
Alina duduk sembari terus menundukan kepalanya. Kini dia berada di meja makan bersama Arron untuk makan siang. Bukannya makan, tapi Alina hanya terus menatap makanan di atas piringnya dengan intens. Satu porsi spaghety dengan keju untuk makan siang. Padahal biasanya dia makan siang hanya dengan roti isi dan secangkir coffe.
Di sisi lain, Alina masih merasa sangat gugup karena kejadian tadi pagi. Di mana dia yang tiba-tiba memeluk Arron tanpa sengaja. Kejadian itu membuat Alina canggung, dan merasa tidak nyaman. Gadis cantik itu sampai tidak bisa mengangkat wajahnya sendiri meskipun hanya sekedar menatap wajah Arron sebentar saja.
Alina menggigit bibir bagian bawahnya. Wajahnya akan memerah seperti tomat ketika mengingat kejadian tadi pagi kembali.
Tadi pagi. Karena terlalu merasa senang atas keberhasilannya, Alina tidak sengaja memeluk Arron. Ketika dia sadar, dan hendak melepaskan pelukannya, Arron tiba-tiba menahan tubuhnya, sehingga membuat pelukan mereka berlangsung beberapa menit.
“Biarkan seperti ini sebentar saja,” ucap Arron seraya memeluk tubuh Alina erat.
Alina tertegun, dan tidak bisa berbuat apapun. Pikirannya mendadak kosong ketika Arron memeluknya seperti itu. Kenapa juga Arron ingin memeluknya? Ada apa dengan tuan mudanya itu?
“Makanlah, itu tidak akan membuat berat badanmu bertambah,” kata Arron yang seketika membuat lamunan Alina buyar, dan refleks menatap ke arahnya. “Makanan itu sudah diatur dengan kalori yang cukup untuk tubuhmu.”
Alina terdiam sejenak. Kenapa dia merasa jika Arron sangat mengetahui jika dia tengah mengatur dietnya. Tapi, jika memang itu benar, lalu apa untungnya bagi Arron? Mungkin saja Arron hanya iseng melakukan itu. Ya, tentu saja. Alina berpikiran berlebihan dengan menganggap tuan mudanya itu begitu memperhatikannya.
Siapa yang akan menolak memakan makanan enak itu? Alina bahkan sudah tidak sabar untuk memakannya. Tapi, dia memikirkan bagaiman ananti jika dirinya kembali bekerja. Maka perutnya akan membuncit ketika memakai rok slim fit. Dia sangat stress.
Tapi, setelah mendengar ucapan Arron, Alina jadi sedikit legi dan bisa memakan makanan enak itu dengan tenang. Tapi … makan bersama Arron, mendadak membuat nafsu makannya hilang.
“Cepat selesaikan makanmu, kau masih memiliki pekerjaan hari ini,” ucap Arron yang kemudian beranjak pergi dari sana.
Alina menatap Arron yang berlalu pergi. Kenapa kini dia merasa jika tuan mudanya itu sangat pengertian? Mungkin dia tahu Alina tidak bisa makan bersamanya, maka dari itu dia pergi terlebih dahulu. Semua permikiran itu membuat Alina tersenyum tipis.
Alina! Kau berlebihan! Bagaimana mungkin tuan muda Ron memperdulikanmu? Mungkin saja dia hanya tidak suka melihatmu makan, dan dia memutuskan untuk pergi. Ya, pasti seperti itu. Dia tidak akan mungkin … menyukaiku, bukan? Tida-tidak! Aaaah Alina! Jangan terbang terlalu tinggi.
Alina menggelengkan kepalanya dengan cepat. Kini wajahnya sudah dipenuhi oleh semburat merah. Senyum manis di bibirnya juga tidak hilang. Mungkin sebentar lagi dia akan gila, karena merasa tuan muda Arron yang begitu memperdulikannya.
***
__ADS_1
Kini, Alina berada di sisi kolam renang. Dia berdiri mematung, dengan pandangan yang terus menatap intens ke arah Arron yang tengah berenang di dalam kolam. Sesaat, Alina melihat pakaian renang khusus wanita di atas meja. Tuan mudanya itu meminta Alina untuk berenang bersamanya.
