Hello, Tuan Muda!

Hello, Tuan Muda!
Episode 47


__ADS_3

Happy Reading ….


 “Cincin?”


Alina menatap kotak berisikan cincin tersebut dengan heran, lalu tak lama menatap Vano untuk mendapatkan jawaban. Kenapa Vano harus memberikannya hadiah perpisahan berupa cincin? Dia bisa saja memberikan Alina boneka atau aksesoris lainya. Kenapa harus cincin?


Arron menatap kedua orang yang berdiri tepat di sampingnya dengan tatapan  tajam. Sebuah cincin? Apa kedua orang itu tengah melakukan adegan lamaran di hadapannya? Sesaat Arron terkekeh pelan. Alina harus ingat dengan isi perjanjian pekerjaan antara dirinya dan juga Arron. Gadis itu tidak bisa terikat dengan siapapun.


“Simpan itu baik-baik, dan jangan sampai kau menghilangkannya. Aku akan menanyakan cincin itu lagi saat aku kembali,” ucap Vano seraya mengusak lembut puncuk rambut Alina. Tapi kemudian, Vano menyadari jika terdapat jepit rambut berwarna merah yang tersemat pada rambut legam gadis itu. “Hei, sejak kapan kau mulai memakai jepit?”


Alina menyentuh jepit rambutnya. “Ah~ ini-”


“Vano,” panggil Arron yang seketika menghentikan ucapan Alina. Arron beranjak dari tempat duduknya, melangkah mendekati Alina dan Vano. “Sebelum kau pergi, aku ingin membicarakan masalah pekerjaan denganmu. Datanglah ke ruang bacaku,” ucap Arron lalu pergi melangkah pergi.


“Baiklah,” jawab Vano. “Ayo, pergi ke mansion bersama.” Ajaknya kepada Alina.


Sangat jelas jika Tuan muda pertama itu sedang menghalangi Alina untuk membicarakan masalah jepit pemberiannya kepada Vano. Arron hanya merasa hal itu tidak perlu dipublikasikan. Padahal pada kenyataanya, Alina adalah gadis pertama yang diberi hadiah pilihan Arron sendiri. Tapi tuan muda itu tidak ingin mengakuinya.


Perjalanan menuju mansion, Arron berjalan di depan Alina dan juga Vano yang sejak tadi sibuk berbincang walau dengan nada yang pelan. Tapi hal itu dapat Arron sadari, dan tingkah keduanya membuat Arron sedikit risih.


“Alina, tunggu di luar,” perintah Arron sebelum masuk ke dalam ruang baca.


“Baik, Tuan muda.”


Alina berdiri di antara dua pelayan wanita yang berjaga di depan pintu. Dia akan menunggu sampai Arron memerlukannya. Tapi selang beberapa menit Alina berdiri di sana, seorang pelayan lain menghampirinya dan menyampaikan jika Nyonya besar ingin bertemu dengannya.


Nyonya besar? Kenapa beliau ingin menemuiku? Apakah aku melakukan kesalahan?


“Baik, aku akan pergi setelah meminta ijin kepada Tuan muda Ron,” jawabnya pada pelayan yang telah menyampaikan pesan tersebut.


Alina  mengetuk pintu ruangan. “Tuan?”


“Masuklah.” Lalu tak lama terdengar suara Arron dari dalam ruangan.


Kemudian, Alina membuka pintu, masuk beberapa langkah ke dalam lalu berkata, “Tuan, Nyonya besar memintaku untuk menemuinya, aku ingin meminta ijin kepadamu.”


Arron mengangguk. “Pergilah.”


“Terimakasih, Tuan.”

__ADS_1


Setelah mendapatkan ijin, Alina langsung melangkah keluar ruangan dan pergi untuk menemui Nyonya besar. Sementara itu, Vano yang mengetahui jika ibunya akan menemui Alina hanya bisa berharap apapun yang terjadi, semoga semuanya akan baik-baik saja.


--


Alina pergi ke taman mansion karena nyonya besar sedang menunggunya di sana. Sesampainya di sana, gadis cantik itu menyapa Monika yang tengah merawat bunga mawar dengan sopan. Monika tersenyum tipis melihat kehadirannya. Lalu, dia meminta Alina untuk duduk tepat di kursi sebelahnya.


“Bagaimana pekerjaanmu? Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Monika seraya terus merawat mawar di atas meja. “Arron tidak menyulitkanmu lagi?”


“Tuan muda begitu baik kepadaku,” jawab Alina dengan segan.


“Baguslah.”


