
Acara tengah berlangsung. Para tamu melihat ke arah depan, di mana Arron bersama seorang wanita cantik tengah bersanding bersama. Mereka terlihat sangat cocok, tidak sedikit dari para tamu yang memuji mereka.
Semua orang mengangkat gelasnya lalu berkata Cheers. Para tamu bersenang-senang dan menikmati pesta. Live musik dan juga pesta dansa. Pesta malam ini diadakan dengan sangat meriah.
Alina tengah menata gelas berisikan redwine dan juga jus jeruk. Samar dia mendengar seorang wanita yang tengah berbincang dengan suara yang sedikit dia kenal.
“Lihatlah gaunku, ini adalah keluaran terbaru Channel.”
Alina menoleh, melihat wanita yang dengan sombongnya memamerkan gaun yang dipakainya pada tamu lain. Seketika pula Alina terkekeh kecil, karena wanita tersebut tak lain adalah wanita yang beberapa menit lalu dia antar ke tempat ganti pakaian.
Mereka memang bersenang-senang.
Di sudut lain, beberapa gadis berkumpul untuk berlomba-lomba berbincang dengan Tuan muda kediaman WS. Seperti Willson, Allson, dan juga Vano. Mereka tidak pernah terlihat sendiri, selalu ada gadis yang mengekori.
“Kau, ambilkan satu gelas jus untukku.” Terdengar suara seseorang memerintah.
Alina menoleh untuk melihat ke arah sumber suara. Ternyata dia adalah seorang wanita cantik terkenal. Ibunda dari putri cantik malam ini. Hanna. Dia adalah ibu dari Daisy.
Hanna meminta Alina untuk mengambilkannya satu gelas jus. Sesuai permintaan, Alina langsung memberikannya.
“Terima kasih,” ucapnya lalu berlalu pergi dari sana.
Dia sangat ramah ....
****
Malam ini waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari. Sementara Alina masih sibuk membantu para pelayan bekerja di dapur. Sesekali dia juga pergi ke aula mansion untuk membantu di sana.
Meskipun Alina adalah pelayan pribadi Arron, dan hanya diharuskan melayani Arron saja. Namun malam ini sepertinya Arron sedang tidak membutuhkannya. Maka dari itu Alina pergi untuk membantu pelayan lainnya bekerja.
Selepas pesta, kini mansion terlihat sangat sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang tengah bersih-bersih. Mereka bekerja seperti orang yang dikejar jam tayang. Malam ini pesta diadakan dengan sangat meriah, dan besok pagi mansion harus tertata rapih seperti semula.
Malam yang sangat sibuk bagi seluruh pelayan di kediaman Washington. Tidak mungkin Alina hanya berdiam diri atau tidur nyenyak di dalam kamar. Dia tidak bisa.
“Simpan itu, dan pergi beristirahat. Besok kau harus bekerja untuk melayani tuan muda Ron,” ucap Rose pada putri semata wayangnya.
“Ah~ Ibu, biarkan aku membereskan ini. Setelah itu, baru kita sama-sama kembali ke paviliun belakang.” Alina tidak menuruti perkataan Rose, gadis itu malah terus merapikan aula.
“Kau akan lelah nanti, dan wajahmu akan terlihat tidak enak. Cepat pulang,” perintah Rose yang mau tidak mau harus Alina turuti.
“Lagi pula aku bekerja sebagai pelayan, bukan model atau aktris film. Kenapa aku harus menjaga wajahku agar tetap terlihat cantik?” gerutu Alina yang seketika mendapat hadiah pukulan ringan pada bahunya dari Rose.
__ADS_1
“Meskipun kau hanyalah pelayan, tapi kau juga adalah seorang gadis. Kau harus tetap berpenampilan cantik. Dan juga, pelayan tuan muda Ron harus memiliki karisma yang menonjol.”
Alina mencebik kesal. “Kalimat ibu itu tidak bisa aku cerna dengan baik.”
“Dasar gadis bodoh, cepat pulang dan tidur.”
“Ibu ...,” rengek Alina.
“Cepat pergi!”
Wajah gadis cantik itu mencebik kesal, sebelum akhirnya dia beranjak pergi dari sana. Padahal Alina ingin sekali membantu pekerjaan ibunya, tapi kehadirannya malah tidak diharapkan.
Sepatu pentofel itu menghentak lantai, menimbulkan suara khas di keheningan malam. Alina berjalan menyusuri taman yang sunyi, dan dengan penerangan yang minim. Angin malam yang menerpa tubuhnya yang seketika membuatnya meremang hebat.
