Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 37


__ADS_3

Yeaay, I’m back.


Happy Reading ….


Sejak kejadian liburan hari itu, hubungan Alina dan Arron kembali seperti sebelumnya. Hubungan mereka hanya sebatas asisten pribadi dan majikan, tidak lebih dari itu. Bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya, lebih kaku, dan lebih canggung.


Sudah dua minggu berlalu sejak kepulangan keduanya dari liburan. Alina merasa jika selama dua minggu itu Arron seperti menghindar darinya. Dia memanggil Alina jika dia membutuhkannya saja. Sangat aneh, dan tidak seperti biasanya. Sekarang, Arron juga tidak melarang hubungannya dengan Vano.


Alina merasa jika kini dirinya seperti burung yang bebas terbang tinggi, tapi tidak memiliki tujuan tertentu. Hubungannya dengan Vano juga hanya sebatas main-main saja.


Hei, apa aku menyesal karena telah menolak bos hari itu? Kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Bos … apa yang telah kau lakukan kepadaku?


Kini, gadis cantik itu berada di kursi taman. Duduk sendiri, dan hanya ditemani oleh satu potong roti isi dan hot coffe. Bahkan Jino pun sudah lama tidak terlihat. Alina mendengar kabar jika temannya itu sedang pergi untuk menemui kerabatnya.


Alina membuka bungkusan roti isi miliknya, dan hendak memakan itu. Namun, seketika saja lengannya dicekal oleh seseorang, membuat gerakannya terhenti. Dia langsung mendongakan wajahnya, melihat siapa yang telah menganggu waktu makan siangnya.


“Kau!” Alina langsung melepaskan genggaman Vano. “Menganggu saja!” Lalu, dia langsung memakan roti isi miliknya.


“Sampai kapan kau akan memakan roti itu? Tubuhmu sudah sangat kecil. Kau bahkan tidak memiliki sesuatu yang indah untuk dipandang.”


Alina menelan roti isi miliknya dengan susah payah. Maksud dari perkataan Vano itu benar-benar membuatnya sebal. Tubuh Alina memang tidak indah. Tapi, tidak seharusnya Vano mengatakan hal itu lagi dan lagi. Menyebalkan!


“Hei, kau diam saja? Apa kau tidak marah?” goda Vano seraya menyentuh pipi Alina menggunakan jari telunjuknya.


“Aku tidak memiliki tenaga untuk meladenimu!” ucapnya sebelum akhirnya dia beranjak pergi dari sana, dan meninggalkan Vano seorang diri.


Gadis itu … sebenarnya apa yang telah terjadi kepadanya pada saat liburan di pulau? Tingkahnya tiba-tiba saja berubah menjadi sangat aneh.


Vano menatap Alina sampai bayang-bayang gadis cantik itu hilang termakan jarak. Sikap Alina benar-benar tidak menyenangkan. Kini, tidak ada lagi gadis yang marah ketika diganggu,dan  hanya menyisakan gadis yang cuek dan tidak berekspresi. Gadis yang sama, namun dengan sikap yang berbeda.


__


Alina pergi menuju mansion belakang tempat ibunya bekerja. Sesampainya di sana, dia langsung membantu pekerjaan ibunya. Wanita paruh baya itu menatap Alina dengan kerutan kecil di dahinya. Melihat putrinya dengan penuh selidik.

__ADS_1


“Ada apa denganmu? Apa kau sakit?” tanyanya dengan nada khawatir saat menyadari putrinya yang terlihat lemah.


“Tidak,” jawab Alina singkat.


Alina tidak sakit, tapi entah kenapa hari ini dia sangat tidak bersemangat. Pikirannya terus dipenuhi oleh sikap Arron akhir-akhir ini. Padahal, sikap bosnya itu wajar. Tapi bagi Alina, itu malah membuat hatinya terasa hampa. Tidak ada lagi bos tampan yang membentenginya.


Kini, Arron tidak pernah lagi berbicara banyak padanya. Bosnya itu hanya akan berbicara saat dia membutuhkan Alina saja. Arron juga sudah tidak mengajak Alina ketika dia berenang, itu termasuk hal yang merugikan Alina, karena dia sudah tidak bisa melihat otot-otot perut bosnya.


Astaga … apa yang sedang aku pikirkan?


Entah kenapa, tapi perubahan sikap Arron benar-benar membuat hati Alina merasa hampa. Alina merasa seperti ada yang hilang dari kehidupannya. kenapa bisa seperti ini? Perasaan ini sungguh sangat membingungkan.


