Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 58


__ADS_3

*Happy **Reading ….*


Jemarinya saling bertaun satu sama lain, keringat dingin mulai membasahi dahi gadis cantik itu. Alina menelan salivanya susah payah ketika melihat Arron yang hanya mengenakan bathrobe di hadapannya. Pria itu baru saja selesai mandi.


Arron mengambil paperbag di atas ranjang, dengan pandangan yang menatap intens gadis cantik yang terus menunduk di hadapannya. Melihat wajah memerah Alina, membuat Arron seketika ingin tertawa. Namun dia menahannya karena takut menakuti Alina.


“Aku akan memakai baju, kau pergilah menonton tv,” ucap Arron.


Alina mengangguk. “Baiklah.” Kemudian berjalan dengan cepat menuju sofa dan menyalakan televisi.


Dia gugup setengah mati ketika berhadapan dengan Arron. Terlebih lagi kini mereka berada di sebuah kamar hotel dan berdua saja. Ini semua terjadi karena pelayan restaurant tidak bekerja dengan benar. Pelayan itu menumpahkan semangkuk sup pada tubuh Arron, membuat pria tampan itu harus berganti pakaian sesegera mungkin.


Padahal Alina mengajak Arron untuk pulang ke mansion atau pergi ke rumah sakit dan mengobati lukanya. Namun pria itu menolak dan malah mengajaknya ke hotel terdekat dengan alasan jika diluar hujan lebat dan jalanan pasti macet.


Apa yang harus aku lakukan ….


“Alina,” panggil Arron, dan gadis cantik itu langsung menoleh ke arahnya.


Alina langsung terdiam dan mematung ketika melihat Arron yang datang tanpa mengenakan pakaian. Pria itu hanya mengenakan celana, membiarkan dada bidangnya terbuka begitu dan memperlihatkan otot-otot perutnya yang sispax.


Dia duduk di samping Alina, menyimpan kotak P3K yang dibawanya ke atas meja. “Bantu aku mengoleskan obat,” ucapnya.


Perut sispaxnya sedikit memerah akibat kuah sup yang tidak sengaja mengenainya. Itu harus segera diobati atau lukanya akan bertambah parah. Sementara Alina hanya diam dan tidak melakukan apapun. Gadis cantik itu bahkan tidak berkedip sama sekali.


“Apa kau belum puas melihatnya.” Arron menepuk pelan pipi Alina, seketika membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


“Aku akan mengobatinya.”


Alina mengambil sebuah katembat dan obat lalu mengoleskannya pada luka Arron. Namun tiba-tiba Arron memegang pergelangan tangan Alina dan menghentikan aktivitas gadis cantik itu.


“Ada apa?” tanya Alina bingung.


Arron mengambil katembat yang pegang Alina, menyimpanya ke atas meja. “Gunakan jarimu,” ucapnya membuat Alina tertegun.


“T-tapi itu tidak benar ….”


“Tidak masalah, lakukanlah.”


 


 


“Baiklah ….”

__ADS_1


Sesuai permintaan Arron, Alina mengoleskan obat pada perut sispax pria itu menggunakan jemarinya. Kini Alina dapat menyentuh dan merasakan langsung perut berlekuk milik kekasihnya yang selama ini hanya sebatas dia pandang dari jauh.


“Apa ini sakit?” tanya Alina menatap wajah Arron.


“Tidak,” jawab Arron menggeleng pelan.


Alina mengelap jemarinya menggunakan tissue setelah selesai mengoleskan obat pada Arron. Lalu dia menyibukan diri dengan membereskan kotak P3K. Arron memperhatikannya, memperhatikan wajah gugup Alina.


“Bersihkan dirimu, lalu ganti pakaianmu. Aku sudah menyiapkannya.”


“Mandi?” Alina menatap Arron bingung. “Kita tidak kembali ke mansion?”


“Hujan lebat di luar, tunggu beberapa saat sampai hujannya reda.”


Alina mengangguk mengerti. “Aku akan mandi ketika kembali saja.”


Arron mendekatkan tubuhnya pada Alina, sehingga gadis cantik itu terhimpit di antara tubuh Arron dan senderan sofa. Arron menyeringai dan menatapnya tajam, membuat jantung Alina semakin berdegup dengan sangat cepat.


“A-aku akan pergi mandi,” ucap Alina gugup.


Arron terkekeh, menarik tubuhnya kembali. “Pergilah. Aku tidak akan ikut.”


“Hah?” pekik Alina, menatap Arron dengan wajah bingung.


