Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 59


__ADS_3

Happy Reading ....


Perlahan Arron membaringkan tubuh Alina ke atas ranjang. Mencium bibir gadis cantik itu dengan begitu lembut. Alina mengalungkan kedua lengannya pada ceruk leher Arron, membalas ciuman kekasihnya.


Jemari Arron mulai membuka satu-persatu kanjing baju yang Alina kenakan. Seketika gadis itu membuka kedua matanya, menatap mata sayu Arron dan merasakan ciuman lembut yang pria itu berikan. Dia  memutuskan untuk memejamkan matanya kembali.


Kini, tidak ada yang dipikirkan Alina selain merasakan kenikmatan yang Arron berikan. Pria itu sudah berhasil membuka seluruh kancing baju miliknya, telapak tangannya dengan lembut meraba dada Alina.


Seketika ciuman mereka terlepas, keduanya bersamaan membuka mata.


Sembari terengah Alina mengatakan, “Aku sudah siap.”


Arron menyentuh lembut pipi Alina, mendekatkan kembali wajahnya dan meraih bibir mungil milik gadis cantik itu. Mereka saling berciuman, bertaut lidah dan bertukar saliva.


“Ehm ….”


Alina meremas rambut legam Arron ketika lengan pria itu dengan lembut mempermainkan dadanya. Alina merasakan sensasi pada tubuhnya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Semakin lama, tubuhnya merasa semakin panas dan tidak terkendali.


Arron melepaskan ciuman mereka, menarik tubuhnya lalu membuka pakaian tidur yang dia kenakan. Memperlihatkan dada bidang yang sangat sempurna. Dari bawah Alina menatapnya, meraba lembut perut sispax milik Arron.


Kemudian Arron kembali menjatuhkan tubuhnya pada tubuh mungil Alina, menciumi setiap inci leher jenjang milik Alina. Gadis cantik itu mengerang, melenguh mendapatkan perlakuan lembut darinya.


Seketika jantung Alina berdebar sangat kencang ketika lengan Arron mencoba membuka celana tidur miliknya. Dia menggigit bibir bagian bawahnya dan memejam erat. Alina terlalu malu membuka mata dan menatap wajah pria yang kini sudah melihat setiap inci bagian tubuhnya.


“Alina, buka matamu,” perintah Arron dengan suara yang berat.


Perlahan Alina membuka matanya, menatap wajah tampan dan sayu tepat di atasnya.


“Aku akan melakukannya dengan lembut.”


Satu lengan Alina menyentuh dada bidang Arron, dan satu lengan lainnya meremas ujung sprei. “Ehm!” erangannya tertahan, dia terus menggigit bagian bawah bibirnya ketika Arron mulai memasuki inti tubuhnya.


Wajah Alina semakin memerah dengan air mata yang mengenang di pelupuk mata karena menahan rasa perih di bawah sana. Arron menatap wajah cantik yang tengah kesakitan itu dengan sedikit iba. Lalu dia mencium dahi, hidung, serta bibir Alina dengan lembut untuk mengalihkan sedikit perhatian gadis itu dari rasa sakitnya.


“Jangan menahannya, Alina,” ucap Arron.


Pria itu memulai permainannya, menghentakan tubuhnya dengan sangat lembut untuk menerobos inti tubuh Alina.


Alina merasakan sesuatu memasuki dirinya semakin dalam, merasakan jika tubuhnya semakin panas dan terbakar. Lengannya tidak tinggal diam, meremas sprei, ujung bantal, bahkan sesekali mencengkram bahu Arron dengan sangat erat.

__ADS_1


Perasaan yang dialami tubuhnya benar-benar aneh, tidak ada rasa malu lagi. Alina juga tidak menahan suaranya lagi, mengerang ketika Arron semakin menaikan ritme hentakannya.


“Ehm … Arron!”


“A-arron!


Arron kembali meraih bibir Alina, sedikit meremas rambut legam gadis cantik itu. Hentakannya semakin kuat, dia memeluk tubuh Alina dan mengerang kuat. Menandakan jika pria tampan itu sudah mencapai klimaksnya.


Dia ambruk di atas tubuh Alina. Keduanya saling terengah, memasok kembali oksigen ke dalam paru-paru mereka. Beberapa menit kemudian, Arron menarik dirinya perlahan dan melepaskan penyatuan tubuh mereka. Membaringkan diri di samping Alina.


