Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 51


__ADS_3

Happy Reading ….


Mereka menghabiskan setengah botol minuman beralkhohol, dan Alina sudah tidak mampu menyetabilkan kesadaraanya. Tubuhnya lemas di atas sofa dan Arron hanya menatapnya sambil tersenyum tipis. Pertemuan pertama mereka diawali dengan adegan seperti ini. Arron masih mengingat malam itu.


Arron terkekeh pelan. “Sudah tidur?”


Padahal dengan membuat Alina mabuk, Arron berharap bisa melihat tingkah konyol gadis itu lagi. Tapi sayangnya Alina malah mabuk dan tertidur.


Arron hendak mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar. Namun tiba-tiba saja Alina membuka matanya dan menolak tindakan Arron, dengan cepat gadis itu menyingkirkan lengan Arron menjauh.


“Tuan, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Alina dengan suara serak.


“Aku akan memindahkanmu.”


Alina duduk dengan tegap. Dia menatap Arron dengan wajahnya yang memerah dan mata sayu. “Ke mana?”


“Ke dalam kamar.”


Pandangan Alina mengedar ke arah sekitar. Dia menyadari jika dirinya masih berada di ruang kerja Arron di perusahaan.


“Sudah hampir tengah malam. Kita akan menginap di sini malam ini.”


“Ah~ Baiklah.”


Tanpa sadar Alina mengiyakan ajakan tuan mudanya. Karena mabuk, gadis cantik itu tidak bisa menggunakan kepalanya untuk berpikir. Dia bahkan menerima ketika Arron tiba-tiba mengangkat tubuhnya, membawanya ke dalam kamar satu-satunya di dalam ruang kerja itu.


Arron menggeleng pelan dan tersenyum tipis. “Dia mabuk.”


Jika Alina tidak mabuk, pastinya Arron tidak akan dengan mudah untuk menggendong tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam kamar. Alina akan membuat banyak alasan untuk menolaknya, dan pasti dia akan terus mengoceh.


Di dalam gendongan Arron, dia mengalungkan dua tangannya pada ceruk leher Arron, dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria tampan itu. Dia tersenyum dengan matanya yang terus terpejam.


“Tuan, kau sangat harum.”


Arron terkekeh kecil mendengar itu.


Perlahan Arron membaringkan tubuh Alina ke atas ranjang, namun gadis itu tiba-tiba bangun dan berjalan mendekati lemari. Dia membukanya, memperlihatkan isi lemari kepada Arron. Di sana terdapat beberapa pakaian kerja Arron, dan beberapa pakaian wanita.

__ADS_1


“Aku tidak sengaja melihatnya tadi siang.” Dia berjalan mendekat kea rah Arron dengan langkahnya yang limbung. “Tuan.” Mendongakan wajahnya dan menatap Arron. “Aku tidak menyangka kau menyiapkan semua ini.”


“Aku tidak menyangka kau menyiapkan semua itu. Tuan, berapa banyak wanita yang kau bawa kemari?” imbuh Alina.


Arron menahan tubuh gadis cantik itu agar tidak jatuh lalu memapahnya untuk berbaring kembali di atas ranjang. Semua pakaian itu Arron siapkan untuk Alina, bahkan asisten kecilnya adalah satu-satunya wanita yang Arron bawa ke dalam kamar pribadinya. Tapi Alina malah berpikir sebaliknya.


“Tidurlah.”


Tiba-tiba Alina mengalungkan lengannya pada leher Arron, dan menahan kepergiannya. Dia tersenyum menatap Arron. “Tuan, kenapa kau membuatku bingung? Kau menciumku, mendekatiku lalu tiba-tiba berkata aku milikmu. Kau membuatku bingung sampai tidak bisa tidur.” Alina terkekeh di akhir kalimatnya.


Arron menatapnya dalam. Ternyata itu alasan kenapa Alina tidak tertidur semalam. Dia memikirkan perkataan Arron kepadanya. Apa perkataan Arron kemarin kurang jelas sehingga membuatnya bingung.


“Apa itu? Apa artinya jika aku adalah milikmu?” tanya Alina lagi.


“Ya, kau milikku.”


“Kenapa?”


“Karena aku menyukaimu, Alina.”


“Jika aku milikmu, apa kau akan bebas menciumku, menggendongku, dan memelukku seperti sekarang? Bagaimana dengan aku, apa yang bisa aku lakukan?”