Tapi, aku … tidak ingin berenang.
Alina tertegun. Tidak bisakah dia membuat alasan untuk menolak Arron? Tidak masalah jika hanya berenang. Karena yang menjadi masalahnya adalah, dia harus berenang bersama Arron. Itu tidak bisa! Alina tidak bisa!
“Kau belum mengganti pakaianmu?” teriak Arron.
“Aku, aku akan menggantinya,” jawab Alina gugup. Gadis cantik itu meraih baju renang yang telah disediakan oleh Arron lalu berlari ke dalam villa.
Dia berada di dalam kamarnya, dan hendak ganti pakaian. Alina menatap pakaian renang yang Arron siapkan. Setidaknya itu lebih pantas daripada pakaian renang yang Vano berikan padanya hari itu. Arron bena-benar memberikannya pakaian renang, bukan bikini.
Beberapa menit berlalu, Alina sudah berada di sisi kolam renang lengkap dengan pakaian renang. Tapi, dia tidak langsung pergi ke air, Alina malah diam mematung di sisi kolam renang.
“Kemarilah.” Arron menggerakan jemarinya.
“Turun,” perintah Arron.
“Aku tidak bisa berenang …,” dalih Alina agar Arron tidak memaksanya untuk berenang bersama.
“Masuk ke dalam air, aku akan mengajarimu cara berenang.”
Alina tidak bisa menolaknya, karena sebelumnya Arron mengatakan jika ini adalah bagian dari pekerjaannya. Jadi, dia haru menuruti permintaan Arron, dan segera masuk ke dalam kolam renang.
“Sebagai asistent pribadiku, kau harus menguasai beberapa bidang olahraga.”
Dia bisa saja menyewa pelatih renang untuk mengajariku, tidak perlu susah payah seperti ini. Gerutu Alina dalam hati.
Arron berdiri tepat di hadapannya. Dia memegang kedua tangan Alina, dan akan segera mengajari pelayan kecilnya berenang. Namun, seketika Alina menarik lengannya kembali, dan menolak sentuhan Arron.
__ADS_1
“T-tuan muda, ini tidak benar,” kata Alina gugup.
“Apa yang menurutmu tidak benar?”
Alina menelan salivanya susah payah. “Aku-aku … kau tidak bisa seperti ini.”
Arron menatapnya tajam.
“Kau tidak perlu mengajariku dengan tanganmu sendiri, itu terlalu merepotkanmu.”
“Tidak masalah.”
“Tuan muda. Aku bisa belajar sendiri.” Alina berbalik, berjalan ke sisi kolam renang lainnya.
Alina merasa jika semua ini tidak benar. Arron berulang kali mengajarinya ini dan itu. Alina hanya seorang pelayan kecil, dia tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari Arron. Terlebih lagi, jika hal ini terus berlanjut, Alina akan terbiasa dan mungkin akan mencintai Arron.
Lebih baik tidak pernah memulai, dari pada harus berakhir dengan menyakitkan.
Arron sendiri tidak mengerti dengan perasaanya. Awalnya, Arron hanya tidak menyukai jika hal-hal miliknya disentuh atau dimiliki oleh orang lain. Itu sudah menjadi sikapnya sejak dulu. Tapi untuk Alina, seharusnya memperingati gadis itu untuk tidak berhubungan dengan Vano sudah cukup. Tapi, Arron malah merasa dia ingin terus berada di dekat gadis cantik itu.
Meskipun berada di dalam kolam renang yang sama, tapi jarak mereka begitu jauh. Arron tidak bisa mengajari Alina, dan dia memutuskan untuk segera pergi dari sana.
“Selesaikan latihanmu, aku akan memberikanmu test nanti,” kata Arron seraya berjalan menjauh dari sana.
Alina merasa tidak enak hati karena sudah menolaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Menurutnya, sikap Arron kepadanya sudah terlalu baik sampai berlebihan. Alina tidak akan bisa membalas kebaikannya sampai kapanpun.
Alina! Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi sedih karena sudah menolaknya? Kau melakukan hal yang benar, kau tidak boleh merasa bersalah. Semangat Alina!
Alina melupakan kesedihannya, dan berencana untuk melanjutkan berlatih berenang.
__ADS_1