Alina langsung memeluk tubuh kekar Arron, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria tampan itu. Dan Arron mencium pucuk kepalanya lembut.


“Kau ingin mandi?” tanya Arron.


“Aku masih lelah,” jawab Alina sembari terus menyembunyikan wajahnya.


Arron beranjak bangun, mengambil handuk lalu memakainya. Sementara Alina semakin menenggelamkan tubuhnya yang masih telanjang bulat ke dalam selimut, sampai tiba-tiba Arron meraih tubuhnya dan membawanya ke dalam gendongan.


“Ah! Apa yang kau lakukan?”


“Membawamu ke kamar mandi.”


**


Dia memeluk lengan Arron erat, bergeser dan membenahi tubuhnya. Gerakan Alina membuat Arron terbangun dan membuka matanya, berbalik dan memeluk kembali tubuh gadis cantik itu.


“Kita harus kembali …,” ucap Alina, memainkan kancing baju tidur Arron.


“Berikan aku sedikit waktu, aku masih mengantuk.”


“Tapi sekarang sudah siang, bukankah kau harus pergi bekerja?”


“Aku bisa menundanya.”


“Arron … aku harus segera kembali,” ucap Alina membujuk pria itu.


Alina tidak kembali semalaman penuh, dan dia takut membuat ibunya khawatir.


“Baiklah ….” Arron mengalah. “Pergi mandi, aku akan memesankan sarapan untukmu.”

__ADS_1


Alina tersenyum, dan mengangguk mengiyakan.


Setengah jam berlalu, Alina dan Arron sudah menyelesaikan acara mandi mereka. Gadis cantik itu juga sudah siap dengan seragam kerjanya. Kini keduanya duduk di atas sofa, memakan sarapan yang sebelumnya sudah Arron pesan.


__


Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya langsung keluar dari kamar hotel. Arron berkata jika dia memiliki rapat pentin hari ini, dan meminta seorang supir untuk mengantarkan Alina kembali. Sebelum pergi Arron juga meminta Alina untuk tidak bekerja hari ini dan pergi beristirahat saja.


“Kau pasti sangat lelah, beristirahatlah,” ucap Arron yang sontak membuat semburat merah pada wajah Alina.


Sama sekali tidak lelah. Pikir gadis cantik itu.


Sesampainya di mansion, Alina langsung kembali ke pavilium belakang, membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia menutupi wajahnya dengan bantal ketika mengingat hal yang dia lakukan bersama Arron tadi malam. Mengingat Arron melihat tubuh polosnya, dan erangan yang dia ciptakan. Itu semua membuat wajahnya memerah.


Dia kembali beranjak, mengambil ponselnya yang dalam laci. Alina membuka aplikasi pesan online, membaca beberapa pesan yang dibuat oleh teman SMA nya di dalam grup. Mereka akan mengadakan sebuah reuni, dan semua alumni diharapkan hadir.


“Reuni? Apa aku harus datang?”


Lalu, dia beralih membuka pesan dari seorang temannya. “Alina, keluar untuk jalan-jalan bersamaku! Jangan terus sibuk bekerja!”


Sebelum membalasnya, Alina mengirimkan sebuah pesan pada Arron untuk meminta ijin kepada pria itu. Dan Arron langsung menyutujuinya ketika Alina mengatakan jika dirinya akan pergi bersama seorang teman wanita.


Dan Alina langsung membalas chat dari temannya. “Baiklah, kita akan bertemu akhir pekan.”


Seketika ada sebuah panggilan masuk, nomor yang tidak dikenal mencoba untuk terhubung dengannya. Alina tidak tahu nomor asing itu, dia juga tidak merasa jika dirinya pernah memberikan nomor ponselnya kepada orang lain selain orang-orang di dalam kontak miliknya.


“Hallo?”


‘Alina?’ Terdengar suara pria dari seberang sana.


“Ya, ini siapa?”


‘Ini pertama kali aku menghubungimu. Alina, putriku.’


Putriku?


To be contiuned ....


Terimakasih sudah setia membaca novel inii...

__ADS_1


***jangan lupa like dan koment yaaa. ***


__ADS_2