Arron meraih bibir Alina dan meluumatnya. Kali ini, gadis cantik itu membalas ciuman yang Arron merikan. Mereka bermain semakin dalam, bertukar saliva dan saling membelitkan lidah. Tidak ada takut, malu atau perasaan lainya bagi Alina, mabuk membuatnya melangkah dengan berani.


Arron menarik wajahnya dan melepaskan ciuman mereka. “Alina.” Dia menatap wajah merah Alina dengan napas yang tersenggal.


**


Cahaya menyeruak masuk dari sela gorden yang tidak tertutup dengan benar. Sudah pagi hari tapi Alina masih memejamkan kedua matanya. Dia berbalik dan membenahi posisi tidurnya di atas ranjang, tapi seketika lengannya tidak sengaja menyentuh sesuatu yang asing baginya. Dia langsung membuka matanya, mendapati Arron yang tengah tertidur tepat di sampingnya.


Alina menutup mulutnya dengan mata yang terbelalak. Apa yang telah terjadi semalam dan bagaimana dia bisa berakhir tidur di atas ranjang yang sama dengan Arron, dia benar-benar tidak mengingatnya sama sekali.


Dia membenamkan tubuhnya ke dalam selimut, dia meringis ketika mengingat kejadian semalam. Bagaimana bisa dia ceroboh seperti itu dan bertindak berada di hadapan Arron. Habislah sudah.


“Kau sudah bangun?” tanya Arron dengan suara parau. Dia menarik selimut yang menutupi sebagian wajah Alina.


“Tuan maafkan aku semalam aku tidak sadar akan sikapku.”

__ADS_1


“Tidak masalah, aku manyukai kau yang jujur seperti itu.”


Alina hendak bangun, tapi Arron tiba-tiba menahan dan memeluk tubuhnya. “Lima menit saja.”


“Tuan-”


“Diamlah.”


Alina hanya mengingat ketika Arron menciumnya di atas ranjang, kejadian selanjutnya dia benar-benar lupa. Tapi pakaian yang Ia kenakan masih lengkap dan bahkan tidak ada satu kancingpun yang terlepas. Alina yakin tidak ada yang terjadi lagi setelah itu. Dia bisa benapas lega.


--


Di sisi lain, Vano baru saja kembali ke apartmentnya. Dia melemparkan jas yang dikenakannya seharian penuh ini ke atas ranjang lalu mengambil smartphonenya. Karena pekerjaanya yang banyak, Vano sampai lupa untuk menghubungi Alina.


‘Hallo?’


“Alina, apa kau merindukanku?” tanya Vano bersemangat.


‘Hei, aku sedang bekerja.’


Vano melihat layar ponselnya, dan seharusnya ini masih sangat pagi di sana. “Masih sangat pagi, kenapa kau sudah bekerja?”


Tidak ada jawaban dari sana, dan Alina malah mematikan sambungan teleponnya begitu saja.


Vano mengalihkan panggilan suara menjadi panggilan video, tapi Alina malah tidak menjawabnya. Entah apa yang tengah dilakukan oleh gadis itu sampai-sampai mengabaikannya padahal sekarang bukan jam kerja Alina.


Vano membuka sebuah aplikasi untuk mengetahui di mana keberadaan Alina saat ini. Dia terkejut saat menyadari jika gadis kecilnya itu sedang berada di perusahaan Arron. Pantas saja Alina begitu hati-hati.


‘Kau sedang berlembur. Aku tidak akan menganggumu.’ Isi pesan Vano padanya.


Vano mengendurkan dasinya, dan menghempaskan dirinya ke atas ranjang. Dia akan menghubungi Alina lagi nanti untuk membicarakan masalah yang lebih serius. Tapi di sisi lain, Vano juga memikirkan kenapa gadis itu bisa berada di perusahaan Arron pagi-pagi sekali. Apa yang dia lakukan di sana?


“Kakak tidak akan membutuhkan Alina selain untuk menyiapkan kebutuhannya di mansion, bukan?”


Vano menjadi berpikiran macam-macam sekaligus penasaran dengan apa yang sedang terjadi diantara Arron dan juga Alina.


 

__ADS_1


Bersambung ....


Jangan lupa like dan koment yaaa. Tunggu episoda selanjutnya.


__ADS_2