Suasana mencekam seperti film horor. Sepertinya gadis cantik itu tidak mampu lagi melanjutkan langkahnya. Dia berbalik, dan damn! Seseorang berada tepat di belakangnya.
Alina menyentuh dadanya karena terkejut. Napasnya terengah dengan mata yang membulat. Namun dengan santainya, orang tersebut malah tersenyum ke arahnya.
“Kau terkejut, bukan? Aku tahu kau ini adalah seorang penakut.”
Alina tertegun, menatap orang tersebut dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Siapa kau?” tanya Alina yang tampak tertegun ketika melihat seseorang yang berdiri di hadapanya.
“Ya, ini aku.”
“Kau seorang pengawal?” tanya Alina.
“Seharusnya kau tidak mengenaliku, maka aku bisa berpura-pura untuk menjadi tamu lalu merepotkanmu.”
“Hei, tamu apa? Semua tamu sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu.”
Pria tampan tersebut hanya terkekeh pelan menanggapi itu.
“Sedang apa kau berada di sini?” tanya Alina.
“Aku sudah satu minggu ini bekerja sebagai pengawal Tuan muda Ron.”
“Aku tidak bertanya,” gumam Alina mencebik sebal.
“Perkenalkan namaku Jino.” Dia mengulurkan sebelah telapak tangannya. Namun, gadis di hadapanya itu hanya diam tidak menanggapi. Dia tersenyum. “Kau adalah Alina?”
Alina menatapnya dengan tatapan sinis. Dia mengetahui segalanya. “Pergilah, aku akan pulang,” ucap Alina meninggikan nada suaranya. Gadis ini terlihat sangat galak.
__ADS_1
Bukannya pergi, Jino malah terkekeh melihat tingkah Alina yang so galak itu. “Kau gadis yang cantik dan lucu.”
Alina mendengkus kesal. Ternyata sikap pura-pura galaknya tidak ampuh untuk mengusir pria di hadapannya itu.
Alina harus mengubah sikapnya seratus delapan puluh derajat. Dia tersenyum manis, mengulurkan sebelah telapak tangannya untuk menepuk lengan atas Jino. “Pulang, dan beristirahatlah,” katanya, sangat mirip seperti Rose ketika membujuk Alina.
Jino tertegun, menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana pun dia adalah seorang pria dewasa sekarang, dan disentuh oleh seorang gadis seperti itu membuatnya merasa aneh.
Jino memalingkan wajahnya ke samping, dan berdeham samar. “Apa kau sangat menyukainya?”
Seketika Alina menarik kembali lengannya. Dia menggigit bibir bagian bawahnya dan menatap Jino dengan wajah merah padam.
“Ah~ Apa aku membuatmu tidak nyaman?” tanya Alina dengan senyuman kaku.
Jino menoleh lalu tersenyum nakal. “Jika kau menyukainya, kau boleh terus menyentuhnya.”
Alina mendesis kesal lalu menghadiahkan satu pukulan ringan pada bahu Jino. “Menyebalkan!”
Jino meringis perih mendapati itu.
“Bukankah kau tinggal di paviliun mawar? Aku akan mengantarmu ke sana.”
“Tidak,” tolak Alina. “Aku tidak mengenalmu.”
“Apa kau takut?” Jino terkekeh. “Setiap sudut halaman mansion dipenuhi dengan CCTV. Bahkan jika aku berani menyentuhmu, jika aku tidak masuk penjara, mungkin aku akan mati. Aku tidak akan menyia-nyiakan hidupku.”
Alina memutar bola matanya jengah. “Baiklah.”
Mereka berjalan beriringan. Seperti sudah menjadi ciri khas Alina, dia akan memetik satu daun untuk menyobek-nyobeknya.
“Bagaimana denganmu? Kau tinggal di mana?” tanya Alina.
“Paviliun hijau, di dekat danau.”
“Ah tentu, aku tahu. Karena semua pria tinggal di sana.” Alina terdiam sebentar.;“Aku sering datang untuk melihat danau, tapi kenapa tidak pernah melihatmu?” tanya Alina heran.
“Aku sering melihatmu.”
“Benarkah?” Alina menghentikan langkahnya dan berpaling menatap Jino.
“Ya, tapi kau selalu bersama seorang pria.”
__ADS_1
****
Haaaai Jangan lupa like, komen jugaaa yaaaa.