
Mobil mewah itu terparkir di sebuah gedung mewah dengan dinding kaca. Dimana itu memperlihatkan beberapa pakaian cantik yang pastinya memiliki harga yang fantastis. Alina menatap gedung tersebut dengan intens, sampai dia tidak menyadari jika Vano sudah berada di luar mobil dan tengah berteriak memanggilnya.
Alina langsung keluar dari mobil dan menghampiri Vano. Di sebelahnya, sudah ada seorang pria gemulai dan mengenakan pakaian yang begitu modis. Dia tengah berbincang dengan Vano dan terlihat begitu akrab.
“Ah~ Apakah dia kekasihmu?” serunya seraya menatap kea rah Alina.
“Aku? Kekasihnya? Ti-“ Alina mengangkat kedua telapak tangannya ke depan dada.
“Ya, ubahlah penampilanya denganjemari ajaibmu.” Sambar Vano, memotong kalimat Alina.
“Ah? Apa maksudmu?” tanya Alina heran.
Pria gemulai yang bernama George itu tampak mengerti dengan keadaan saat ini. Dia mengatakan akan menunggu Vano dan Alina di dalam butik, sementara mereka menyelesaikan urusan mereka terlebih dahulu. Dan kini, tinggal Alina dan Vano di sana.
“Menurut dan tidak perlu banyak bertanya, oke?” ucap Vano seraya menarik pergelangan tangan Alina supaya gadis itu mengikutinya masuk ke dalam butik.
“Ah, tidak tidak! Tidak tanpa alasan yang jelas.” Tolak Alina, dia meronta dan melepaskan genggaman erat Vano pada lengannya.
“Alina, ingat. Aku adalah bosmu.”
“Aku tidak peduli. Lagi pula untuk apa mengubah penampilanku? Memangnya ada apa dengan penampilanku saat ini?” dia bertanya sembari mengedikkan dagunya ke depan.
Vano mendesis kesal. Gadis keras kepala! “Kau ini jelek, tidak modis, dan begitu kanpungan.” Lugasnya, membuat gadis cantik di hadapanya membeliak kesal.
“Benarkah?” pekik Alina kesal. “Aku ingin pulang! Dasar menyebalkan, menyebalkan, Vano gila dan menyebalkan!”
Alina berbalik kemudian melangkah mendekati mobil. Gadis cantik itu begitu kesal. Namun langkahnya terhenti karena Vano tiba-tiba menggendong tubuh mungilnya.
“Kau marah? Jika kau marah maka ubahlah penampilanmu.” ucapnya dengan kekehan kecil.
“Aku tidak mau.”
“Aku akan memberikanmu bonus, tenang saja.”
Sekitar satu setengah jam yang lalu semenjak Vano membawa paksa Alina untuk masuk ke dalam butik. Sudah satu setengah jam juga gadis cantik itu melipat wajahnya karena kesal. Namun itu tidak menghalangi beberapa orang pegawai butik untuk mendandaninya.
Vano yang tengah duduk di atas sofa dan menunggunya hampir saja terlelap karena mengantuk.
__ADS_1
“Vano … Dia sudah siap.” Seru George, dan Vano membenarkan posisi duduknya.
Black dress slim fit tanpa lengan yang hanya menutupi pahanya sampai lutut, di padukan dengan high heels berwarna sama menjadi stelan Alina untuk saat ini. Gadis cantik itu terlihat sangat tidak nyaman, terlebih ada belahan pada sisi kanan dress.
Sedikit polesan make up membuatnya sedikit terlihat dewasa. Rambut legam lurusnya sedikit di modifikasi menjadi bergelombang. Kini dia terlihat sangat cantik sepersi seorang selebritis.
Vano tertegun melihat penampilan Alina yang berubah sangat drastic. Matanya yang mengantuk mendadak terbuka lebar kembali. Seharusnya Alina memang berpenampilan seperti itu. Bukan berpenampilan seperti seorang pelayan. Dunia terkadang memang sangat tidak adil.
“Apa? Berkediplah atau matamu akan jatuh nanti.” Gerutu Alina kesal. Dan seketika menyadarkan Vano dari lamunannya.
“Uhh … Benar-benar pasangan yang sangat serasi.”
**
Mereka melanjutkan perjalannya lagi dan menuju suatu tempat. Meski terkadang Vano mendengar Alina mengeluh dengan penampilanya, namun dia tidak menghiraukanya. Karena kini, Alina berubah menjadi gadis yang benar-benar sangat cantik.
