduk di kursi paling belakang. Ruangan dengan pencahayaan yang minim itu hanya terdapat beberapa orang di dalamnya. Di tambah dengan film horror yang mereka tonton, suasana semakin terasa hening dan menakutkan.


Alina menelan salivanya susah payah padahal film baru saja dimulai. Ingat jika gadis itu memiliki nyali yang sangat kecil, dia seorang penakut. Adegan pertama sudah membuat Alina panas dingin, tanpa sadar dia mengenggam pergelangan tangan Arron dengan sangat kencang.


Arron mengalihkan pandangannya menatap Alina ketika gadis itu menggenggam lengannya. “Alina,” panggilnya dan gadis itu menoleh. Arron mengarahkan genggaman Alina dengan matanya, seketika Alina langsung melepaskan genggamannya.


“Maafkan aku, Tuan.”


“Lanjutkan menontonya.”


“Baik.”


Pandangan Alina membulat ketika adegan di depan matanya tengah memperlihatkan sepasang kekasih tengah beradegan ranjang. Apa mereka tidak salah memesan tiket film? Genre horror saja masih bisa-bisanya bercampur adegan seperti ini.


Alina menatap. Ciuman? Kenapa dia menanyakan hal itu, membuat Alina salah tingkah saja.


“Ah i-iya, Tuan.”


Bibir tipis di hadapannya membuat Arron hilang kendali. Dia tiba-tiba saja menarik tengkuk leher Alina dan mencium bibir gadis cantik itu, memainkan bibirnya dengan lembut. Alina sendiri tertegun dan tidak melakukan tindakan apa apa. Semuanya terjadi sangat tiba-tiba.


“Kau sangat manis,” ucap Arron setelah melepaskan ciuman mereka.


**


Tepat pukul empat sore Alina kembali ke kediaman Washington. Arron memintanya untuk beristirahat dan kembali bekerja pada saat makan malam. Dengan kembali ke dalam pavillium dengan perasaan tidak karuan. Alina membuka sebuah laci yang berada di dalam kamarnya dan mengambil sebuah dokument untuk dibaca.


Yang tengah dibacanya tak lain adalah perjanjian kontrak kerja dengan Arron. Gadis cantik itu membacanya satu-persatu peraturan yang tertera di sana. Tapi hal yang dicarinya tidak dia dapatkan. Apakah selain melayani kebutuhan kesehariannya, Alina juga harus melakukan hal yang lain?


“Tidak ada,” gumamnya rendah.

__ADS_1


“Apa yang tidak ada?” tanya ibu Alina yang baru saja masuk ke dalam kamar.


Alina refleks menatap ke arahnya. “Ah~ Ibu, kenapa kau sudah kembali?”


“Aku kembali untuk menyimpan beberapa pakaianmu. Dan gaun ini, apakah ini milikmu?” Dia memperlihatkan sebuah gaun yang sebelumnya Alina pakai ketika makan malam bersama Vano.


“Ya, itu Vano yang memberikannya.”


“Ibu akan menyimpan ini dan kembali bekerja.”


“Baik, Bu.”


Setelah pintu tertutup kembali, Alina lanjut membaca perjanjian itu, dia benar dan tidak melewatkan satupun peraturan. Lalu, apa maksudnya ciuman itu. Apakah Arron sedang khilaf karena film yang mereka tonton atau pria itu menyukai Alina.


“Menyukaiku?” Gadis cantik itu terkekeh geli. “Siapa yang akan menyukaiku?” Bermonolog sendiri.


Dia menyangkal tapi sembuat merah pada wajahnya muncul tidak diharapkan. Bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi?


__


Waktu makan malam tiba, dan Alina sudah kembali untuk pekerjaanya. Suasana makan malam berbeda karena tidak ada Vano dan Alson yang sibuk bekerja dan belum kembali. Di meja makan hanya ada Arron dan Nyonya besar Monika saja.


Setelah selesai makan malam, Alina mengikuti Arron ke ruang bacanya. Arron sedang mengerjakan beberapa pekerjaan di meja. Arron tampak berbeda dari sebelumnya. Kini dia tidak banyak bicara kecuali meminta hal yang dibutuhkannya pada Alina.


Alina menghela napasnya. Ciuman itu benar-benar kesalahan. Alina tidak pantas berpikir jika tuan mudanya itu menyukainya. Lagipula, itu akan menganggu pekerjaannya. Dia akan dianggap tidak perfesional.


“Alina.”


“Ya, Tuan?”


“Bagaimana kau melakukannya?”


Alina bingung. “Melakukan?”


Arron menyadari jika dia merasa nyaman dengan kehadian gadis itu, dia selalu ingin bersamanya. Sebelumnya Arron tidak pernah merasakan ini. Dan bagaimana bisa Alina melakukannya, membolak-balikan perasaanya.


“Mendekatlah,” perintah Arron.

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa like dan koment untuk menyemangati Author ya ....


__ADS_2