Alina segera beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan cepat memasuki kamar mandi. Dia takut jika tidak segera pergi, Arron akan semakin senang untuk mengerjainya.


Aaaaaah! Aku sangat gugup! Bagaimana aku akan mandi sementara dia berada di luar? Pikir Alina berkecamuk.


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, dan terdengar suara Arron yang mengatakan, “Mandilah air hangat dan jangan menghabiskan waktu terlalu lama. Cuaca sangat dingin, kau bisa flu nanti.”


“Baik,” jawab Alina cepat.


Mengagetkanku saja!


Tanpa berpikiran yang macam-macam lagi, Alina langsung membuka bajunya dan mandi di bawah guyuran air shower. Dengan cepat dia menyelesaikan acara mandinya atau Arron akan datang dan mengetuk pintu kamar mandi kembali.


Setelah memakai handuk, Alina mengambil paperbag yang berada di atas meja wastafel. Mengambil pakaian yang disediakan Arron lalu mengenakannya.


“Ah~ Baju tidur ini sangat pas.”


Setelah selesai mengenakan pakaian, Alina segera keluar kamar mandi dan berjalan menghampiri Arron yang sedang duduk di atas sofa. Pria itu sudah mengenakan pakaiannya sekarang. Tidak bertelanjang dada seperti sebelumnya.


Saat melihat Arron, Alina baru sadar jika baju tidur yang dikenakannya sama persis dengan baju tidur yang dikenakan Arron. Hanya memiliki perbedaan ukuran saja.

__ADS_1


Baju tidur couple? Pikir Alina.


“Duduk dan minum coffe,” ucap Arron seraya menarik lengan Alina agar duduk di sampingnya.


“Terimakasih.”


Arron menyentuh lembut dagu Alina, perlahan mengarahkannya sampai pandangan mereka bertemu satu sama lain. “Beri aku ciuman.”


Alina mengeratkan pegangannya pada gelas berisikan coffe miliknya. Perlahan Alina memejamkan mata, mendekatkan wajahnya dan meraih bibir pria tampan di hadapannya. Bibir mereka saling bertaut satu sama lain dan bertukar saliva.


Ciuman mereka semakin dalam. Arron mengambil alih cangkir coffe yang dipegang Alina lalu menyimpannya ke atas meja. Kemudian, perlahan Arron mendorong tubuh Alina ke belakang. Membaringkan tubuhnya di atas sofa.


Jemari Arron mulai membuka satu persatu kancing baju Alina. Namun Alina langsung membuka matanya dan menghentikan tindakan Arron. Seketika itu ciuman mereka terlepas, Arron menarik dirinya untuk mendapat jarak pandang dengan gadis itu.


“Aku belum siap ….”


Arron beranjak duduk, meraih cangkir coffe kemudian menyesapnya. “Aku mengerti.”


“Apa kau marah?”


Arron menatapnya, mengusap ujung bibir Alina dengan lembut. “Tentu saja tidak. Aku mencintaimu, aku akan menunggumu.”


Aline tersenyum tipis. Mendekatkan tubuhnya lalu menguar ke dalam pelukan Arron. Dan Arron membalas pelukan itu dengan sangat hangat.


“Pergilah tidur di kamarmu.” Arron mengedikan dagunya ke arah pintu lain yang masih berada di dalam kamarnya. Dia telah menduga jika Alina akan menolak tindakannya. Jadi Arron sengaja memesan connecting room.


Alina melepaskan pelukannya pada tubuh Arron. “Tidur?”


Arron mengangkat sebelah halisnya. “Apa kau ingin melanjutkan hal tadi?” tanya Arron nyeleneh.


“Tidak.” Dia menggeleng cepat. “Apa kita tidak akan kembali?”


“Kita akan kembali besok pagi.” Arron mengusap puncuk kepala gadis cantik itu. “Pergilah tidur.”


“Tidur sendiri?” tanya Alina. Tapi aku tidak terbiasa, aku selalu tidur bersama ibuku.


“Kau ingin aku menemanimu? Jika ya, mungkin aku tidak akan bisa menahannya lagi,” ungkap Arron membuat Alina tertegun.


Alina bergeming di tempatnya, dia ragu untuk pergi tidur sendiri di dalam kamar. Dia bergelut dengan pikirannya mengenai hal-hal menakutkan yang mungkin terjadi di dalam kamar ketika sendirian. Arron yang melihat Alina menjadi tidak sabaran, secepat kilat dia meraih tubuh ramping Alina dan membawanya ke dalam gendongan.


“Apa yang kau lakukan?”


“Membawamu ke tempat tidur.”

__ADS_1


To be contiuned ....


__ADS_2