Monika menyimpan tamanan mawarnya di sisi. Lalu, dia mengambil sebuah kotak berukuran sedang dan memberikan itu kepada Alina. Gadis cantik itu tentu saja merasa heran dengan kotak yang Monika berikan.


“Untukmu,” ucap Monika singkat.


Apa ini sebuah hadiah? Pikir Alina dalam hati.


“Setelah kau membukanya, minta ibumu untuk menjelaskan, Alina.”


“Ibu?” Alina semakin merasa heran.


“Apakah kau sudah menerima cincin dari Vano?” tanya Monika.


Monika tersenyum hangat. “Simpan itu baik-baik. Alina ingatlah, apapun yang akan terjadi, kau harus menerimannya dengan baik.”


“Nyonya-”


“Kembalilah,” ucap Monika seolah tidak ingin jika Alina bertanya lebih lanjut.


“Hm, baik.”


Setelah itu, Alina langsung pergi meninggalkan taman. Monika hanya bisa menatap kepergiannya dengan diam hingga bayang-bayang gadis cantik itu pudar ditelan jarak.


Putrimu sudah besar. Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat baik. Batin Monika.


Alina berjalan menuju pavilium belakang untuk menyimpan kotak pemberian nyonya besar serta Vano di dalam kamarnya. Setelah pekerjaannya hari ini selesai, Alina akan langsung membuka kotak itu bersama dengan ibunya. Alina sangat penasaran dengan apa yang terdapat di dalam kotak tersebut.


Setelah urusanya selesai, gadis cantik itu kembali ke mansion dan pergi ke ruang baca untuk menemui Arron. Sesampainya di sana, diua pelayan penjaga mengatakan jika Arron sudah menunggu kehadirannya. Lantas, Ia langsung masuk ke dalam ruangan untuk menemui Arron.

__ADS_1


Kini, di dalam ruangan hanya ada Arron sendiri. Sementara Vano mungkin sudah pergi untuk penerbangannya.


“Kau sudah datang,” ucap Arron. “Siapkan pakaian casual untuk hari ini,” imbuhnya memerintah.


“Casual?” Padahal sebelumnya Alina sudah menyiapkan pakaian untuk Arron bekerja.


“Aku tidak bekerja, kau tidak perlu menyiapkan pakaian kerjaku.”


“Baik, Tuan, aku akan segera menyiapkannya.”


Tiba-tiba saja ponsel Arron berdering, nama Daisy tertuliskan pada layar utama.


“Hallo, Daisy?” jawab Arron.


Alina langsung menatap Arron ketika nama Daisy disebutkan.


“Kakak, aku menghubungi sekretarismu dan dia mengatakan kau tidak bekerja hari ini. Kakak, bagaimana jika kita menghabiskan waktu bersama?” ucap Daisy dari seberang telepon sana.


“Daisy, aku memiliki pekerjaan di tempat lain, tidak bisa menemanimu. Maafkan aku.”


Lalu, Arron langsung menutup sambungan telepon dan menyimpan ponselnya kembali di atas meja. Semakin lama, sepertinya Daisy semakin menghantui kehidupannya. Padahal selama ini Arron menghargainya karena Arron selalu ingat jika gadis itu telah menyelamatkan nyawanya dulu ketika mereka masih anak-anak. Tidak disangka jika Daisy akan terus menempel seperti ini kepadanya.


“Alina, siapkan pakaian kerja.” Dia menatap Alina intens. “Dan ganti pakaianmu, temani aku pergi hari ini.”


“Ya?” Gadis cantik itu terkejut. Pergi? Apakah Tuan muda akan membawaku pergi bekerja?


**


Tuan muda pertama itu memakai pakaian kerja, tapi dia pergi tanpa menggunakan supir seperti biasanya. Arron mengemudikan mobilnya sendiri, dan Alina duduk tepat di sampingnya. Alina mengenakan sebuah jeans berwarna hitam dengan sweeter bergambarkan kucing andalannya. Stelan seperti ini juga pernah dia gunakan ketika pergi bersama Vano malam itu.


Selama perjalanan, Alina terus menundukan wajahnya karena gugup. Padahal dia sangat ingin bertanya kepada Arron kemana mereka akan pergi hari ini. Tapi bibirnya terlalu kaku untuk mengatakan sebuah kalimat.


“Alina,” panggil Arron yang langsung membuat Alina menoleh ke arahnya. “Kau ingin pergi kemana hari ini?”


“Ya? Aku?”


Bukankah seharusnya Alina yang bertanya ….


 

__ADS_1


Bersambung ....


Hallo, jangan lupa like dan koment untuk menyemangati Author yaa ....


__ADS_2