“Apa yang tengah kau pikirkan?”


“Bu … apakah kau pernah merasakan hampa di dalam hatimu? Tiba-tiba merasa kehilangan, padahal hal itu selalu berada di dekatmu. Itu terasa sangat jauh, tapi padahal itu ada tepat di hadapanmu.”


Seketika aktivitas wanita paruh baya itu terhenti. Dia menatap wajah putrinya dalam-dalam. “Tentu saja.”


“Ah~ Bu, ceritakan itu padaku,” pintanya yang tiba-tiba saja bersemangat.


Dia mengenggam telapak tangan putrinya erat, lalu berkata,”Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, putriku sudah beranjak dewasa.”


“Ibu, apa maksudmu?”


“Dengar, hidup adalah sebuah pilihan, dan pilihanmu adalah jalan yang harus kau tempuh. Hanya ada satu pilihan dalam seumur hidup. Setelah kau memutuskan untuk memilih, tidak ada jalan untuk kembali atau menyesalinya.”


“Ibu, aku tidak mengerti. Tolong katakan dengan jelas.”


Ibunya tersenyum. “Dasar gadis bodoh.” Dia menunjuk dahi Alina menggunakan jari telunjuknya. “Aku berharap kau tidak salah dalam memilih jalan untuk hidupmu.”


“Bu, bukankah itu keluar jalur dari pertanyaanku?” tanya Alina heran.


“Kau sedang jatuh cinta? Siapa pria yang beruntung bisa mendapatkan cinta putriku? Apakah itu Jino?”

__ADS_1


“Bu ….” Alina merengek. Kenapa ibunya itu bisa menyimpulkan jika Alina tengah jatuh cinta.


“Saat aku bersama ayahmu dulu. Ketika kami sedang bertengkar, hati dan perasaan terasa begitu hampa. Sikapnya yang berubah ketika sedang marah, benar-benar membuat hatiku sangat hampa. Dia berada tepat di depanku, namun aku tidak dapat merasakannya.”


O Lord! Alina menelan ludahnya dengan susah payah setelah mendengar beberapa kalimat yang diucapkan oleh ibunya. Maksud Alina bukan perasaan seperti itu. Lagipula, tidak mungkin dia jatuh cinta kepada Arron, bukan? Ckck, tidak mungkin!


Tunggu … apakah aku telah jatuh cinta kepada bosku sendiri? Alina, ada apa denganmu? Batin Alina. Ingin rasanya dia menjerit dengan histeris.


Seketika dia langsung melepaskan genggaman tangan ibunya, lalu beranjak berdiri dari sana. “Bu, waktu istirahatku sudah berakhir, aku harus segera kembali untuk bekerja,” ucapnya kemudian berbalik dan segera pergi dari sana.


Gadis itu ….


**


Waktu sudah menunjukan pukul enam lebih empat puluh lima menit. Itu artinya beberapa menit lagi Arron sampai di kediaman. Alina akan bertemu dengannya, mendadak jantungnya berdegup sangat kencang. Terlebih lagi, ucapan ibunya terus saja terngiang di dalam pikirannya.


Alina berdiri bersama para penjaga di depan pintu masuk mansion. Tapi, tiba-tiba saja ada yang melemparinya kulit kacang, membuat gadis cantik itu seketika menoleh. Vano! Lagi-lagi dia menganggu Alina yang sedang bekerja. Apa pria itu tidak memiliki hal lain untuk dilakukan? Menyebalkan sekali!


“Kemarilah,” ucap Vano seraya melambaikan lengannya.


Alina berpaling, pura-pura tidak mendengarkan perintah tuan  muda ke empatnya itu.


“Alina ….” Dia memanggil Alina dengan suara yang sedikit lantang. O Lord!


“Alina, Tuan muda ke empat memanggilmu. Cepat pergi,” bisik pengawal yang berdiri tepat di sisinya.


“Tidak. Tuan muda Ron akan datang sebentar lagi, aku tidak bisa pergi.”


“Tuan muda Ron-mu tidak akan kembali sekarang, dia sedang makan malam bersama model cantik,” ucap Vano tepat di depan telinga Alina.


Astaga … kapan dia berjalan mendekatinya? Bertingkah seperti hantu dan muncul tiba-tiba.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa like dan juga koment yaaa see youuu...


__ADS_2