“Apakah dia akan menjualku sehingga aku di minta untuk berdandan seperti ini?” gumam Alina dengan nada rendah. Namun Vano masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
Tiba-tiba gelak tawa memenuhi seisi mobil. Ucapan Alina terdengar begitu menggelikan.
Karena Vano tertawa seperti itu, Alina tiba-tiba teringat dengan Arron yang sempat menertawakanya juga. Menyebalkan. Mereka adalah kakak beradik dengan sikap yang sama persis.
“Kemana kau akan membawaku?” tanya Alina, terdengar sedikit kesal.
“Aku akan menjualmu.” Jawab Vano asal di sertai kekehan.
“Sial!”
“Apakah kau bersikap seperti ini juga di hadapan kakakku?”
Alina menatap oria tampan di balik kemudi itu dalam diam. memikirkan jawaban atas pertanyaannya. Tentu saja jawabannya adalah tidak. Karena Alina begitu gugup ketika berada di hadapan Arron. Beredar kabar jika Arron adalah makhluk yang sempurna. Maka dari itu, setiap orang yang berada di sisinya harus memiliki kesempurnaan juga.
Alina menghela napas lelah. Sekuat apapun aku berusaha, aku tetap gagal di matanya. Batin Alina, meratapi nasibnya yang begitu buruk.
“Sepertinya aku sudah mengetahui jawabanya.” Seru Vano ketika melihat raut wajah gadis cantik di sampingnya.
“Kemana kau akan membawaku?” tanya Alina lagi. Kini nada suaranya terdengar melemah.
__ADS_1
“Suatu tempat. Mungkin kau harus bersiap dengan apa yang akan kau lihat nanti.”
Vano membelokan mobilnya dan memasuki area halaman sebuah gedung yang begitu luas. Gedung yang indah, dekorasi yang mewah dan glamor, serta beberapa penjaga dan reporter yang menyambut di sisi red karpet yang tergelar di depan gedung tersebut.
Alina menyadari jika Ia tidak seharusnya berada di sini. Sepertinya ini adalah sebuah pesta mewah yang hanya di hadiri oleh orang-orang kaya. Dan Vano yang gila malah membawanya kesana. Bukankah itu neraka untuk seorang gadis yang tidak mempunyai pengalaman berpesta.
“Kau gila?”
“Aku waras.” Jawab Vano cepat dengan mengedikkan sebelah matanya.
Mereka berdua keluar dari mobil setelah pintu di bukakan oleh dua penjaga di sana. Kedatangan mereka di sambut dengan flash kamera para wartawan. Alina melirik ke arah Vano yang tengah berbicara kepada salah seorang pengawal. Dan di saat itupula aktivitas memotret para reporter itu terhenti.
“Gandeng tanganku.” Bisik Vano, dan Alina mengerti. Dia tidak mau terlihat konyol dan mempermalukan Vano.
Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggandeng. Ketika di luar gedung saja Alina sudah menyalang takjub dengan suasananya. Dan ketika masuk ke dalam gedung, rasanya dia ingin pingsan.
Bukankah itu Sam Luis? Penyanyi terkenal? O Lord! Aku begitu mengidolakannya.
Dia adalah Sabrina Anna, model cantik terkenal dan juga aktris berbakat.
Dia? Itu adalah Brian Hamesh, actor yang membintangi beberapa film action Hollywood.
Alina tertegun melihat pemandangan ini. Apakah ini mimpi? Beberapa artis terkenal yang dia idolakan berada di dalam satu pesta dengannya. Tolonglah, Alina akan pingsan.
“Jika ada yang bertanya, katakan saja jika kau datang bersama denganku.” Pesan Vano sebelum akhirnya dia pergi untuk berbaur dengan tamu lainya.
Vano … Tidak tahukah dia jika Alina merasa begitu gugup.
Pandangan Alina mengedar, melihat setiap sudut gedung tersebut. Kemudian, pandanganya terhentu ketika dia melihat seseorang yang tidak asing baginya.
Astaga! Tuan muda Ron! Dia di sini?
Bersambung ....
Happy Reading yaaa.
Ada yang punya fb? Add fb aku ya POPPY FLOWERS oke. kalo ig aku ada sih, cuma jarang on. why, males guys. see you ya
__ADS_1